Longsor di Nisam Menggerus Pondasi Jembatan, Aliran Sungai Tersendat Material Kayu

Nisam Antara Foto.Net
THE ATJEHNESE – Deru air sungai yang biasanya menjadi latar keseharian warga Nisam kini terdengar lebih bising dari biasanya. Setelah hujan berintensitas tinggi mengguyur Aceh Utara dalam sepekan terakhir, sebuah jembatan di kawasan pedalaman Nisam tampak rusak parah akibat terjangan banjir dan longsor yang bersusulan sejak akhir November 2025.
Ketika matahari mulai naik pada Senin pagi, warga yang melintas dibuat terperangah melihat kondisi jembatan yang sebagian pondasinya terangkat dan miring. Pada bagian bawah konstruksi beton itu, tumpukan batang kayu dan material longsoran tersangkut seperti kawat gigi raksasa yang menahan sisa amukan arus banjir.
Foto yang diambil warga memperlihatkan struktur jembatan itu berdiri dalam kondisi kritis: salah satu sisi dinding tergerus tanah yang ambles, sementara lantai dasar jembatan terlihat menggantung tanpa penopang yang utuh. Aliran sungai di bawahnya berubah menjadi lorong sempit yang tertutup kayu gelondongan, ranting, dan bebatuan yang terbawa banjir bandang.
Menurut laporan lapangan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Utara, tingginya curah hujan dalam beberapa hari terakhir mempercepat proses pelonggaran tebing di daerah perbukitan Nisam. “Tanah di beberapa titik sudah jenuh air. Begitu debit sungai meningkat, longsor pun tak terhindarkan,” terang seorang petugas BPBD yang tengah melakukan asesmen cepat di lokasi.
Sejumlah warga setempat mengatakan bahwa suara gemuruh terdengar dari arah hulu sungai sekitar dini hari, disusul getaran kecil yang kemudian diketahui sebagai longsoran yang meluncur ke badan sungai. Tak lama setelah itu, air sungai meluap dan menghantam tiang jembatan hingga sebagian pondasinya roboh.
Kerusakan jembatan ini juga mengganggu akses warga menuju beberapa kebun dan permukiman yang biasa dilalui kendaraan roda dua. Meskipun belum ada laporan korban jiwa dari kejadian ini, masyarakat diimbau untuk menghindari jalur tersebut hingga evaluasi struktur selesai dilakukan.
Tim gabungan dari BPBD, aparat kecamatan, dan relawan kini masih menyingkirkan material kayu dan batu untuk membuka aliran sungai agar tidak semakin menekan struktur jembatan. Bila kerusakan bertambah parah, bukan tidak mungkin jembatan tersebut harus ditutup total dan pembangunan jalur alternatif menjadi pilihan mendesak bagi wilayah tersebut.
Curah hujan ekstrem yang melanda Aceh sepanjang akhir tahun 2025 telah memicu banjir di sejumlah kabupaten, termasuk Aceh Utara, Bireuen, dan Aceh Timur. BMKG sebelumnya mengingatkan bahwa anomali cuaca regional masih berpotensi menimbulkan hujan lebat berkelanjutan hingga awal 2026. Dengan kondisi tanah yang labil, risiko longsor di daerah perbukitan seperti Nisam diperkirakan masih cukup tinggi.
Warga berharap pemerintah daerah dapat segera memperbaiki akses vital itu, sekaligus memperkuat struktur jembatan untuk mengantisipasi bencana serupa. Sementara itu, masyarakat yang bermukim di sepanjang bantaran sungai diminta lebih waspada dan segera mengungsi bila debit air kembali meningkat.
