Aceh Utara Lumpuh Diterjang Banjir Besar, 46 Ribu Warga Terendam, Pemerintah Tetapkan Status Tanggap Darurat

Salah satu kawasan yang dilanda banjir parah di Aceh Utara (dok/RRI)
THE ATJEHNESE – Gelombang banjir besar kembali melumpuhkan hampir seluruh wilayah Kabupaten Aceh Utara. Pemerintah daerah mengeluarkan update informasi resmi pada Kamis (27/11/2025), menyampaikan bahwa intensitas hujan ekstrem serta meluapnya sejumlah sungai utama membuat berbagai kecamatan di Aceh Utara tenggelam dalam genangan yang kian meluas.
Bupati Aceh Utara melalui Juru Bicara Pemerintah Kabupaten, Tgk Muntasir Ramli, mengungkapkan bahwa kondisi banjir kali ini memberikan dampak luar biasa. Belasan sungai yang melintasi Aceh Utara—di antaranya Krueng Pase, Krueng Keureuto, Krueng Peutou, Krueng Pirak, Krueng Ajo, Krueng Sawang, Krueng Jambo Aye, dan Krueng Nisam—meluap bersamaan. Air memenuhi permukiman padat penduduk, merusak fasilitas umum, memutus jalan, menggenangi lahan pertanian dan tambak, serta menghentikan aktivitas ekonomi masyarakat.
Situasi diperparah dengan hilangnya jaringan internet (blackout) di sejumlah wilayah, membuat koordinasi evakuasi dan distribusi bantuan darurat tersendat. Petugas lapangan harus bekerja dengan komunikasi terbatas, sementara warga di lokasi-lokasi terisolasi semakin mendesak membutuhkan pertolongan.
Melihat eskalasi bencana, Pemerintah Aceh Utara menetapkan status siaga menjadi tanggap darurat banjir melalui surat keputusan Nomor 360/851/2025 yang ditandatangani Bupati H. Ismail A. Jalil, MM (Ayah Wa). Status tanggap darurat berlaku selama 14 hari, dari 25 November hingga 8 Desember 2025, untuk mempercepat langkah penanganan serta mobilisasi sumber daya penyelamatan.
Data Dampak Banjir: 19 Kecamatan Terendam, Puluhan Ribu Mengungsi
BPBD Aceh Utara merilis data sementara pada Rabu (26/11/2025), memperlihatkan betapa luasnya cakupan banjir yang melanda. Sebanyak 19 kecamatan masuk kategori terendam, dengan skala yang berbeda-beda, di antaranya:
- Tanah Jambo Aye: 22 desa terdampak
- Seuneddon: 20 desa
- Baktiya: 40 desa
- Muara Batu: 10 desa
- Langkahan: 8 desa
- Syamtalira Aron: 14 desa
- Samudera: 7 desa
- Baktiya Barat: 6 desa
- Lapang: 11 desa
- Dewantara: 16 desa
- Matangkuli: 4 desa
- Bandar Baro: 1 desa
- Lhoksukon: 28 desa
- Pirak Timu: 19 desa
- Sawang: 5 desa
- Nibong: 10 desa
- Tanah Luas: 1 desa
- Muara Mulia: 9 desa
- Kuta Makmur: 7 desa
Total warga yang terendam mencapai 46.830 jiwa (17.742 KK). Dari jumlah itu, 44.350 jiwa (14.713 KK) terpaksa mengungsi ke 35 lokasi berbeda. Di antara mereka terdapat kelompok rentan: 64 ibu hamil, 490 balita, 526 lansia, dan 12 penyandang disabilitas.
Kerusakan fisik juga cukup berat. Sedikitnya 13 rumah rusak berat, 67 unit rusak sedang, dan 50 unit mengalami kerusakan ringan. Lahan pertanian dan tambak pun tak luput dari dampak banjir—sebanyak 699 hektar sawah dan 571 hektar tambak ikut terendam. Selain itu, 9 titik tanggul sungai jebol, dan satu jembatan di Krueng Sawang putus, memutus akses antarwilayah.
Kebutuhan mendesak saat ini mencakup perahu evakuasi, makanan pokok, logistik masa panik, serta alat berat untuk mempercepat normalisasi sungai dan membuka kembali jalur yang terputus.
Dalam pernyataannya, aparat daerah menekankan bahwa masyarakat di banyak lokasi kini berada dalam kondisi sangat rawan, dan penanganan cepat harus dilakukan agar situasi tidak semakin memburuk. Diharapkan pemerintah pusat bergerak cepat memberikan dukungan dan bantuan tambahan bagi wilayah yang terdampak, mengingat luasnya area banjir dan besarnya jumlah warga yang membutuhkan pertolongan segera.
