Banjir Melebihi Tsunami Terjang Aceh Utara

0

Di Desa Alue Krak Kayee Aceh Utara, kondisi tampak porak-poranda. Foto kiriman

THE ATJEHNESE – Derasnya arus air yang menerjang sejumlah desa di Kabupaten Aceh Utara dalam beberapa hari terakhir digambarkan oleh para penyintas sebagai peristiwa yang “bergulung-gulung seperti tsunami.” Laporan lapangan dari relawan menunjukkan betapa cepat dan dahsyatnya banjir bandang meluluhlantakkan permukiman di Kecamatan Langkahan dan sekitarnya.

Desa Alue Krak Kayee Porak-Poranda, Akses Utama Terputus

Di Desa Alue Krak Kayee, pemandangan yang tersisa hanyalah puing dan lumpur. Jalan dan jembatan—yang selama ini menjadi nadi transportasi warga—putus total. Sebagian jembatan amblas, sebagian lainnya tertimbun lumpur dan tumpukan kayu yang terbawa arus.

Rumah-rumah warga tak lagi berdiri tegak. Banyak yang hanya menyisakan rangka kusen, sementara seluruh perabotan dan barang berharga hilang terseret banjir. Lumpur setinggi betis hingga lutut menutup halaman rumah, membuat warga kesulitan kembali menelusuri apa pun yang mungkin tersisa.

Desa Langkahan dan Geudumbak Tak Luput dari Kerusakan Berat

Situasi serupa terjadi di Desa Langkahan dan Desa Geudumbak, dua wilayah yang mengalami kerusakan paling parah. Menurut warga, banjir bandang dipicu oleh jebolnya tanggul irigasi, menyebabkan air melesat begitu cepat tanpa memberi kesempatan bagi penduduk untuk menyelamatkan diri.

“Air datang dengan suara gemuruh. Kami lari tanpa sempat bawa apa-apa,” kata seorang warga, mengenang detik-detik ketika arus menghantam permukiman mereka.

Kebun, lahan pertanian, dan perkarangan rumah tertimbun lumpur pekat serta pepohonan yang hanyut bersama arus. Banyak warga kehilangan mata pencaharian dalam semalam.

Rumah Hanyut, Sawah Hilang: Desa Tanjong Dalam Selatan Alami Kerusakan Paling Parah

Di Desa Tanjong Dalam Selatan, kerusakan bahkan lebih memilukan. Banjir bandang datang pada malam hari, saat sebagian besar warga sudah beristirahat. Rumah-rumah hanyut seketika, dan persawahan yang menjadi tumpuan hidup masyarakat hancur hingga tidak lagi dikenali.

Seorang ibu penyintas menceritakan kembali momen ketika air menerjang:

“Ie cukop teuga dek ji ek… (air sangat cepat naiknya, Dek),” ucapnya dengan suara bergetar.
“Hana sampeu meu ba dek, tok bajee saboh di badan… (Kami tak sempat bawa apa pun, hanya baju yang dipakai),” tambahnya lirih.

Seorang warga lanjut usia menggambarkan betapa dahsyatnya arus banjir:

“Lagee tsunami dek, meugulong-gulong ie… (Seperti tsunami, Dek, air bergulung-gulung).”

Cerita itu menunjukkan bagaimana massa air bercampur kayu, batu, dan puing bangunan menghantam desa tanpa ampun.

Akses Terputus, Desa Terisolasi

Hasil penelusuran pada Senin (1/12/2025) menunjukkan bahwa jalur Langkahan–Lhoknibong–Lhoksukon–Cot Girek masih sulit dilalui. Banyak titik terisolasi akibat jembatan amblas, badan jalan tergerus, dan tanah longsor di sejumlah titik. Relawan GEN-A, Wahyu Wahidin, mengatakan bahwa warga masih syok dengan dampak bencana.

“Banyak warga menunjukkan bekas air di dinding rumah sebagai tanda betapa tinggi banjir naik,” ungkapnya.

Sejumlah keluarga belum dapat kembali ke rumah karena struktur bangunan tidak layak huni. Mereka sementara mengungsi ke rumah kerabat atau titik aman, meski fasilitas minim.

Dukungan Kemanusiaan Mengalir, GEN-A dan Mata Garuda Aceh Gerakkan Relawan

Di tengah keterpurukan, solidaritas warga justru terlihat menguat. Banyak keluarga saling menampung pengungsi dan berbagi apa yang mereka punya.

Organisasi Generasi Edukasi Nanggroe Aceh (GEN-A) bersama jejaring relawan serta berkolaborasi dengan Mata Garuda Aceh telah memulai penggalangan dana dan distribusi bantuan darurat. Fokus bantuan diarahkan pada:

  • pangan siap saji,
  • air bersih,
  • perlengkapan kebersihan,
  • pakaian layak pakai.

GEN-A dan Mata Garuda Aceh juga mengajak masyarakat luas untuk terus menyalurkan bantuan guna mempercepat pemulihan korban bencana.

Pemulihan Panjang Menanti

Bencana ini meninggalkan jalan panjang menuju pemulihan. Dengan akses yang rusak parah, rumah yang hilang, dan lahan pertanian yang musnah, warga menghadapi masa depan yang berat.

Namun semangat gotong royong dan bantuan relawan menjadi cahaya yang menguatkan warga untuk mulai bangkit kembali dari salah satu banjir bandang terburuk yang pernah melanda wilayah tersebut.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *