Negara Tak Kunjung Hadir, Warga Singkil Utara Bangun Jembatan dari Batang Kelapa

0

Warga Desa Gosong Telaga Barat, Kecamatan Singkil Utara, Kabupaten Aceh Singkil, membangun jembatan darurat Anak Laut menggunakan batang kelapa sebagai bahan utama. Foto: (Dokumen warga).

THE ATJEHNESE – Ketika akses utama terputus dan bantuan tak kunjung tiba, warga Desa Gosong Telaga Barat, Kecamatan Singkil Utara, Kabupaten Aceh Singkil, memilih bertindak. Dengan gotong royong, mereka membangun jembatan darurat Anak Laut menggunakan batang kelapa sebagai bahan utama, sebuah upaya swadaya yang lahir dari keterpaksaan, bukan pilihan.

Pantauan di lokasi memperlihatkan ratusan batang kelapa sepanjang lima hingga enam meter ditumpuk di sekitar area pembangunan. Sebagian telah dibelah dan dipancang membentuk rangka jembatan, sementara lainnya baru diturunkan dari truk pengangkut. Pemandangan ini menjadi potret nyata daya juang warga yang harus menutup kekosongan peran negara dalam pemulihan infrastruktur pascabencana.

Jalur Anak Laut bukan sekadar lintasan biasa. Ia merupakan akses vital sekaligus urat nadi perekonomian masyarakat setempat. Putusnya jalur ini berdampak langsung pada mobilitas warga, distribusi hasil usaha, hingga akses layanan dasar. Namun hingga kini, warga masih harus mengandalkan inisiatif sendiri untuk memulihkan konektivitas.

Dampak sosial dari terputusnya akses ini terasa luas. Aktivitas ekonomi terhenti, sementara kegiatan pendidikan ikut terganggu. Anak-anak yang hendak berangkat ke sekolah terpaksa menunggu, atau menempuh jalur memutar yang lebih berisiko. Ironisnya, di tengah kondisi darurat ini, pembangunan jembatan permanen dari pemerintah belum terlihat nyata.

Di lokasi pembangunan, terlihat sebuah alat berat jenis ekskavator yang digunakan untuk membantu pemasangan dan penataan batang kelapa di tengah alur jembatan. Namun keterlibatan alat berat tersebut belum cukup menutupi fakta bahwa inisiatif utama tetap berada di tangan warga, dengan dukungan yang terbatas dan bersifat sementara.

Meski jembatan darurat ini belum rampung sepenuhnya, sebagian pejalan kaki sudah mulai melintas, terutama anak-anak sekolah yang terpaksa mengambil risiko demi melanjutkan pendidikan. Kondisi ini menegaskan betapa mendesaknya kebutuhan akan infrastruktur yang aman dan layak, bukan sekadar jembatan darurat dari batang kelapa.

Apa yang terjadi di Gosong Telaga Barat kembali membuka pertanyaan mendasar: mengapa masyarakat harus lebih dulu bergerak saat negara seharusnya menjadi yang terdepan? Dalam situasi bencana, gotong royong memang menjadi kekuatan sosial. Namun ketika gotong royong berubah menjadi satu-satunya penyangga keselamatan dan ekonomi warga, maka yang dipertaruhkan adalah tanggung jawab negara terhadap rakyatnya.

Warga berharap pemerintah segera turun tangan membangun jembatan permanen yang aman dan berkelanjutan. Tanpa langkah cepat dan konkret, jembatan dari batang kelapa ini akan menjadi simbol ketahanan warga sekaligus penanda absennya negara di saat paling genting.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *