Jembatan Darurat Dibuka, Akses Bireuen–Bener Meriah Kembali Tersambung Namun Masih Penuh Risiko

Ratusan warga saat melintas pasca jembatan darudat Bailey di Teupin Mane, Juli, Bireun rampung dikerjakan. Foto kiriman warga
THE ATJEHNESE – Jalur penghubung antara Kabupaten Bireuen dan Bener Meriah akhirnya kembali dapat dilalui setelah jembatan darurat Bailey di Teupin Mane, Kecamatan Juli, rampung dikerjakan dan dibuka pada Minggu sore (14/12/2025). Pembukaan jembatan ini disambut antusias warga yang selama berhari-hari terisolasi akibat putusnya akses utama pascabanjir.
Pantauan di lokasi menunjukkan ratusan kendaraan dan masyarakat langsung memanfaatkan jembatan tersebut tak lama setelah dibuka. Aktivitas lalu lintas tampak padat, sementara alat berat masih berada di sekitar lokasi dan sejumlah petugas terlihat berjaga untuk mengatur arus kendaraan yang melintas secara bergantian.
Camat Juli, Hendri Maulana, mengatakan bahwa jembatan Bailey tersebut bersifat sementara dan dibangun dalam kondisi darurat untuk memulihkan konektivitas antarwilayah. Jembatan itu memiliki panjang sekitar 30 meter dengan lebar hanya tiga meter, sehingga tidak memungkinkan dilalui kendaraan secara bersamaan dari dua arah.
“Untuk kendaraan roda empat kemungkinan harus diberlakukan sistem buka tutup, karena lebar jembatan terbatas,” ujar Hendri kepada RRI, Minggu (14/12/2025).
Meski akses kembali terbuka, kondisi ini memunculkan kritik dari masyarakat terkait lambannya penanganan infrastruktur vital oleh pemerintah. Jembatan darurat dengan spesifikasi terbatas dinilai belum mampu menjawab kebutuhan mobilitas warga secara aman dan berkelanjutan, terutama untuk jalur strategis yang menjadi nadi ekonomi dan distribusi logistik antarwilayah.
Warga menilai pemerintah seharusnya tidak berhenti pada solusi darurat semata. Jalur Bireuen–Bener Meriah merupakan lintasan penting bagi aktivitas perdagangan, pendidikan, dan layanan kesehatan. Ketergantungan pada jembatan sementara dengan sistem buka tutup justru berpotensi menimbulkan kemacetan, kecelakaan, serta memperlambat distribusi bantuan dan kebutuhan pokok.
“Kami bersyukur jalur ini dibuka, tapi ini belum solusi. Kalau hujan deras atau arus kendaraan meningkat, risikonya besar,” ujar salah seorang pengguna jalan.
Situasi ini kembali menyoroti lemahnya kesiapsiagaan dan perencanaan infrastruktur pemerintah daerah maupun pusat dalam menghadapi bencana. Kerusakan jembatan akibat banjir bukanlah peristiwa baru di Aceh, namun respons yang berulang kali bersifat tambal sulam menunjukkan minimnya upaya pembangunan infrastruktur yang tahan bencana.
Pengamat kebencanaan dan infrastruktur menilai pemerintah perlu segera menyiapkan pembangunan jembatan permanen dengan desain yang adaptif terhadap risiko hidrometeorologi. Tanpa langkah konkret tersebut, masyarakat dikhawatirkan akan terus terjebak dalam siklus kerusakan, perbaikan darurat, dan ketidakpastian akses.
Pembukaan jembatan Bailey di Teupin Mane memang menjadi langkah awal pemulihan. Namun bagi warga Bireuen dan Bener Meriah, akses yang aman dan layak bukan sekadar soal bisa melintas hari ini, melainkan jaminan bahwa negara hadir secara serius melindungi keselamatan dan keberlanjutan kehidupan masyarakatnya.
