Bupati Aceh Utara Terobos Wilayah Terparah Banjir dan Longsor, Pastikan Logistik Tiba ke Ribuan Pengungsi

0

Ayah Wa turun langsung distribusi logistik, memastikan bantuan darurat menjangkau seluruh titik pengungsian terdampak. (foto:dok/Muntasir)

THE ATJEHNESE – Bupati Aceh Utara, H. Ismail A. Jalil, MM, yang dikenal luas oleh warga sebagai Ayah Wa kembali turun langsung ke lapangan untuk memantau distribusi bantuan bagi masyarakat terdampak banjir besar dan longsor. Pada Senin (1/12/2025), ia menembus sejumlah desa yang hingga kini akses jalannya masih tertutup lumpur dan puing, demi memastikan logistik darurat benar-benar sampai ke titik pengungsian.

Bencana yang melanda wilayah Aceh Utara sejak hujan ekstrem mengguyur lima hari berturut-turut semakin meluas setelah beberapa tanggul sungai besar jebol, di antaranya Krueng Pase, Krueng Peutou, dan Krueng Langkahan. Arus air yang melimpah dengan cepat merendam permukiman, memutus jalan, menenggelamkan fasilitas umum, dan merusak ribuan rumah warga.

Ayah Wa bersama tim BPBD, TNI/Polri, serta relawan lokal bergerak dari satu kecamatan ke kecamatan lainnya meski komunikasi masih lumpuh dan sebagian jalan hanya bisa dilalui dengan perahu karet. Dari pantauan lapangan, kondisi bencana kini mencapai level kritis. Lebih dari 150.000 jiwa terdampak, sementara lebih dari 100.000 warga terpaksa mengungsi ke 852 titik penampungan.

Data sementara mencatat 81 korban meninggal dunia, sedangkan 90 orang lainnya masih dinyatakan hilang. Tak hanya rumah warga yang rusak parah, tetapi juga sekolah, masjid, puskesmas, tambak, sawah, hingga jaringan listrik dan air bersih yang lumpuh total.

Distribusi Bantuan Diprioritaskan untuk Kelompok Rentan

Meski kondisi medan sulit, pemerintah kabupaten mengupayakan agar logistik seperti makanan siap saji, air bersih, selimut, obat-obatan, dan kebutuhan bayi. Diharapkan tetap menjangkau kelompok rentan: ibu hamil, balita, lansia, dan penyandang disabilitas.

Sejumlah kecamatan seperti Langkahan, Seuneddon, Baktia, Pirak Timur, Samudera, Lapang, dan Sawang masih terisolasi akibat jalan yang tertutup lumpur tebal atau jembatan yang terputus. Wilayah-wilayah ini membutuhkan tambahan armada perahu karet, alat berat untuk membuka akses jalan, suplai listrik darurat, serta sarana komunikasi yang memadai.

BPBD Aceh Utara hingga hari ini terus mengerahkan pasukan dan perangkat teknis untuk menormalkan wilayah terdampak. Namun kondisi sungai yang dangkal, endapan lumpur yang tebal, serta curah hujan susulan membuat proses pemulihan berjalan lebih lambat dari yang diharapkan.

Ayah Wa Fokuskan Penanganan Hingga Seluruh Warga Aman

Dalam keterangannya di lapangan, Ayah Wa menegaskan bahwa penyelamatan warga menjadi prioritas tertinggi. Ia memastikan bahwa setiap desa yang masih terisolasi akan didatangi satu per satu, baik melalui jalur darat, air, maupun jalur alternatif yang harus ditempuh dengan berjalan kaki.

Menurutnya, kerja cepat di lapangan adalah kunci untuk memutus potensi risiko lanjutan, termasuk penyebaran penyakit, kelangkaan logistik, dan keterlambatan evakuasi korban.

Di tengah kesulitan besar yang dihadapi, muncul harapan bahwa pola kepemimpinan lapangan seperti yang ditunjukkan Ayah Wa dapat menjadi contoh bagi pemerintah daerah lainnya. Gerak cepat, keberanian turun langsung, dan kehadiran di titik bencana dinilai sangat dibutuhkan pada situasi krisis agar warga terdampak merasa tidak ditinggalkan dan bantuan dapat tiba tepat waktu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *