Negara Absen, Warga Linge Bangun Jembatan Sendiri, Gotong Royong Jadi Satu-satunya Jalan Keluar dari Isolasi

0

Warga bergotong royong membangun jembatan Kala Ili di Kecamatan Linge, Aceh Tengah. Foto: Warga

THE ATJEHNESE – Ketika negara belum juga hadir dengan solusi nyata, warga Kemukiman Linge, Kabupaten Aceh Tengah, terpaksa mengambil alih peran penyelamat bagi dirinya sendiri. Secara gotong royong, warga dari Desa Linge, Jamat, dan Reje Payung membangun jembatan darurat dari kayu, setelah Jembatan Kala Ili, satu-satunya akses penghubung ke pusat kabupaten, rusak parah dan terbawa arus banjir.

Rusaknya jembatan permanen tersebut bukan sekadar kerusakan infrastruktur, melainkan pemutusan total urat nadi kehidupan masyarakat. Sejak jembatan hanyut diterjang banjir, akses warga ke luar kampung terputus sepenuhnya. Aktivitas ekonomi lumpuh, distribusi kebutuhan pokok tersendat, dan mobilitas warga terhenti.

“Jembatan Kala Ili ini satu-satunya akses kami ke kabupaten. Setelah banjir, jembatan terbawa arus dan kami terputus total,” ujar Saleh, warga Desa Linge, Selasa (23/12/2025).

Dalam situasi keterisolasian yang mendesak itu, warga tidak menunggu terlalu lama. Tanpa alat berat, tanpa anggaran negara, dan tanpa kepastian bantuan, mereka berinisiatif membangun jembatan sementara sepanjang sekitar 18 meter dengan lebar 1,5 meter. Jembatan tersebut hanya mampu dilalui kendaraan roda dua, namun bagi warga, itu sudah menjadi penyelamat utama untuk bertahan hidup.

Saleh menjelaskan, pembangunan jembatan darurat ini dilakukan demi memastikan keberlangsungan hidup masyarakat. Akses tersebut digunakan warga untuk menjual hasil kebun, membeli kebutuhan pokok, serta mengakses layanan dasar yang sebelumnya tertutup akibat banjir.

“Kalau tidak ada jembatan, kami tidak bisa ke kabupaten. Mau jual hasil kebun dan beli kebutuhan hidup sangat sulit,” ungkapnya.

Ironisnya, upaya penyelamatan ini justru lebih banyak ditopang oleh solidaritas warga dibandingkan kehadiran negara. Proses pembangunan jembatan kayu tersebut hanya dibantu oleh dua personel Bintara Pembina Desa (Babinsa), sementara dukungan teknis dan material dari pemerintah daerah nyaris tidak terlihat.

Kondisi ini memunculkan pertanyaan serius mengenai prioritas dan kecepatan respons pemerintah daerah dalam pemulihan infrastruktur pascabencana. Jembatan Kala Ili bukan sekadar fasilitas umum, melainkan akses vital yang menentukan hidup-matinya roda ekonomi masyarakat Linge. Namun hingga kini, warga masih harus bertaruh nyawa melintasi jembatan kayu seadanya.

Warga berharap pemerintah tidak sekadar mencatat kerusakan, tetapi segera membangun kembali jembatan permanen agar akses transportasi, distribusi logistik, dan perekonomian masyarakat dapat pulih sepenuhnya. Tanpa langkah konkret dan cepat, gotong royong warga hanya akan menjadi penyangga sementara atas kegagalan negara memenuhi tanggung jawab dasarnya.

Di Linge, banjir tidak hanya meruntuhkan jembatan
ia juga menyingkap rapuhnya kehadiran negara di saat rakyat paling membutuhkan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *