Cuaca Cerah Pasca Banjir, Warga Lhokseumawe Bergerak Cepat, Pemerintah Dinilai Lamban Berbenah

Suasana Cuaca pada siang hari dikawasan Kota Lhokseumawe
THE ATJEHNESE – Kondisi cuaca di Kota Lhokseumawe terpantau cerah dan relatif stabil pascabanjir yang sempat melumpuhkan sejumlah kawasan dalam beberapa hari terakhir. Pantauan pada Senin siang (22/12/2025) menunjukkan langit biru tanpa awan tebal, dengan terik matahari cukup menyengat dan tanpa hujan. Situasi ini menjadi momentum penting bagi proses pemulihan, terutama bagi warga yang selama ini terpaksa menunggu air surut tanpa kepastian.
Cuaca cerah tersebut langsung dimanfaatkan masyarakat untuk bergerak cepat. Sejak pagi, warga terlihat membersihkan lumpur yang mengendap di rumah, halaman, serta jalan-jalan lingkungan. Genangan air yang sebelumnya menghambat mobilitas kini telah surut, membuka kembali akses permukiman dan perkantoran. Aktivitas warga perlahan kembali normal, bahkan di beberapa titik terlihat lebih hidup dibanding hari-hari saat banjir masih melanda.
Namun di balik geliat pemulihan oleh warga, muncul kritik tajam terhadap kinerja pemerintah daerah. Hingga cuaca membaik, sebagian besar upaya pembersihan masih bertumpu pada inisiatif masyarakat secara swadaya. Alat berat, armada kebersihan, dan dukungan logistik dari pemerintah dinilai belum hadir secara merata, terutama di kawasan permukiman padat yang terdampak cukup parah.
“Kalau menunggu pemerintah, rumah kami bisa berbulan-bulan kotor,” ujar seorang warga di kawasan terdampak banjir, seraya membersihkan lumpur yang mengering di lantai rumahnya. Menurut warga, cuaca cerah justru memperlihatkan kontras yang tajam antara semangat masyarakat dan lambannya respons struktural pemerintah.
Jalan-jalan lingkungan yang sebelumnya licin kini mengering. Kendaraan roda dua dan roda empat mulai kembali beroperasi dan terparkir di halaman rumah maupun kantor. Aktivitas ekonomi skala kecil pun perlahan berjalan, meski tanpa dukungan nyata berupa insentif, bantuan pembersihan massal, atau percepatan perbaikan drainase yang seharusnya menjadi tanggung jawab pemerintah.
Ironisnya, di tengah cuaca cerah ini, persoalan mendasar justru belum tersentuh serius. Saluran drainase di banyak titik masih tersumbat lumpur dan sampah. Tanah yang masih lembap pascabanjir berpotensi memicu genangan ulang jika hujan turun kembali dengan intensitas tinggi. Kondisi ini menimbulkan pertanyaan besar: apakah pemerintah hanya bergantung pada “cuaca baik” sebagai strategi pemulihan?
Pemerintah daerah memang mengimbau masyarakat untuk tetap waspada dan menjaga kebersihan lingkungan. Namun imbauan semata dinilai tidak cukup. Tanpa langkah konkret berupa normalisasi drainase, evaluasi tata kelola banjir, serta penanganan infrastruktur yang rusak, risiko bencana susulan tetap mengintai.
Sejumlah pengamat kebencanaan menilai bahwa momen cuaca cerah seharusnya dimanfaatkan pemerintah untuk kerja cepat dan terukur, bukan sekadar memantau dari balik meja. Fase pascabanjir adalah ujian nyata kapasitas pemerintah daerah dalam manajemen bencana, bukan hanya soal reaksi darurat, tetapi juga komitmen pada pencegahan dan kesiapsiagaan.
Jika cuaca kembali berubah, sementara persoalan struktural dibiarkan, maka banjir berpotensi terulang dengan dampak yang sama, bahkan lebih parah. Dalam situasi ini, masyarakat kembali akan menjadi pihak pertama yang menanggung beban, sementara negara datang belakangan.
Cuaca cerah hari ini memberi harapan, tetapi juga membuka cermin kritik. Pemulihan Kota Lhokseumawe tidak boleh hanya bergantung pada matahari yang bersinar, melainkan pada keberanian pemerintah untuk berbenah secara serius, transparan, dan bertanggung jawab. Tanpa itu, normalisasi aktivitas warga hanya akan bersifat sementara namun rapuh di hadapan hujan berikutnya.
