Gajah Jantan Ditemukan Mati di Aceh Timur, Diduga Keracunan Racun Rumput Milik Warga

0

Gajah Jantan di temukan Mati di Aceh Timur (foto:dok/polres Aceh Timur)

THE ATJEHNESE – Warga Desa Alur Pinang, Kecamatan Penaron, Kabupaten Aceh Timur, digemparkan oleh penemuan bangkai seekor gajah sumatra jantan yang ditemukan mati di tepi kawasan hutan desa tersebut. Peristiwa ini menjadi perhatian serius mengingat wilayah itu selama ini diketahui sebagai salah satu jalur perlintasan gajah liar di Aceh Timur.

Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh, Ujang Wisnu Barata, kepada RRI pada Rabu (27/8/2025), mengonfirmasi bahwa gajah tersebut ditemukan dalam kondisi tak bernyawa tidak jauh dari area perkebunan warga. Dari hasil identifikasi awal, diduga kuat kematian satwa dilindungi itu disebabkan oleh konsumsi racun rumput yang digunakan masyarakat untuk membersihkan kebun.

“Berdasarkan temuan sementara, gajah ini diperkirakan mati setelah menenggak racun rumput yang berada di sekitar kebun warga. Tidak jauh dari tempat kejadian, terdapat jerigen racun yang sudah dalam keadaan terbuka, dan sebelumnya lokasi itu juga terlihat dirusak oleh gajah tersebut,” ujar Ujang Wisnu Barata.

  • Pemeriksaan Lanjutan Dilakukan

Saat ini bangkai gajah tengah menjalani proses pemeriksaan lebih mendalam. Tim BKSDA sudah mengambil sampel organ dalam dan sisa makanan untuk dikirim ke laboratorium. Pemeriksaan ini penting untuk memastikan apakah racun rumput benar-benar menjadi penyebab utama kematian gajah, atau terdapat faktor lain yang ikut berperan.

Petugas BKSDA telah memasang garis pengamanan di sekitar lokasi untuk mencegah warga mendekat dan mengganggu proses identifikasi.

  • Konflik Manusia dan Gajah Semakin Sering Terjadi

Kematian gajah ini menambah daftar panjang konflik satwa liar yang terjadi di Provinsi Aceh, khususnya Aceh Timur. Daerah tersebut selama bertahun-tahun dikenal sebagai salah satu habitat alami gajah sumatra. Namun meningkatnya aktivitas pembukaan lahan dan perluasan perkebunan membuat ruang jelajah gajah semakin menyempit.

Akibatnya, satwa berbadan besar itu semakin sering bergerak mendekati pemukiman warga untuk mencari makanan, yang berujung pada konflik dan insiden tak terhindarkan.

Aktivis lingkungan menilai bahwa konflik ini sebenarnya dapat dikurangi jika pemerintah dan masyarakat menerapkan pola mitigasi yang lebih baik, seperti pengelolaan ruang antara manusia dan satwa, pengawasan ketat terhadap penggunaan racun, serta edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya menjaga ekosistem hutan.

  • Upaya Penanganan dan Harapan ke Depan

BKSDA mengimbau warga di sekitar kawasan hutan agar tidak menggunakan racun dengan sembarangan, terutama di wilayah yang diketahui menjadi jalur lintasan satwa dilindungi. Warga juga diharapkan segera melapor jika melihat tanda-tanda keberadaan gajah agar tim konservasi dapat mengambil langkah pencegahan.

Kematian gajah ini kembali menjadi pengingat bahwa pelestarian satwa liar bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga membutuhkan kesadaran luas masyarakat untuk menjaga keseimbangan alam yang semakin terancam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *