Viral di Medsos, Jembatan Krueng Meureudu Akhirnya Bisa Dilintasi, Pemulihan Dinilai Terlambat dan Sekadar Tambal Sulam

Foto dari udara kawasan jembatan penghubung lintas timur Aceh atau jembatan Krueng Meureudu, Kecamatan Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya yang dikabarkan sudah bisa dilintasi kembali sejak Jum’at (12/12/2025). (foto:dok.Sumber RRI/Wahyudin Albra).
THE ATJEHNESE – Setelah berminggu-minggu memutus akses utama lintas timur Aceh, Jembatan Krueng Meureudu di Kecamatan Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya, akhirnya kembali dapat dilintasi kendaraan. Kepastian ini justru lebih dulu diketahui publik melalui video yang beredar luas di media sosial, bukan melalui penjelasan resmi pemerintah sejak awal.
Jembatan tersebut merupakan salah satu urat nadi transportasi di lintas timur Aceh, menghubungkan Banda Aceh–Pidie Jaya hingga Kabupaten Bireuen. Sebelumnya, akses ini lumpuh total setelah oprit jembatan putus diterjang banjir bandang, memaksa kendaraan termasuk angkutan logistik dan layanan darurat menggunakan jalur alternatif yang lebih jauh, sempit, dan berisiko.
Sejak Jumat, 12 Desember 2025, sejumlah warganet Aceh mengunggah video yang menunjukkan kendaraan sudah dapat melintasi jembatan tersebut. Video itu dengan cepat menyebar dan menjadi sumber utama informasi publik, memperlihatkan betapa lemahnya komunikasi krisis pemerintah dalam situasi darurat.
Kepastian resmi baru menyusul kemudian. Rita Marleni, PPK 1.2 Balai Pelaksana Jalan Nasional Aceh, membenarkan bahwa penanganan sementara oprit jembatan telah dilakukan dan jembatan kembali difungsikan.
“Penanganan sementara terhadap kerusakan oprit Jembatan Krueng Meureudu sudah dilakukan. Alhamdulillah, jembatan mulai fungsional dan kembali dibuka,” ujarnya, Sabtu (13/12/2025).
Oprit Jembatan Krueng Meureudu berada di ruas Jalan Meureudu–Pidie Jaya, jalur strategis menuju Bireuen dan wilayah sekitarnya. Sebelum dibuka kembali, BPJN Aceh melakukan sejumlah langkah darurat seperti penimbunan oprit dan pemasangan batu boulder untuk menahan gerusan air dan mempercepat pemulihan jalur nasional Lintas Timur Aceh.
Namun fakta di lapangan memunculkan kritik. Progres penanganan yang dilaporkan pada Kamis, 4 Desember 2025 baru mencapai sekitar 25 persen, dengan estimasi pengerjaan 10 hari. Artinya, pembukaan kembali jembatan dilakukan saat pekerjaan masih bersifat sementara bukan pemulihan permanen di tengah risiko cuaca ekstrem yang belum sepenuhnya mereda.
BPJN Aceh juga mengklaim telah menyelesaikan pembersihan jalan pendekat jembatan dari lumpur tebal sisa banjir bandang. Meski langkah ini patut diapresiasi, publik menilai penanganan tersebut cenderung reaktif dan tambal sulam. Infrastruktur vital dibuka kembali tanpa penjelasan rinci soal standar keselamatan, daya tahan struktur sementara, dan rencana pemulihan jangka panjang.
Keterlambatan penanganan berdampak nyata bagi masyarakat. Selama jembatan putus, biaya logistik meningkat, waktu tempuh membengkak, dan mobilitas warga terganggu. Ironisnya, informasi pembukaan kembali justru lebih dulu diketahui lewat media social menegaskan kegagalan negara dalam mengelola informasi publik pada masa krisis.
Pembukaan kembali Jembatan Krueng Meureudu memang memberi napas lega sementara. Namun tanpa percepatan perbaikan permanen dan mitigasi banjir yang serius di hulu–hilir, jalur vital ini berpotensi kembali lumpuh pada hujan berikutnya. Publik kini menanti bukan sekadar “bisa dilintasi”, melainkan jaminan keselamatan dan keberlanjutan sesuatu yang seharusnya menjadi tanggung jawab negara sejak awal.
