UIN Lhokseumawe Terapkan Daring Akibat Banjir, Perkuliahan Dialihkan ke Sistem Daring

Universitas Islam Negeri Sultanah Nahrasiyah (UIN SUNA) Lhokseumawe. (foto/ dok:UIN SUNA)
THE ATJEHNESE – Cuaca ekstrem berupa hujan deras yang melanda Kota Lhokseumawe dan wilayah sekitarnya dalam beberapa hari terakhir memaksa Universitas Islam Negeri Sultanah Nahrasiyah (UIN SUNA) mengambil langkah preventif. Untuk melindungi keselamatan dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa, kampus resmi memberlakukan skema Work From Anywhere (WFA) selama tiga hari, terhitung 26–28 November 2025.
Kebijakan ini tertuang dalam Pengumuman Rektor Nomor B-1488/Un.35/R/KP.0.2/11/2025, terkait penyesuaian kegiatan akademik dan administrasi selama kondisi darurat banjir. Rektor UIN SUNA, Prof. Dr. Danial, M.Ag, menegaskan bahwa seluruh aktivitas kampus tetap berjalan, namun dialihkan sepenuhnya ke mode daring.
“Perkuliahan selama WFA berlangsung secara online. Absensi dosen dan tenaga kependidikan dilakukan melalui sistem Work From Anywhere agar layanan akademik tetap berjalan tanpa hambatan,” ujarnya pada Rabu (26/11/2025).
Menyesuaikan Kondisi Dosen, Mahasiswa, dan Tenaga Kependidikan
Dalam keterangannya, Rektor menjelaskan bahwa penyesuaian ini dilakukan agar seluruh pihak yang terdampak banjir tetap dapat menjalankan aktivitas akademik tanpa harus mempertaruhkan keselamatan. Beberapa wilayah di Lhokseumawe terendam banjir dengan ketinggian air yang cukup signifikan, sehingga mobilitas banyak warga terganggu.
Tenaga kependidikan yang terdampak banjir diarahkan untuk berkoordinasi dengan atasan masing-masing terkait penyesuaian tugas dan laporan kehadiran. Kebijakan fleksibel ini dinilai memberi ruang aman bagi para pegawai yang rumahnya berada di zona banjir atau sulit dijangkau kendaraan.
WFA Dinilai Efektif dan Tidak Mengurangi Kualitas Akademik
Sejumlah mahasiswa menyambut positif kebijakan tersebut. Selain menjaga keselamatan, metode WFA dianggap jauh lebih memudahkan proses pembelajaran selama situasi darurat. Metode ini sangat memudahkan mahasiswa dan tidak mengurangi kualitas pembelajaran, sehingga diharapkan bisa diterapkan untuk beberapa waktu ke depan, terutama selama kondisi cuaca ekstrem masih berlangsung.
Pada masa banjir sebelumnya, beberapa mahasiswa dilaporkan kesulitan mengikuti perkuliahan luring karena akses jalan terputus atau rumah mereka terendam. WFA menjadi penyesuaian yang dinilai paling masuk akal dan efisien di tengah kondisi darurat.
Imbauan Keselamatan dan Informasi Cuaca
Pihak kampus juga mengimbau seluruh sivitas akademika agar tetap mengutamakan keselamatan, menghindari perjalanan melalui titik banjir parah atau lokasi berarus kuat, serta selalu mengikuti perkembangan informasi resmi dari BMKG.
Dengan kondisi cuaca yang belum menunjukkan tanda stabil, pihak kampus menegaskan bahwa kebijakan lanjutan akan dipertimbangkan menyusul kondisi lapangan, termasuk kemungkinan perpanjangan WFA apabila situasi masih belum kondusif.
