Tiga Jembatan Rangka Baja di Aceh Tenggara Putus Dihantam Banjir, Akses Transportasi Lumpuh Total

0

Kondisi jembatan rangka baja yang terputus dan amblas. Foto: (Dokumen warga).

THE ATJEHNESE – Hujan deras yang mengguyur wilayah Aceh Tenggara selama tiga hari berturut-turut membawa dampak serius bagi infrastruktur utama di daerah tersebut. Derasnya aliran sungai yang meluap tidak hanya merendam permukiman, tetapi juga menghancurkan tiga jembatan rangka baja yang menjadi akses penting penghubung antar-kecamatan.

Kalaksa Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Tenggara, Mohd Asbi, menyampaikan bahwa tiga jembatan yang putus itu masing-masing berada di:

  • Jembatan Mbarung, Kecamatan Babusalam
  • Jembatan Natam, Kecamatan Darul Hasanah
  • Jembatan Salim Pipit, Kecamatan Babul Rahmah

“Data sementara menunjukkan tiga jembatan rangka baja putus total. Akibatnya transportasi antarwilayah lumpuh sama sekali,” ujar Asbi, Kamis (27/11/2025). Ia menambahkan bahwa petugas saat ini masih melakukan pendataan, dan jumlah titik terdampak kemungkinan besar akan bertambah.

  • Badan Jalan Amblas Hingga Puluhan Meter

Selain jembatan yang hanyut atau patah akibat tekanan air, kerusakan juga terjadi pada badan jalan nasional Kutacane–Blangkejeren. Di Desa Ketambe, badan jalan amblas sepanjang sekitar 50 meter sehingga tidak dapat dilalui kendaraan.

Tak jauh dari sana, badan jalan di bawah jembatan Silayar di Desa Pedesi, Kecamatan Bambel, ikut ambruk, memutus akses masyarakat yang sehari-hari bergantung pada jalur tersebut untuk aktivitas ekonomi dan kesehatan.

Pihak BPBD menyebutkan bahwa hujan intens yang turun sejak 25–27 November 2025 telah membuat sebagian besar Daerah Aliran Sungai (DAS) di Aceh Tenggara meluap. Genangan air melanda sembilan kecamatan dan ribuan warga harus mengevakuasi diri ke lokasi aman.

  • Kerusakan Dianggap Dampak dari Masalah yang Lebih Besar

Sejumlah pemerhati lingkungan dan warga menilai bahwa bencana kali ini semakin parah karena adanya faktor-faktor yang sudah lama menjadi kekhawatiran publik. Ini semua terjadi karena kurang cepat tanggapnya pemerintah dalam menangani persoalan banjir serta maraknya penebangan hutan yang sangat merajalela, sehingga memperburuk daya serap tanah dan meningkatkan risiko banjir bandang di wilayah hulu.

Kerusakan hutan di daerah pegunungan Aceh Tenggara sudah berulang kali diingatkan oleh berbagai pihak, namun mitigasi dan penindakan dianggap belum maksimal. Dampaknya kini dirasakan langsung masyarakat dalam bentuk rusaknya infrastruktur vital dan terganggunya aktivitas harian dalam skala besar.

  • Petugas Masih Berjuang di Lapangan

Hingga Kamis malam, tim gabungan dari BPBD, TNI–Polri, relawan, dan masyarakat masih berada di lapangan melakukan penyisiran serta pengamanan di titik rawan. Evakuasi warga di daerah yang terisolasi terus dilakukan, sementara jalur transportasi darat dalam kondisi macet total akibat putusnya jembatan.

BPBD mengimbau warga agar tetap waspada terhadap potensi banjir susulan mengingat hujan diprediksi masih akan turun di beberapa wilayah Aceh Tenggara dalam satu hingga dua hari ke depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *