Pelabuhan Jadi Jalur Pasokan LPG Alternatif

0

Kapal Aceh Hebat 2 saat hendak merapat di pelabuhan. Kapal ini digunakan untuk membantu pasokan gas LPG ke wilayah terdampak bencana banjir dan longsor di Aceh (Foto: Ist)

THE ATJEHNESE – Krisis distribusi LPG di Aceh memasuki pekan kedua setelah bencana hidrometeorologi melumpuhkan sejumlah jalur logistik utama. PT Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut mengakui bahwa pasokan LPG 3 kilogram maupun LPG non-subsidi belum sepenuhnya normal, meskipun berbagai langkah darurat telah dijalankan sejak hari pertama bencana.

Banjir besar dan longsor yang memutus akses darat di banyak titik membuat suplai energi domestik terhenti. Untuk mengatasi kelumpuhan tersebut, Pertamina memanfaatkan Pelabuhan Ulee Lheue dan Pelabuhan Malahayati sebagai pintu masuk distribusi alternatif dari Lhokseumawe menuju Banda Aceh. Kapal-kapal yang tiba membawa mobil tangki dari wilayah utara Aceh guna mempercepat alur suplai ke daerah terdampak.

Rekayasa Jalur Distribusi: Dari Mobil Tangki ke Kapal hingga Kendaraan Kapasitas Rendah

Sales Branch Manager (SBM) III Gas Aceh Pertamina Patra Niaga, Muhammad Suhanda, menjelaskan bahwa perusahaan harus melakukan rekayasa jalur besar-besaran untuk menjaga pasokan tetap bergerak. “Kami memaksimalkan semua jalur yang memungkinkan, termasuk mendatangkan mobil tangki lewat laut. Ini langkah yang tidak biasa, namun situasi di lapangan memaksa kami mengambil opsi ekstrem,” jelasnya dalam wawancara dengan RRI Banda Aceh, Kamis (11/12/2025).

Selain jalur laut, Pertamina juga mengaktifkan jalur barat melalui SPBE Aceh Barat. Namun karena kerusakan jalan cukup parah, distribusi hanya dapat dilakukan menggunakan kendaraan berkapasitas rendah. Mobilisasi ini membuat alur suplai berjalan lambat dan hanya dapat menyentuh sebagian wilayah.

“Ini bukan jalur ideal, tapi satu-satunya yang bisa ditembus. Kami tetap memaksakan distribusi agar masyarakat tidak benar-benar kehabisan LPG,” ujar Suhanda.

Strategi Laut Jadi Andalan Baru, Tetapi Cuaca Masih Menghambat

Ketika jalur darat tidak mampu menjawab kebutuhan, jalur laut menjadi tumpuan. Namun upaya ini juga tidak mudah. Kondisi cuaca buruk, gelombang tinggi, dan pasang surut ekstrem membuat pengiriman lewat kapal tidak selalu dapat dilakukan sesuai jadwal. “Faktor cuaca sangat menentukan. Kadang kapal harus menunggu berjam-jam hingga kondisi memungkinkan untuk berlabuh,” kata Suhanda.

Kondisi tersebut menciptakan jeda suplai yang tidak bisa dihindari. Akibatnya, beberapa wilayah mengalami fluktuasi ketersediaan LPG, dengan sejumlah titik mencatat antrean panjang warga yang menunggu pasokan datang.

Pertamina Akui Distribusi Belum Pulih, Pemulihan Diperkirakan Butuh 1–2 Minggu

Meskipun berbagai langkah ditempuh, Suhanda tidak menutupi kenyataan bahwa distribusi LPG di Aceh masih jauh dari ideal. Pasokan belum mencapai tingkat normal dan proses pemulihan sepenuhnya bergantung pada kemampuan memperbaiki jalur logistik utama serta stabilitas cuaca.

“Kami harus jujur, distribusi belum 100 persen. Tapi semua tim bekerja tanpa henti. Kami berharap dukungan semua pihak agar pemulihan lebih cepat,” ujar Suhanda.

Pertamina memperkirakan situasi dapat kembali stabil dalam satu hingga dua minggu, dengan catatan tidak ada gangguan baru yang memperburuk kondisi jalur darat maupun laut.

Kebutuhan Mendesak: Evaluasi Infrastruktur Logistik dan Skema Darurat

Krisis LPG ini kembali menunjukkan rapuhnya ketergantungan Aceh pada beberapa jalur distribusi yang mudah terganggu bencana. Penggunaan kapal sebagai solusi darurat menegaskan bahwa infrastruktur logistik di Aceh perlu diperkuat agar pasokan energi tidak terhenti setiap kali bencana besar terjadi.

Pertamina memastikan akan terus meningkatkan kapasitas respons di lapangan, termasuk menyiapkan strategi distribusi berlapis untuk mencegah kekosongan stok berkepanjangan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *