Limbah PT Mengusik Ketenangan Warga Sekitar, Lakukan Mediasi Resmi.

0

Foto.Net

THE ATJEHNESE- Ratusan warga Gampong Suka Tani, Kecamatan Juli, Kabupaten Bireuen, menggelar aksi unjuk rasa selama dua hari berturut-turut untuk memprotes aktivitas operasional Pabrik Kelapa Sawit (PKS) PT Blang Ketumba yang berlokasi di Kilometer 33, Gampong Suka Tani. Aksi protes pertama berlangsung pada Selasa (18/11/2025), dan kembali berlanjut dengan jumlah massa lebih besar pada Rabu (19/11/2025).

Aksi hari pertama digelar tepat di depan gerbang pabrik dan mendapat pengamanan dari aparat kepolisian. Aktivitas bongkar muat sempat terhenti akibat warga memblokade pintu masuk. Pada hari kedua, warga memperluas lokasi aksi hingga ke pintu akses utama menuju pabrik dengan memarkirkan puluhan kendaraan untuk menghalangi jalur keluar-masuk perusahaan.

Perwakilan warga, Syahrul Razi, menyampaikan bahwa aksi tersebut dipicu oleh kekhawatiran masyarakat terkait dugaan pembuangan air limbah pabrik yang tidak sesuai standar dan dialirkan langsung ke sungai. Padahal, sungai tersebut menjadi sumber air untuk kebutuhan sehari-hari warga setempat.

“Kami meminta pabrik membangun kolam penampungan limbah yang memadai. Air limbah jangan dialirkan sembarangan ke sungai karena kami menggunakannya setiap hari,” ujar Syahrul Razi, Rabu (19/11/2025).

Selain isu lingkungan, warga juga menuntut perusahaan untuk membuka akses pekerjaan bagi masyarakat lokal. Menurut mereka, kesempatan bekerja di pabrik harus diprioritaskan bagi warga sekitar yang secara geografis dan sejarah sosial ikut terdampak oleh keberadaan perusahaan.

“Pabrik harus mengutamakan pekerja lokal. Jangan dipersulit administrasinya. Warga harus mendapat peluang bekerja tanpa hambatan,” tambah Syahrul.

Nada yang sama disampaikan Ketua Pemuda Gampong Suka Tani, Hendra. Ia menegaskan bahwa perusahaan tidak boleh membatasi warga untuk bekerja di wilayahnya sendiri. “Berikan kemerdekaan kepada penduduk untuk mencari nafkah. Jangan mempersulit masyarakat kami,” tegasnya.

Hendra juga menyoroti persoalan lingkungan yang dinilai semakin meresahkan. Ia mengatakan air limbah dari pabrik harus dibuang sesuai prosedur dan standar lingkungan, bukan dialirkan begitu saja ke sungai. Hendra menambahkan bahwa warga telah meminta pertemuan resmi dengan manajemen PT Blang Ketumba, namun hingga dua hari aksi berlangsung, permintaan itu belum dipenuhi.

“Tidak ada solusi dan sampai sekarang pihak pabrik belum menemui kami. Karena itu aksi protes akan terus kami lakukan,” tegasnya.

Hingga berita ini diturunkan, pihak PT Blang Ketumba belum memberikan keterangan resmi terkait tuntutan warga.

Di sisi lain, muncul pandangan kritis dari masyarakat yang menilai perusahaan seharusnya tidak hanya mengejar profit semata. “Seharusnya membuka perusahaan di Aceh bukan hanya persoalan ekonomi atau investasi, tetapi juga fokus pada kesejahteraan bangsa Aceh yang menjadi penopang wilayah ini. Keberadaan perusahaan harus memberi manfaat langsung kepada masyarakat, bukan sebaliknya,” demikian suara aspiratif yang berkembang di tengah aksi tersebut.

Warga berharap manajemen PT Blang Ketumba segera mengambil langkah dialog, memperbaiki sistem pengelolaan limbah, dan membuka ruang transparansi agar masalah tidak berlarut-larut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *