Material Rel Terseret Banjir Bandang, Geuchik Dewantara Desak PT KAI Bertindak Cepat

0

Rel rubuh karena banjir (dok/Warga)

THE ATJEHNESE – Dampak banjir bandang yang melanda Kecamatan Dewantara, Kabupaten Aceh Utara, pada 26 November 2025, masih dirasakan kuat oleh warga hingga kini. Selain kerusakan rumah dan infrastruktur, material rel kereta api milik PT Kereta Api Indonesia (KAI) yang terseret arus deras dilaporkan masih berserakan di permukiman dan kebun warga, menambah beban penderitaan masyarakat pascabencana.

Geuchik Gampong Gelumpang Sulu Timur, Waliyunis, menyampaikan desakan keras kepada PT KAI agar segera mengambil langkah konkret dengan membersihkan dan memindahkan material rel tersebut. Menurutnya, keberadaan besi-besi rel di pekarangan rumah warga tidak hanya mengganggu aktivitas sehari-hari, tetapi juga membahayakan keselamatan dan menutup sebagian akses jalan di wilayah Kecamatan Dewantara.

“Material rel ini bukan milik warga, melainkan aset PT KAI. Karena itu, sudah seharusnya pihak perusahaan turun langsung ke lapangan dan bertanggung jawab penuh untuk membersihkannya,” ujar Waliyunis saat menyampaikan aspirasi atas nama Forum Geuchik se-Kecamatan Dewantara, Rabu (17/12/2025).

Ia menjelaskan, sisa-sisa rel kereta api tersebut tersebar di sejumlah titik, termasuk di Gampong Gelumpang Sulu Timur yang menjadi salah satu wilayah terdampak terparah. Hingga kini, warga masih harus hidup berdampingan dengan tumpukan besi berat yang terbawa banjir, sementara aktivitas pemulihan berjalan lambat.

Banjir bandang yang melanda kawasan tersebut menyebabkan kerusakan signifikan. Sedikitnya 20 rumah warga dilaporkan mengalami kerusakan parah, sementara lima rumah lainnya hilang terseret arus. Kondisi ini semakin memprihatinkan karena material rel yang masih berserakan menghambat proses pembersihan lingkungan dan pemulihan kehidupan warga.

Waliyunis menegaskan, masyarakat tidak menuntut hal yang berlebihan. Yang diharapkan hanyalah kehadiran dan tanggung jawab pemilik aset untuk memulihkan kondisi lingkungan pascabencana. Ia juga mengingatkan bahwa keterlambatan penanganan dapat memperpanjang penderitaan warga serta menimbulkan risiko baru, terutama bagi anak-anak dan kelompok rentan.

“Hingga hari ini, kami belum menerima kejelasan langkah dari PT KAI. Warga hanya ingin lingkungannya kembali aman dan bisa beraktivitas normal,” katanya.

Masyarakat Dewantara kini menunggu respons resmi dan tindakan nyata dari PT KAI terkait penanganan material rel sisa banjir tersebut. Mereka berharap perusahaan negara itu tidak menutup mata terhadap dampak lanjutan bencana yang masih membelenggu kehidupan warga di Aceh Utara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *