Siswa SD Di Beutong, Menantang Maut Setiap Mau Ke Sekolah

Gambar : Menantang maut, Siswi SD 2 Beutong Ateuh, Nagan Raya, saat meniti jembatan gantung darurat berbahan kabel dan sangat berbahaya menuju ke sekolah, Senin (30/3/2026).
Hujan yang turun sepanjang malam masih meninggalkan jejak di Beutong Ateuh Banggalang, Kabupaten Nagan Raya, Senin pagi, 30 Maret 2026. Di antara lembah dan jajaran pegunungan tropis, aktivitas warga mulai bergerak perlahan setelah kawasan tersebut diguyur hujan deras.
Aliran sungai yang keruh terdengar menggelegar dari kejauhan. Air berwarna cokelat mengalir deras, sementara kepulan asap tipis terlihat dari sejumlah rumah beratap seng.
Hari itu seharusnya menjadi awal kembalinya kegiatan belajar setelah libur Lebaran Idul Fitri 1447 Hijriah. Akan tetapi, hingga pukul 08.00 WIB, suasana di SD Negeri 2 Beutong Ateuh, Desa Blang Meurandeh, belum menunjukkan kesibukan seperti hari sekolah pada umumnya.
Barulah sekitar setengah jam kemudian, anak-anak mulai berdatangan.
Dengan seragam merah putih, mereka keluar dari jalan-jalan kecil di permukiman dan berjalan menuju sekolah. Sebagian harus melewati badan jalan yang mengalami kerusakan dan ambles akibat bencana beberapa bulan sebelumnya.
Bagi siswa yang tinggal di Desa Blang Puuk, perjalanan tersebut belum selesai meskipun jalan rusak telah mereka lewati.
Ada satu rintangan lain yang menunggu sekitar 300 meter dari sekolah: sebuah jembatan gantung yang sebagian besar konstruksinya telah hancur.
Jembatan yang dibangun pada 2008 tersebut tidak lagi memiliki lantai. Banjir bandang yang melanda kawasan itu pada akhir November 2025 menyeret bagian lantai hingga tidak tersisa.
Yang terlihat kini hanya rangka besi dan kawat yang menggantung di atas sungai.
Untuk tetap memiliki akses menuju sekolah, warga membuat lintasan sementara dengan memanfaatkan kabel listrik bekas. Kabel-kabel berwarna hitam tersebut disusun dan diikat hingga membentuk jalur seling.
Dua batang bambu kemudian dipasang sebagai pijakan.
Konstruksi sederhana itulah yang harus digunakan sekitar 60 siswa setiap hari untuk pergi dan pulang sekolah.
Pada pukul 09.06 WIB, Aqifa Naila, siswi kelas 4 SD Negeri 2 Beutong Ateuh, bersama Dini, siswa kelas 5 yang berasal dari Desa Blang Puuk, terlihat memasuki jalur tersebut.
Keduanya tidak dapat berjalan seperti biasa. Tangan mereka terus berpegangan pada kabel baja utama yang permukaannya telah kasar dan berkarat. Setiap langkah di atas bambu harus dilakukan dengan penuh perhitungan.
Di bawah mereka, air sungai mengalir deras.
Sekitar 15 menit diperlukan untuk mencapai sisi seberang. Dalam perjalanan, keduanya beberapa kali berhenti untuk mengatur kembali posisi tubuh dan pakaian yang tersangkut pada bagian konstruksi jembatan.
Ketika semakin dekat dengan ujung jembatan, pijakan justru menjadi lebih sulit.
Dini kemudian menurunkan tas sekolah dari punggungnya. Ia berjongkok untuk memperoleh posisi tubuh yang lebih seimbang sebelum kembali melanjutkan perjalanan di atas kabel dan bambu yang bergoyang.
Bagi Aqifa, kondisi tersebut tidak lagi sepenuhnya asing.
“Tidak takut, karena sudah terbiasa. Awal-awal dulu iya terasa takut, tapi karena sudah sering dan harus melewati jembatan untuk sekolah, jadi sudah berani,” ujarnya.
Banjir yang menghancurkan akses menuju sekolah juga merusak rumah Aqifa. Meski demikian, ia tetap datang ke sekolah.
Di tengah kerusakan sejumlah fasilitas pendidikan, SD Negeri 2 Beutong Ateuh masih menjadi sekolah permanen yang beroperasi di kawasan tersebut. SMP Negeri Beutong dan SD Negeri Beutong Ateuh termasuk bangunan pendidikan yang terdampak dan hancur akibat banjir.
Plt. Kepala SD Negeri 2 Beutong Ateuh, Muhammad Daman, menyebut jumlah peserta didiknya mencapai sekitar 84 orang. Sebagian besar berasal dari Blang Puuk, sedangkan lainnya berasal dari Blang Meurandeh.
Menurut Daman, siswa kelas 1 dan 2 menghadapi persoalan tersendiri karena tidak semuanya mampu melewati akses tersebut secara mandiri.
“Kalau murid kelas 1 sampai kelas 2 tidak diantar orang tua, ya mereka tidak bersekolah,” katanya.
Daman pun merasakan langsung persoalan tersebut. Rumahnya ikut terdampak banjir dan dalam perjalanan sehari-hari menuju sekolah ia harus menggunakan jalur yang sama.
“Jembatan ini sangat penting bagi dunia pendidikan di Beutong Ateuh, khususnya bagi siswa yang berangkat ke sekolah,” ujar Daman.
Enam Kelas dalam Tiga Ruangan

Gambar : SD 2 Beutong Ateuh pasca bencana
Beutong Ateuh menghadapi persoalan pendidikan yang berbeda di Desa Kuta Tengoh.
Di sana, siswa SD Negeri 1 Beutong dan SMP Negeri Beutong tidak lagi belajar di gedung sekolah sebelumnya. Mereka menempati bangunan sementara yang dibuat dari papan dengan atap seng.
Bangunan tersebut didirikan di atas lahan sawah yang telah ditimbun.
Keterbatasan ruang menjadi persoalan utama. Hanya tersedia tiga ruang belajar untuk enam kelas SD. Pada waktu tertentu, tempat yang sama juga digunakan oleh siswa SMP.
Satu ruang berukuran sekitar 4 x 5 meter harus menampung kegiatan pembelajaran tanpa sekat yang memisahkan masing-masing kelas.
Akibatnya, suara dari satu kelas dengan cepat bercampur dengan kelas lainnya. Guru harus mengajar di tengah suara siswa yang saling bersahutan.
Kondisi tersebut terlihat ketika para murid mendapat tugas menulis pengalaman mereka saat banjir terjadi.
Tidak semua siswa langsung berkonsentrasi. Beberapa anak masih bermain dan melompat di atas tumpukan bangku yang tidak digunakan.
Guru kemudian meminta mereka kembali ke tempat masing-masing.
Setelah keadaan lebih tenang, para siswa mengambil tas dan mulai menulis. Di luar bangunan, tanah sawah yang basah masih mengeluarkan aroma lumpur yang kuat.
Bagi para guru, kegiatan belajar dalam situasi seperti ini membutuhkan penyesuaian besar.
Ernawati, guru SD Negeri 1 Beutong Ateuh, mengatakan para pengajar harus mengubah pola pembelajaran karena keterbatasan ruangan.
“Terpaksa kami harus gabung kelas menjadi tiga ruang untuk enam kelas. Sembilan ruangan sekolah kami di Kuta Tengoh hancur,” kata Ernawati, Selasa (31/3/2026).
Menurutnya, jadwal sekolah tetap dijalankan. Namun, mengajar beberapa jenjang dalam ruangan yang sama membuat proses pembelajaran menjadi lebih kompleks.
Materi yang diberikan kepada siswa kelas 1 dan kelas 2, misalnya, tidak sama. Ketika dua kelompok tersebut harus berada dalam satu ruang, guru harus membagi perhatian dan mengatur proses pembelajaran secara bersamaan.
Persoalan lain muncul karena lokasi sekolah sebelumnya dianggap sudah tidak memungkinkan untuk kembali digunakan.
“Bangunan di sana menurut kami tidak layak lagi untuk dibangun sekolah karena sudah jadi sungai,” ungkap Ernawati.
Belajar Setelah Bencana

Gambar : Kegiatan Belajar Mengajar di SDN Beutong, dengan kondisi sangat memprihatinkan dan tidak layak.
Beberapa bulan setelah banjir bandang, persoalan pendidikan di Beutong Ateuh belum hanya menyangkut bagaimana membangun kembali gedung sekolah.
Anak-anak juga masih berhadapan dengan akses yang rusak.
Di satu sisi, siswa SD Negeri 2 Beutong Ateuh harus menyeberangi jalur darurat yang dibuat dari kabel dan bambu. Di sisi lain, siswa SD Negeri 1 Beutong dan SMP Negeri Beutong mengikuti pelajaran di bangunan sementara dengan ruang yang terbatas.
Banjir bandang pada akhir November 2025 meninggalkan kerusakan di berbagai sisi kehidupan warga. Rumah mengalami kerusakan, akses jalan terputus, jembatan hancur, dan bangunan sekolah tidak lagi dapat digunakan sebagaimana mestinya.
Namun kegiatan pendidikan tetap berjalan.
Guru kembali berada di depan kelas. Anak-anak kembali membawa buku dan tas. Sebagian datang melalui jalan yang belum sepenuhnya pulih, sementara sebagian lainnya harus berbagi ruang belajar dengan beberapa kelas sekaligus.
Di tempat yang fasilitasnya belum kembali seperti semula, kegiatan sekolah menjadi bagian dari proses pemulihan masyarakat.
Setiap perjalanan menuju sekolah menjadi pengingat bahwa bencana belum sepenuhnya selesai. Tetapi pada saat yang sama, keberangkatan anak-anak setiap pagi menunjukkan bahwa aktivitas pendidikan terus diupayakan meski berlangsung dalam keterbatasan.
Di Beutong Ateuh, sekolah saat ini bukan hanya tempat berlangsungnya proses belajar mengajar. Ia juga menjadi bagian dari upaya warga untuk kembali menata kehidupan setelah bencana.
