Persiraja Tahan Imbang Garudayaksa, Sepak Bola Jadi Ruang Harapan di Tengah Abainya Negara pada Derita Aceh

0

Para pemain Persiraja saat merayakan gol Connor Flynn Gillespie pada menit ke-28. (dok/persiraja.id).

THE ATJEHNESE – Persiraja Banda Aceh harus puas membawa pulang satu poin usai bermain imbang 1–1 melawan tuan rumah Garudayaksa FC dalam lanjutan Pegadaian Championship 2025/2026 di Stadion Pakansari, Cibinong, Senin (29/12/2025). Namun lebih dari sekadar hasil pertandingan, laga ini menjadi cermin bagaimana sepak bola kerap menjadi ruang penghiburan di tengah derita masyarakat Aceh yang kembali dihantam bencana dan ketidakpastian.

Dalam pertandingan yang berlangsung terbuka dan penuh tensi, Persiraja sempat unggul lebih dulu melalui eksekusi penalti Connor Flynn Gillespie pada menit ke-28. Penalti diberikan setelah Matheus Machado dijatuhkan di kotak terlarang. Gol tersebut membawa harapan bahwa Laskar Rencong bisa pulang dengan tiga poin penuh.

Namun harapan itu sirna menjelang turun minum. Kelengahan lini belakang Persiraja pada situasi bola mati dimanfaatkan Garudayaksa FC lewat sundulan Raihan yang tak mampu diantisipasi kiper. Skor 1-1 bertahan hingga peluit akhir.

Pelatih Persiraja, Akhyar Ilyas, mengakui hasil tersebut mengecewakan namun tetap patut disyukuri. Ia menyebut pertandingan berlangsung terbuka dan penuh jual beli serangan.

“Pertandingannya cukup menarik, kedua tim sama-sama menyerang dan menciptakan banyak peluang. Kami bersyukur masih bisa membawa pulang satu poin,” ujar Akhyar seusai laga.

Namun di balik evaluasi teknis, Akhyar tak menutupi makna emosional laga ini. Menurutnya, pertandingan tersebut dijalani dengan beban moral yang besar, mengingat masyarakat Aceh tengah menghadapi berbagai musibah—mulai dari bencana alam hingga tekanan sosial yang belum kunjung reda.

“Kami datang dengan tekad ingin memberikan kemenangan untuk masyarakat Aceh yang sedang tertimpa musibah. Walaupun belum maksimal, satu poin ini kami persembahkan untuk mereka,” ujarnya.

Pernyataan itu seolah menjadi sindiran halus terhadap absennya negara dalam memberikan rasa aman dan kepastian bagi rakyatnya. Di saat masyarakat Aceh berjibaku menghadapi bencana dan dampak kebijakan yang timpang, para pemain justru berusaha menghibur lewat lapangan hijau—sebuah ironi yang tak bisa diabaikan.

Sementara itu, Matheus Machado mengakui bahwa timnya memiliki banyak peluang yang gagal dimaksimalkan. Ia menyoroti faktor konsentrasi sebagai pekerjaan rumah utama.

“Kami punya banyak peluang, tapi kurang fokus di beberapa momen. Ini jadi evaluasi penting agar ke depan kami lebih siap dan lebih matang,” ujarnya.

Hasil imbang ini membuat Persiraja harus kembali bekerja keras untuk laga-laga berikutnya. Namun lebih dari sekadar poin klasemen, pertandingan ini menjadi pengingat bahwa sepak bola di Aceh kerap menjadi satu-satunya ruang hiburan dan harapan di tengah situasi sosial yang tidak menentu.

Ketika negara kerap lamban hadir dalam menyelesaikan persoalan rakyat—dari bencana alam hingga ketimpangan kebijakan—sepak bola justru menjadi medium solidaritas. Namun, rakyat tak seharusnya terus bergantung pada hiburan untuk melupakan penderitaan. Yang dibutuhkan adalah kehadiran nyata negara, bukan sekadar sorak-sorai di stadion.

Persiraja mungkin hanya membawa pulang satu poin dari Bogor, tetapi pesan yang dibawa jauh lebih besar: di tengah keterbatasan dan luka sosial, Aceh masih bertahan, berharap, dan menunggu keadilan yang seharusnya menjadi tanggung jawab negara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *