Desa Gedumbak Hancur Diterjang Banjir Bandang, Haji Uma, Ini Bencana Besar

0

Haji Uma, meninjau langsung lokasi bencana dan menyaksikan kondisi yang membuatnya terpukul, Sabtu (6/12/2025) (Foto/Haji Uma)

THE ATJEHNESE – Desa Gedumbak di Kecamatan Langkahan kini berubah menjadi hamparan puing dan lumpur setelah banjir bandang besar menghantam kawasan itu dengan kekuatan yang tak pernah dibayangkan warga sebelumnya. Saat meninjau lokasi pada Sabtu (6/12/2025), anggota DPD RI asal Aceh H. Sudirman (Haji Uma) tampak terpukul menyaksikan kehancuran yang ditinggalkan bencana tersebut.

Dari sekitar 400 rumah warga, yang tersisa hanya 41 unit dengan kondisi rusak berat. Selebihnya hanyut terseret arus bersama tumpukan kayu, bebatuan, dan lumpur yang datang tiba-tiba dari kawasan hulu.

Korban Meninggal dan Warga Hilang

Bencana itu juga menelan korban jiwa. Enam warga ditemukan meninggal dunia, sementara beberapa lainnya masih dinyatakan hilang. Upaya pencarian masih berlangsung di antara timbunan lumpur dan material kayu.

Warga menceritakan bahwa tumpukan kayu yang memenuhi area hulu—lebih dari 150 hektare—menjadi pemicu utama derasnya arus banjir bandang. Kayu-kayu itu terseret dari pegunungan sebelum menghantam permukiman dengan kekuatan yang meluluhlantakkan desa dalam hitungan menit.

Pemandangan Menggetarkan: Bau Menyengat dan Rumah Tertimbun Kayu

Haji Uma, yang turun langsung ke titik terdampak, melihat rumah-rumah tertimbun setinggi atap dalam gundukan kayu basah dan lumpur. Di beberapa area, tercium bau menyengat yang memunculkan kekhawatiran bahwa masih ada jenazah warga yang belum ditemukan.

“Ini bencana besar yang tidak boleh dianggap sepele. Kerusakan di wilayah hulu harus menjadi evaluasi serius. Pemerintah wajib menertibkan izin-izin yang menyebabkan kerusakan itu,” tegas Haji Uma di tengah reruntuhan.

Desa Lumpuh Total: Tidak Ada Listrik, Tidak Ada Akses, Tidak Ada Air Bersih

Selain menghancurkan rumah, banjir bandang membuat seluruh aktivitas masyarakat lumpuh total.

  • Listrik padam,
  • akses jalan putus,
  • air bersih tidak tersedia.

Sedikitnya 400 kepala keluarga atau hampir 2.000 warga terpaksa mengungsi ke tenda darurat. Fasilitas pengungsian yang minim membuat banyak warga mulai mengalami gatal-gatal, diare, dan gangguan kesehatan lain akibat buruknya sanitasi.

Haji Uma Desak Pemerintah Pusat Turun Tangan

Melihat besarnya skala kerusakan, Haji Uma meminta pemerintah pusat menjadikan bencana Aceh sebagai prioritas nasional.

“Pemulihan desa ini tidak mungkin selesai dalam waktu singkat. Pemerintah harus segera menyalurkan bantuan mendesak—air bersih, obat-obatan, dan bahan makanan. Warga tidak boleh dibiarkan menghadapi penderitaan berkepanjangan,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa bencana selevel ini membutuhkan keterlibatan penuh pemerintah pusat, bukan hanya pemerintah daerah. Ketidakteraturan tata kelola kawasan hulu juga harus dievaluasi secara menyeluruh untuk mencegah bencana serupa.

Harapan untuk Bangkit Bersama

Meski dihantam bencana besar, solidaritas masyarakat tetap kuat. Warga Desa Gedumbak saling membantu dalam pencarian korban, membersihkan puing, dan menata ulang kegiatan hidup di tenda pengungsian.

Haji Uma berharap seluruh elemen pemerintah, relawan, masyarakat, dan lembaga kemanusiaan bisa menyatukan langkah untuk memulihkan desa itu dari keterpurukan.

“Mereka sedang membangun hidup dari awal. Kita semua harus bergandengan tangan untuk membantu,” tutupnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *