Dampak Banjir dan Longsor di Aceh Kian Meningkat: 1,9 Juta Jiwa Terdampak, 786 Ribu Mengungsi, Infrastruktur Lumpuh Parah

Foto udara wilayah Aceh Tamiang tersapu banjir bandang yang terjadi pada 26 November 2025. (Foto: IG Muzakir Manaf Gubernur Aceh)
THE ATJEHNESE – Situasi darurat bencana hidrometeorologi di Aceh memasuki fase kritis. Hingga Kamis (11/12/2025) pukul 17.00 WIB, Pos Komando Tanggap Darurat Pemerintah Aceh melaporkan lonjakan signifikan jumlah korban dan kerusakan akibat banjir besar dan longsor yang melanda hampir seluruh wilayah provinsi.
Sebanyak 18 kabupaten/kota, mencakup 225 kecamatan dan 3.678 gampong, tercatat mengalami dampak langsung. Laporan terbaru yang diterima posko menunjukkan eskalasi bencana yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
1,9 Juta Jiwa Terdampak, 407 Meninggal, 36 Masih Hilang
Juru Bicara Posko, Murthalamuddin, menyebutkan bahwa jumlah warga terdampak mencapai 499.111 kepala keluarga, atau setara 1.926.810 jiwa. Dari jumlah itu, ribuan di antaranya mengalami cedera: 3.845 luka ringan dan 479 luka berat. Yang lebih mengkhawatirkan, 407 orang telah dilaporkan meninggal dunia, sementara 36 lainnya masih hilang dan dalam pencarian tim SAR gabungan.
“Data di lapangan bergerak sangat cepat. Setiap jam kami menerima pembaruan dari kabupaten/kota. Tim evakuasi dan logistik masih menghadapi tantangan besar di medan yang terputus,” ujar Murthalamuddin.
Gelombang Pengungsian Terbesar dalam Beberapa Tahun Terakhir
Bencana ini memaksa gelombang perpindahan penduduk dalam skala besar. Sebanyak 208.936 kepala keluarga atau 786.732 jiwa kini mengungsi di 2.181 titik pengungsian.
Posko-posko tersebut tersebar di seluruh Aceh, mulai dari dataran tinggi hingga pesisir utara dan barat. Pemerintah Aceh bekerja sama dengan TNI, Polri, Basarnas, BPBD, dan relawan untuk memastikan logistik, obat-obatan, serta layanan kesehatan dapat menjangkau seluruh kelompok rentan, termasuk lansia dan anak-anak.
Namun keterbatasan akses dan cuaca buruk membuat distribusi bantuan tidak selalu lancar.
Fasilitas Umum Rusak Berat: Kantor Pemerintahan, Sekolah, hingga Tempat Ibadah
Kerusakan fisik akibat banjir juga tercatat sangat besar. Sedikitnya:
- 258 unit perkantoran rusak,
- 207 tempat ibadah terdampak,
- 266 sekolah mengalami kerusakan ringan hingga berat,
- 15 pesantren rusak,
- 132 rumah sakit dan puskesmas terdampak.
Kerusakan pada fasilitas penting ini memperberat upaya penanganan bencana, terutama karena banyak puskesmas harus dipindahkan ke lokasi darurat dengan fasilitas terbatas.
461 Titik Jalan dan 332 Jembatan Rusak: Aceh Terbelah, Logistik Terhambat
Sektor infrastruktur mengalami kerusakan luas yang membuat beberapa kabupaten praktis terisolasi. Laporan mencatat 461 titik jalan dan 332 jembatan mengalami kerusakan sedang hingga berat. Banyak jalan penghubung desa, termasuk jalur distribusi utama tertutup total akibat longsor dan runtuhan tebing.
Akibatnya, sejumlah wilayah membutuhkan distribusi udara menggunakan helikopter atau pesawat kecil untuk pengiriman logistik dasar.
Kerugian Material Sangat Besar: Ribuan Rumah Rusak, Puluhan Ribu Hektare Lahan Hancur
Selain korban jiwa dan kerusakan fasilitas umum, warga juga menanggung beban kerugian harta benda dalam jumlah masif. Data sementara mencatat:
- 157.318 unit rumah terdampak banjir dan longsor,
- 186.868 ekor ternak mati atau hilang,
- 89.286 hektare sawah rusak,
- 14.725 hektare kebun terdampak,
- 40.328 hektare tambak rusak.
Kerusakan di sektor pertanian, perikanan tambak, dan peternakan diperkirakan memberi dampak jangka panjang terhadap ketahanan pangan dan ekonomi masyarakat.
BNPB dan Pemerintah Aceh Terus Perkuat Respons, Namun Tantangan Masih Besar
Di tengah kondisi yang terus berubah, Pemerintah Aceh bersama BNPB menekankan bahwa penanganan masih berfokus pada evakuasi, penyelamatan, dan pemenuhan kebutuhan dasar. Meski demikian, mereka mengakui bahwa skala kerusakan yang sangat luas membuat proses pemulihan akan memakan waktu panjang.
“Masih banyak wilayah yang belum dapat dijangkau secara optimal. Kami bekerja maksimal, tetapi cuaca ekstrem dan kerusakan akses menjadi hambatan besar,” kata Murthalamuddin.
Dengan cuaca ekstrem diperkirakan masih berlanjut, situasi Aceh belum sepenuhnya stabil. Pemerintah menyerukan kewaspadaan penuh dan mengimbau warga di daerah rawan untuk segera mematuhi instruksi evakuasi.
