Persiraja Tetap Berlatih di Tengah Aceh Gelap dan Pascabencana, Profesionalisme Tim Berjalan Saat Negara Dinilai Lalai

0

Para pemain Persiraja saat menjalani latihan (dok/persiraja.id).

THE ATJEHNESE – Di tengah situasi Aceh yang belum sepenuhnya pulih dari dampak bencana hidrometeorologi, Persiraja Banda Aceh memilih tetap bergerak. Klub kebanggaan masyarakat Aceh itu melanjutkan persiapan menghadapi lanjutan Pegadaian Championship 2025/26, meski harus berlatih dalam kondisi yang jauh dari ideal—mulai dari gangguan listrik hingga pemulihan daerah yang berjalan lamban.

Pelatih Persiraja, Akhyar Ilyas, menegaskan bahwa fokus utama tim saat ini adalah mengembalikan kondisi fisik pemain usai jeda kompetisi sejak akhir November lalu. Program latihan disusun menyerupai fase pramusim, dengan penekanan pada kebugaran dasar sebelum masuk ke pematangan taktik.

“Sejauh ini latihan berjalan cukup baik. Kami mulai dari peningkatan kondisi fisik, seperti pre season. Memang di minggu pertama ada kendala karena musibah. Beberapa pemain terdampak langsung sehingga tidak bisa langsung berkumpul setelah libur,” ujar Akhyar, Minggu (21/12/2025).

Seiring waktu, kondisi skuad mulai membaik. Para pemain inti, termasuk Miftahul Hamdi dan rekan-rekannya, kini telah kembali bergabung penuh dan mengikuti program latihan secara maksimal. Meski demikian, situasi di luar lapangan masih menjadi tantangan serius.

Akhyar secara terbuka mengakui bahwa kondisi Aceh pascabencana sangat memengaruhi kesiapan tim, terutama terkait pemulihan fisik pemain. Gangguan listrik yang kerap terjadi disebut berdampak langsung pada kualitas istirahat, termasuk di mess pemain.

“Kondisi Aceh tentu berpengaruh. Ada pemain yang tidak bisa istirahat dengan baik karena listrik sering padam. Di mess juga sering mati lampu, dan itu berdampak pada jam istirahat pemain,” ungkapnya.

Situasi ini menimbulkan ironi. Di saat klub profesional dituntut menjaga performa dan standar kompetisi nasional, infrastruktur dasar justru belum mampu dijamin oleh negara. Pemadaman listrik berulang di wilayah yang sedang memulihkan diri dari bencana mencerminkan lemahnya manajemen krisis dan minimnya prioritas terhadap sektor-sektor strategis, termasuk olahraga profesional.

Meski demikian, Akhyar menegaskan bahwa kondisi tersebut tidak dijadikan alasan oleh timnya. Persiraja tetap memilih jalan profesional, meski harus beradaptasi dengan keterbatasan yang seharusnya tidak mereka tanggung.

“Kita tidak menjadikan ini sebagai alasan. Kita tetap menjalani latihan seperti biasa,” tegas pelatih berlisensi AFC A itu.

Ia juga menekankan pentingnya sikap mental pemain di tengah situasi sulit. Menurutnya, profesionalisme justru diuji ketika kondisi tidak ideal.

“Kami tekankan kepada pemain untuk tetap profesional. Pemain harus cepat beradaptasi, pintar menjaga kondisi, dan tidak larut dengan situasi. Kalau tidak, justru akan memperburuk kondisi fisik,” katanya.

Apa yang dilakukan Persiraja menunjukkan kontras yang tajam: di satu sisi, klub dan pemain berjuang keras menjaga profesionalisme; di sisi lain, negara belum sepenuhnya hadir memastikan lingkungan yang layak bagi aktivitas olahraga, bahkan di level dasar seperti listrik dan pemulihan pascabencana.

Pada Desember 2025 ini, Persiraja hanya dijadwalkan menjalani satu pertandingan, yakni laga tandang menghadapi Garudayaksa FC pada 29 Desember di Stadion Pakansari. Pertandingan ini menjadi ujian bukan hanya bagi kesiapan fisik tim, tetapi juga bagi daya tahan mental pemain yang berlatih di tengah keterbatasan.

Ketika klub tetap berlari meski listrik padam dan daerah belum pulih, pertanyaan publik pun mengemuka: sampai kapan profesionalisme atlet harus menutup kegagalan negara dalam memastikan pemulihan yang adil dan menyeluruh?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *