Saat Negara Lamban, FK Unimal Turun Langsung Layani Kesehatan Korban Banjir Aceh Utara

Fakultas Kedokteran Universitas Malikussaleh (FK Unimal), Minggu (21/12/2025) melaksanakan pelayanan kesehatan terpadu bagi masyarakat terdampak banjir di Desa Blang Reulieng, Kecamatan Sawang, Kabupaten Aceh Utara. (Foto/ Dok Unimal)
THE ATJEHNESE – Ketika dampak banjir masih membekas dan layanan dasar belum sepenuhnya pulih, Fakultas Kedokteran Universitas Malikussaleh (FK Unimal) kembali turun langsung ke lapangan. Melalui pelayanan kesehatan terpadu, FK Unimal menyasar warga terdampak banjir di Desa Blang Reulieng, Kecamatan Sawang, Kabupaten Aceh Utara, Minggu (21/12/2025).
Langkah ini diambil di tengah kenyataan bahwa banjir tidak hanya merusak rumah dan fasilitas umum, tetapi juga memicu krisis kesehatan yang kerap luput dari respons cepat pemerintah. Akses air bersih yang terbatas, lingkungan yang tercemar, serta menurunnya status gizi warga menjadi ancaman nyata, terutama bagi kelompok rentan seperti bayi, balita, ibu hamil, dan lansia.
Dekan FK Unimal, Muhammad Sayuti, menegaskan bahwa kehadiran institusi akademik di tengah masyarakat terdampak bencana merupakan bentuk tanggung jawab moral sekaligus kemanusiaan.
“Bencana banjir tidak berhenti pada kerusakan infrastruktur. Dampak paling serius justru terlihat pada kesehatan fisik dan mental masyarakat. Di titik inilah FK Unimal merasa wajib hadir, memastikan layanan kesehatan tetap berjalan dan kelompok rentan tidak terabaikan,” ujar Sayuti.
Dalam kegiatan tersebut, FK Unimal mengerahkan 14 dokter dosen, didukung dokter alumni, mahasiswa kedokteran, serta dokter koas. Tim medis memberikan pemeriksaan kesehatan umum dan menangani berbagai penyakit pascabanjir yang banyak ditemukan di lapangan, seperti infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), penyakit kulit akibat air kotor, gangguan pencernaan, hingga keluhan kesehatan ibu hamil dan anak-anak.
Temuan di lapangan menunjukkan bahwa banjir telah memperburuk kondisi sanitasi warga. Air yang tercemar lumpur dan limbah memaksa masyarakat menggunakan sumber air yang tidak layak, meningkatkan risiko penyakit berbasis lingkungan. Ironisnya, persoalan air bersih ini justru berlarut-larut tanpa penanganan sistemik dari pemerintah daerah.
Menyadari risiko tersebut, FK Unimal tidak hanya memberikan layanan kuratif, tetapi juga menjalankan pendekatan promotif dan preventif. Salah satu fokus utama kegiatan adalah penyediaan air bersih dan sarana pendukungnya bagi warga terdampak, sebagai upaya mencegah lonjakan penyakit menular pascabanjir.
Selain itu, tim FK Unimal juga melakukan intervensi gizi, terutama bagi bayi, balita, dan ibu hamil. Kegiatan meliputi skrining status gizi, edukasi gizi seimbang pascabencana, serta pemberian makanan tambahan dan suplemen. Langkah ini dinilai krusial, mengingat pengalaman bencana sebelumnya menunjukkan lonjakan kasus gizi buruk dan anemia kerap terjadi setelah banjir, terutama di wilayah pedesaan.
Kehadiran FK Unimal di Desa Blang Reulieng menjadi potret kontras antara inisiatif dunia akademik dan lambannya respons negara. Di saat pemerintah masih berkutat pada pendataan dan prosedur, tenaga medis dari kampus justru bergerak cepat menjangkau masyarakat yang membutuhkan pertolongan nyata.
Pelayanan kesehatan ini juga diperkuat melalui kolaborasi dengan Fakultas Kedokteran Universitas YARSI, yang turut bergabung dalam tim lapangan. Sinergi lintas perguruan tinggi ini memperluas jangkauan layanan dan menunjukkan bahwa solidaritas kemanusiaan masih hidup, bahkan ketika negara belum sepenuhnya hadir.
Bagi warga terdampak, kehadiran tim medis kampus bukan sekadar bantuan sementara, melainkan penyelamat di tengah ketidakpastian. Namun bagi publik, situasi ini memunculkan pertanyaan mendasar: mengapa layanan kesehatan darurat justru harus ditopang oleh inisiatif akademik, bukan oleh sistem negara yang seharusnya siap dalam situasi bencana?
Jika krisis kesehatan pascabanjir terus ditangani secara reaktif dan bergantung pada solidaritas sukarela, maka risiko wabah dan penurunan kualitas hidup warga akan terus menghantui. Apa yang dilakukan FK Unimal patut diapresiasi, tetapi sekaligus menjadi pengingat keras bahwa negara tidak boleh absen dalam menjamin hak dasar masyarakat atas Kesehatan terutama di saat bencana.
