Banjir Susulan Gagalkan Musim Tanam Petani Aceh Barat, Ribuan Bibit Padi Terancam Rusak

0

Rumah warga Woyla Barat, Aceh Barat dilanda banjir susulan, Minggu (7/12/2025). Foto warga

THE ATJEHNESE – Banjir susulan yang terjadi pada Minggu pagi, 7 Desember 2025, kembali memukul aktivitas pertanian di kawasan Ranto Panyang Barat, Kabupaten Aceh Barat. Luapan air sungai yang datang secara tiba-tiba membuat para petani tidak dapat melanjutkan proses tanam padi yang telah lama mereka siapkan.

Banjir ini menjadi pukulan kedua bagi petani dalam selang waktu kurang dari dua minggu. Sebelumnya, banjir besar pada 27 November 2025 membuat seluruh aktivitas pertanian lumpuh total, merusak pematang dan merendam bibit padi yang sudah disemai.

Harapan Petani Kembali Pupus dalam Hitungan Menit

Abdurrahman, salah seorang petani di Desa Ranto Panyang Barat, menggambarkan situasi Minggu pagi itu sebagai momen yang paling mengecewakan. Para petani telah berkumpul di sawah dengan bibit unggul yang siap dipindahkan ke lahan tanam.

“Bibit sudah siap kami cabut untuk ditanam. Semua petani sudah berkumpul di sawah. Tapi tiba-tiba air sungai naik lagi dan memutuskan seluruh rencana. Pematang kembali tergenang, jadi kami tidak bisa berbuat apa-apa,” ujarnya.

Air sungai naik dengan cepat, kurang dari satu jam setelah hujan deras mengguyur wilayah hulu. Sawah yang mulai mengering mendadak terendam kembali oleh lumpur dan air setinggi betis orang dewasa.

Musim Tanam Terancam Gagal Jika Banjir Terus Terulang

Para petani kini menghadapi ketidakpastian baru. Selain merusak struktur pematang, banjir berulang dikhawatirkan dapat menurunkan kualitas bibit yang masih disimpan. Bila kondisi ini terus berlanjut, musim tanam tahun ini bisa terancam gagal.

Petani di Ranto Panyang Barat menyebut bahwa mereka sudah beberapa kali menyesuaikan jadwal tanam akibat cuaca ekstrem. Namun banjir mendadak yang berulang membuat mereka kehilangan tenaga, waktu, dan biaya yang telah dikeluarkan.

Air Masih Menggenang, Petani Menunggu Kebijakan Konkret

Hingga Minggu siang, sebagian wilayah desa masih tergenang air. Para petani hanya bisa menunggu air surut sambil membersihkan lumpur yang masuk ke pematang dan jalan sawah. Aktivitas pertanian kembali tertunda tanpa kepastian kapan bisa dilanjutkan.

Warga berharap pemerintah daerah segera turun tangan, terutama untuk:

  • normalisasi aliran irigasi,
  • pembersihan sungai dan saluran air,
  • mitigasi jangka panjang untuk mencegah banjir susulan,
  • bantuan bibit dan perbaikan pematang.

Upaya tersebut dinilai penting sebab sektor pertanian merupakan sumber utama mata pencaharian masyarakat setempat. Tanpa intervensi cepat, dampak ekonomi bagi petani dapat semakin berat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *