Saat Negara Diam, Lazisnu dan Unimal Serta Rakyat Bergerak Selamatkan Korban Banjir Aceh

0

Unimal bersama LAZISNU, menyalurkan bantuan kemanusiaan bagi masyarakat terdampak banjir di Gampong Blang Peuria, Kecamatan Samudera, serta Gampong Cot Ara, Kecamatan Baktiya, Kabupaten Aceh Utara. (foto/dok:Unimal).

THE ATJEHNESE – Di tengah lumpuhnya kehidupan warga akibat banjir yang melanda sejumlah wilayah di Aceh Utara dan Aceh Timur, Universitas Malikussaleh (Unimal) kembali menunjukkan peran sosialnya. Melalui kerja sama dengan Lembaga Amil Zakat, Infak, dan Sedekah Nahdlatul Ulama (LAZISNU), Unimal menyalurkan bantuan kemanusiaan kepada warga terdampak di Gampong Blang Peuria, Kecamatan Samudera, serta Gampong Cot Ara, Kecamatan Baktiya, Aceh Utara. Bantuan serupa juga disalurkan kepada masyarakat Gampong Blang Nie, Kecamatan Simpang Ulim, Aceh Timur.

Di tengah keterbatasan dan lambannya respons struktural negara, kehadiran kampus dan organisasi masyarakat sipil menjadi tumpuan harapan warga. Bantuan yang disalurkan tidak hanya berupa logistik, tetapi juga tenaga dan solidaritas kemanusiaan yang nyata.

Bantuan tersebut bersumber dari LAZISNU dan disalurkan melalui Ketua Posko NU Peduli Lhokseumawe, Dr. Teuku Kemal Fasya. Ia menegaskan bahwa bantuan ini merupakan bentuk tanggung jawab moral dan kemanusiaan terhadap warga yang terdampak bencana, sekaligus wujud nyata peran sosial perguruan tinggi di tengah krisis.

“Bantuan ini adalah bentuk kepedulian terhadap saudara-saudara kita yang terdampak banjir. Kami berharap logistik yang disalurkan bisa membantu kebutuhan dasar dan meringankan beban mereka dalam masa pemulihan,” ujar Kemal, Senin (29/12/2025).

Tak hanya menyalurkan bantuan, mahasiswa Program Studi Antropologi Universitas Malikussaleh juga terjun langsung ke lapangan. Mereka membantu membersihkan fasilitas umum seperti sekolah, meunasah, dan lingkungan pemukiman warga yang terdampak lumpur dan genangan air. Aktivitas ini menjadi bentuk solidaritas nyata di saat banyak warga masih berjuang memulihkan kehidupan sehari-hari.

Kondisi di lapangan menunjukkan bahwa banjir bukan sekadar peristiwa alam, melainkan krisis kemanusiaan yang meninggalkan dampak serius terhadap kehidupan sosial masyarakat. Banyak aktivitas warga lumpuh, akses pendidikan terganggu, dan kebutuhan dasar sulit dipenuhi. Namun ironisnya, di tengah kondisi tersebut, kehadiran negara justru terasa minim.

Bantuan logistik yang disalurkan meliputi pakaian layak pakai, bahan makanan pokok, serta kebutuhan dasar lainnya. Bantuan ini diharapkan dapat menjadi penyangga sementara bagi warga yang masih berjuang memulihkan kondisi pascabanjir.

“Kami berterima kasih kepada seluruh relawan, mahasiswa, dan masyarakat yang terlibat. Sinergi seperti ini sangat penting agar bantuan benar-benar sampai kepada mereka yang membutuhkan,” tambah Kemal.

Namun di balik kerja kemanusiaan ini, muncul pertanyaan besar: di mana peran negara? Mengapa beban kemanusiaan terus dipikul oleh kampus, relawan, dan masyarakat sipil, sementara kehadiran pemerintah sering kali terlambat atau bersifat simbolik?

Kondisi ini menunjukkan bahwa penanganan bencana belum sepenuhnya berpihak pada warga. Tanpa pembenahan serius terhadap tata kelola lingkungan, mitigasi bencana, dan kecepatan respons negara, tragedi serupa akan terus berulang.

Unimal dan para relawan mungkin mampu meringankan luka hari ini, tetapi tanpa kebijakan yang berpihak pada rakyat dan lingkungan, luka yang sama akan kembali terbuka di masa depan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *