Saat Negara Lambat Hadir, Solidaritas Warga Bergerak, Keuchik Baro Paya Borong Cabai Petani Terdampak Banjir Aceh Tengah

0

Keuchik Baro Paya, Kecamatan Panton Reu, Aceh Barat membeli cabai petani Aceh Tengah. Foto : Dokumen Pribadi.

THE ATJEHNESE – Di tengah belum pulihnya dampak banjir dan longsor yang melanda sejumlah wilayah Aceh, solidaritas justru tumbuh dari akar rumput. Keuchik Desa Baro Paya, Kecamatan Panton Reu, Kabupaten Aceh Barat, Agus Sari Malem, memborong 110 kilogram cabai merah milik petani dari Kabupaten Aceh Tengah yang datang menjual hasil panen ke Meulaboh.

Langkah ini dilakukan bukan semata transaksi jual beli, melainkan inisiatif kemanusiaan untuk membantu petani Aceh Tengah—khususnya wilayah Takengon—yang terdampak bencana, sekaligus meringankan beban warga Aceh Barat yang juga masih bergulat dengan dampak banjir dan longsor.

Agus menyebutkan, cabai merah tersebut dibeli dengan harga Rp20 ribu hingga Rp25 ribu per kilogram, bahkan di atas harga pembelian distributor. Keputusan ini diambil secara sadar agar petani tidak terus terjepit oleh harga pasar yang kerap jatuh saat panen melimpah, terlebih dalam kondisi pascabencana.

“Cabai ini milik petani dari Aceh Tengah. Kita tahu bersama, di Takengon sekarang cabainya banyak, tapi mereka juga terkena musibah banjir dan longsor. Kita beli ini sebagai bentuk membantu mereka,” ujar Agus, Selasa (23/12/2025).

Langkah Agus sekaligus menyoroti ketiadaan skema perlindungan harga dan distribusi hasil pertanian dari pemerintah di tengah situasi darurat. Di saat negara seharusnya hadir dengan kebijakan penyerapan hasil panen petani terdampak bencana, inisiatif justru datang dari kepala desa dengan dana dan daya terbatas.

Cabai merah yang dibeli tersebut tidak untuk dijual kembali. Agus memastikan seluruh cabai akan dibagikan secara gratis kepada warga Desa Baro Paya, dengan alokasi 1 hingga 2 kilogram per Kartu Keluarga (KK). Langkah ini dimaksudkan untuk membantu masyarakat setempat yang juga terdampak banjir dan mengalami tekanan ekonomi akibat naik-turunnya harga bahan pokok.

“Cabai ini akan saya bagikan kepada warga Desa Baro Paya. Tujuannya untuk meringankan beban masyarakat yang terkena dampak banjir dan longsor di Aceh Barat,” katanya.

Agus menegaskan bahwa cabai tersebut dibeli langsung dari petani Aceh Tengah yang datang ke Meulaboh, tanpa perantara, dan dengan harga yang lebih adil. Menurutnya, langkah ini adalah bentuk perlawanan sunyi terhadap sistem distribusi yang kerap merugikan petani kecil, terutama dalam situasi bencana.

“Kita beli cabai ini juga sebagai bentuk saling peduli dan saling membantu sesama masyarakat yang baru saja dilanda musibah banjir dan longsor,” ujar Agus.

Apa yang dilakukan Keuchik Baro Paya menjadi potret kontras di tengah krisis: ketika pemerintah sibuk pada rapat, laporan, dan pendataan, masyarakat justru bergerak cepat dengan aksi nyata. Inisiatif ini menunjukkan bahwa solidaritas sosial masih bekerja, meski perlindungan struktural dari negara belum sepenuhnya hadir.

Langkah Agus bukan solusi jangka panjang. Namun ia menjadi pengingat keras bahwa penanganan bencana tidak hanya soal bantuan logistik, melainkan juga menjaga martabat petani, keadilan harga, dan keberlanjutan ekonomi rakyat kecil. Jika solidaritas warga mampu bergerak sejauh ini, pertanyaannya tinggal satu: di mana negara, dan mengapa selalu datang belakangan?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *