Bangkai Gajah Sumatera Membusuk di Permukiman Warga, Negara Absen di Tengah Bencana

0

Satu individu gajah sunatera yang mati akibat terseret banjir bandang di Desa Meunasah Lhok, Kecamatan Meurudu, kabupaten Pidie Jaya, hingga kini masih dibiarkan membusuk di lokasi itu. Foto direkam pada 29 November 2025. Dok JGN

THE ATJEHNESE – Tragedi kematian seekor gajah sumatera, satwa dilindungi yang menjadi simbol keanekaragaman hayati Aceh, kini berubah menjadi potret suram lemahnya respons negara. Bangkai gajah yang ditemukan mati terseret banjir bandang di Desa Meunasah Lhok, Kecamatan Meurudu, Kabupaten Pidie Jaya, hingga kini dibiarkan membusuk tanpa penanganan serius dari pihak berwenang.

Di tengah kondisi warga yang masih berjuang memulihkan diri pascabencana banjir bandang, keberadaan bangkai satwa besar itu justru menambah penderitaan. Bau busuk menyengat menyelimuti permukiman, mengganggu aktivitas harian warga, dan menimbulkan kekhawatiran serius akan risiko kesehatan, terutama bagi anak-anak dan lansia.

Sekretaris Jaringan Gajah Nusantara (JGN) Aceh, Muhammad Fadly, menyebut situasi ini sebagai bentuk pembiaran yang tidak dapat ditoleransi. Menurutnya, lambannya penanganan bangkai gajah sumatera mencerminkan buruknya koordinasi dan rendahnya kepekaan negara terhadap isu lingkungan dan kesehatan publik.

“Seharusnya bangkai gajah ini segera ditangani dan dikuburkan sesuai prosedur. Sampai hari ini belum juga ditanam, baunya sudah sangat menyengat dan jelas meresahkan masyarakat,” ujar Fadly dalam pernyataan resminya, Selasa (6/1/2026).

  • Bencana Bertambah, Pemerintah Tak Kunjung Datang

Warga setempat mengeluhkan bahwa aroma busuk dari bangkai gajah semakin menyengat, terutama pada siang hari. Kondisi tersebut bukan hanya persoalan ketidaknyamanan, tetapi juga ancaman kesehatan nyata. Bangkai satwa besar yang dibiarkan terbuka berpotensi menjadi sumber bakteri dan penyakit, terlebih di kawasan yang baru saja dilanda banjir dan sanitasi lingkungan belum pulih.

Ironisnya, hingga berhari-hari setelah bangkai ditemukan, tidak terlihat kehadiran otoritas konservasi maupun pemerintah daerah untuk melakukan penanganan. Situasi ini memperlihatkan bahwa dalam kondisi darurat sekalipun, perlindungan satwa dan kesehatan masyarakat masih sering terpinggirkan.

  • Satwa Dilindungi Mati, Tanggung Jawab Juga Mati?

Muhammad Fadly menegaskan bahwa meskipun gajah tersebut mati akibat bencana alam, statusnya sebagai satwa dilindungi tetap melekat. Penanganan bangkainya tidak boleh diabaikan, apalagi dibiarkan membusuk di tengah permukiman warga.

“Gajah sumatera adalah satwa dilindungi. Cara negara memperlakukan bangkainya mencerminkan bagaimana negara menghargai kehidupan, lingkungan, dan warganya sendiri,” tegas Fadly.

Ia mendesak Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) serta instansi terkait untuk segera turun ke lapangan, melakukan evakuasi, dan menguburkan bangkai gajah sesuai prosedur konservasi dan kesehatan lingkungan.

  •  Negara Lamban, Warga Menanggung Risiko

Lambannya respons pemerintah dalam menangani bangkai gajah ini memperlihatkan pola yang berulang: negara sering kali hadir terlambat, terutama dalam isu-isu yang menyangkut lingkungan dan satwa liar. Padahal, Aceh dikenal sebagai salah satu habitat penting gajah sumatera yang populasinya terus terancam.

Pembiaran ini tidak hanya merugikan warga secara langsung, tetapi juga mencederai komitmen pemerintah terhadap perlindungan satwa dilindungi. Ketika bangkai gajah saja tak segera ditangani, publik wajar mempertanyakan sejauh mana keseriusan negara menjaga ekosistem dan keseimbangan alam.

  • Belum Ada Penjelasan Resmi

Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak BKSDA mengenai alasan keterlambatan penanganan bangkai gajah tersebut. Ketiadaan penjelasan ini justru memperkuat kesan abai dan minimnya akuntabilitas.

Warga Desa Meunasah Lhok berharap pemerintah tidak lagi menunda tindakan. Mereka mendesak agar bangkai gajah segera dievakuasi dan dikuburkan, demi mencegah dampak kesehatan yang lebih luas dan menghormati keberadaan satwa dilindungi yang mati akibat bencana.

  • Bukan Sekadar Bangkai, Tapi Cermin Kelalaian

Peristiwa ini bukan hanya soal bangkai gajah yang membusuk, melainkan cermin kegagalan negara merespons krisis secara menyeluruh. Ketika bencana alam, kesehatan warga, dan perlindungan satwa bertemu dalam satu peristiwa, seharusnya negara bergerak cepat dan tegas.

Jika pembiaran seperti ini terus terjadi, maka yang membusuk bukan hanya bangkai gajah, tetapi juga kepercayaan publik terhadap komitmen pemerintah dalam menjaga lingkungan dan keselamatan warganya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *