Banjir Bandang Hancurkan Gampong Geudumbak, Warga Bertahan Tanpa Bantuan Resmi

0

Puing-Puing rumah yang masih terlihat di Desa (Gampong) Geudumbak, Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara, Senin (1/12/2025). (Foto: Dok.Muhammad Amin/Jurnalis di Aceh Utara).

THE ATJEHNESE – Gampong Geudumbak di Kecamatan Langkahan berubah menjadi hamparan puing dalam hitungan menit setelah banjir bandang dahsyat menerjang wilayah tersebut pada Rabu, 26 November 2025. Derasnya arus air menghantam pemukiman, menghanyutkan ratusan rumah, merusak fasilitas umum, dan menimbulkan korban jiwa. Satu warga dikonfirmasi meninggal dunia, sementara lima lainnya masih dinyatakan hilang.

Kondisi gampong yang sebelumnya ramai dan hidup kini hanya menyisakan rangka rumah, patahan kayu besar, serta lumpur yang menutupi hampir seluruh permukaan tanah. Warga yang selamat bergerak sendiri melakukan pencarian, tanpa dukungan tim SAR pada hari-hari awal setelah banjir surut. Mereka menapaki tumpukan puing dan serpihan bangunan dengan harapan masih menemukan barang berharga atau tanda-tanda keberadaan anggota keluarga yang hilang.

Muhammad Amin, jurnalis di Kabupaten Aceh Utara yang meninjau langsung lokasi kejadian, menggambarkan situasi yang ditemuinya sebagai “kerusakan total”. Banyak bangunan rata dengan tanah; sebagian lainnya berdiri dalam keadaan ringsek dengan jendela terlepas, pintu hilang, dan dinding dipenuhi endapan lumpur setinggi pinggang. Batang-batang pohon yang terbawa arus menembus bagian dalam rumah, bahkan menyangkut di lorong sempit permukiman, seolah mengisyaratkan betapa dahsyatnya energi air ketika menerjang.

Warga yang selamat terlihat masih terjebak dalam bayang trauma. Sebagian memandangi reruntuhan rumah mereka sambil memilah benda-benda yang masih dikenali, sementara sebagian lain memilih mengungsi di rumah kerabat maupun fasilitas umum yang aman. Tidak sedikit yang harus bertahan dengan perbekalan terbatas karena akses bantuan belum tiba.

Salah satu warga yang berhasil ditemui, Ilyas, mengingat kembali detik-detik bencana ketika bendungan di bagian hulu sungai tiba-tiba jebol.
“Dalam hitungan menit air langsung menghantam rumah-rumah. Banyak warga tidak sempat menyelamatkan apa pun. Ada yang terseret arus, ada yang hilang sampai sekarang,” tuturnya pada Senin (1/12/2025).

Hingga saat ini, warga mengandalkan bantuan dari desa atau kecamatan tetangga yang tidak terdampak banjir. Bantuan resmi dari pemerintah daerah masih belum terlihat di lokasi, membuat para pengungsi harus bertahan dengan makanan seadanya.
“Kami benar-benar berharap pemerintah segera mengirimkan bantuan. Di pengungsian kami kesulitan makanan, pakaian, dan kebutuhan dasar lain,” tambah Ilyas.

Bencana yang melanda Geudumbak disebut sebagai salah satu banjir bandang terburuk dalam beberapa tahun terakhir yang terjadi di wilayah Langkahan. Kerusakan material, hilangnya tempat tinggal, serta tekanan psikologis yang dialami warga menambah berat beban pemulihan.

Dalam situasi darurat seperti ini, masyarakat berharap pemerintah mempercepat penyaluran bantuan karena kondisi di lapangan sudah sangat mendesak. Penanganan cepat dinilai penting untuk memastikan keselamatan para pengungsi, mencari korban hilang, serta mencegah risiko kesehatan akibat lingkungan yang rusak dan minim fasilitas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *