Banjir Bandang Pidie Jaya 2025: Korban Meninggal Mencapai 20 Orang, 18 Masih Hilang

Kondisi pasca banjir di jalan lintas Trienggadeng-Samalanga. Kabupaten Pidie Jaya. Foto: (Istimewa).
THE ATJEHNESE – Gelombang duka kembali menyelimuti Kabupaten Pidie Jaya. Hingga Senin, 1 Desember 2025, jumlah korban meninggal akibat banjir bandang yang melanda wilayah itu terus bertambah. Pemerintah daerah mengonfirmasi bahwa 20 warga telah ditemukan meninggal dunia, sementara 18 lainnya masih dinyatakan hilang dalam terpaan arus deras yang menghancurkan sejumlah kawasan pemukiman.
Informasi terbaru ini disampaikan oleh M. Rieza Andika, perwakilan Prokopim Sekretariat Daerah Pidie Jaya, ketika dikonfirmasi Theatjehnese.com. Menurutnya, proses pencarian belum berhenti sejak bencana itu terjadi. “Data per 1 Desember 2025, korban meninggal dunia sudah mencapai 20 orang. Sebanyak 18 warga lainnya belum berhasil ditemukan,” ujar Rieza.
Sebaran Korban per Kecamatan
Rieza menjelaskan secara rinci kondisi di lapangan. Hampir seluruh kecamatan terdampak menunjukkan angka korban jiwa maupun hilang:
- Kecamatan Meureudu: 4 meninggal, 4 hilang
- Meurah Dua: 4 meninggal, 6 hilang
- Panteraja: 1 meninggal, 1 hilang
- Ulim: 5 meninggal, 2 hilang
- Jangka Buya: 3 meninggal, 3 hilang
- Bandar Dua: 3 meninggal, 2 hilang
Bencana yang terjadi secara tiba-tiba itu tidak hanya merenggut nyawa. Laporan sementara menyebutkan bahwa 339 warga mengalami luka berat, sementara 1.437 orang lainnya menderita luka ringan akibat hantaman lumpur, air bah, dan reruntuhan bangunan.
Evakuasi dan Penanganan Darurat
Tim SAR, TNI, Polri, relawan lokal, serta masyarakat masih terus melakukan penyisiran di area terdampak. Cuaca yang kerap berubah dan kondisi medan yang penuh material kayu serta lumpur tebal menjadi tantangan utama dalam proses pencarian korban.
Untuk memusatkan seluruh koordinasi penanganan darurat, pemerintah daerah telah menetapkan Gedung MTQ di kompleks perkantoran Bupati Pidie Jaya sebagai posko utama bencana. Dari lokasi itu, distribusi logistik, pelayanan medis, hingga pengaturan relawan diselenggarakan setiap hari tanpa henti.
Rieza menyebut bahwa pemerintah daerah akan terus memperbarui perkembangan pencarian korban dan penanganan warga terdampak. “Semua upaya dikerahkan, baik tenaga maupun logistik. Kami memastikan seluruh proses berjalan maksimal,” tuturnya.
Banjir bandang yang menerjang Pidie Jaya di penghujung tahun ini kembali menjadi pengingat getir tentang rentannya wilayah terhadap cuaca ekstrem. Masyarakat berharap agar korban hilang segera ditemukan dan pemulihan dapat berlangsung cepat bagi ribuan keluarga yang kehilangan tempat tinggal maupun anggota keluarga.
