Team Medis ARSSI Terobos Medan Ekstrem Antar Bantuan ke Bener Meriah, Negara Kembali Absen di Jalur Krisis

0

Rombongan ARSSI Cabang Aceh, saat perjalanan mengangkut bantuan Medis ke lokasi bencana di Kabupaten Bener Meriah via rute Gunung Salak Aceh Utara. Momen ini dibadikan Selasa 16 Desember 2025. (foto:dok.ARSSI).

THE ATJEHNESE – Di tengah lumpuhnya akses dan minimnya kehadiran negara di wilayah terdampak banjir bandang, Asosiasi Rumah Sakit Swasta Indonesia (ARSSI) justru tampil di garis depan. Organisasi ini berhasil menembus medan berat untuk menyalurkan obat-obatan vital dan tabung oksigen ke wilayah terdampak bencana di Kabupaten Bener Meriah, Aceh.

Bantuan tersebut berasal dari solidaritas jaringan rumah sakit swasta di seluruh Indonesia yang dihimpun oleh ARSSI Pusat, kemudian disalurkan melalui ARSSI Cabang Aceh. Di saat jalur distribusi bantuan pemerintah tersendat, ARSSI memilih mengambil risiko dengan mengerahkan armada sendiri menembus jalur rawan dan berbahaya.

Distribusi bantuan dilakukan pada Selasa, 16 Desember 2025, menggunakan truk logistik yang melintasi jalan KKA dan jalur Gunung Salak melalui Kecamatan Nisam Antara, Kabupaten Aceh Utara yaitu jalur yang dikenal rusak parah pascabanjir dan longsor. Perjalanan yang dalam kondisi normal hanya memakan waktu sekitar tiga jam, berubah menjadi belasan jam penuh risiko.

“Pada Selasa 16 Desember 2025, ARSSI Aceh berhasil mengantarkan langsung bantuan ke RSIA Azzalia Kabupaten Bener Meriah. Bantuan ini merupakan donasi pasca banjir bandang dari ARSSI Pusat dan para donatur. Kami fokus pada titik-titik pengungsian yang belum tersentuh bantuan,” ujar Zulkarnaen Said, Ketua ARSSI Cabang Aceh, kepada RRI Lhokseumawe, Senin (22/12/2025).

Selain obat-obatan dan tabung oksigen yang sangat dibutuhkan korban banjir, ARSSI juga menyalurkan bantuan bahan pangan pokok berupa mi instan, beras, dan minyak goreng. Bantuan tersebut diarahkan langsung ke fasilitas kesehatan dan lokasi pengungsian, tanpa seremoni dan tanpa klaim politis.

Namun laporan lapangan dari tim ARSSI justru memperlihatkan ironi yang memprihatinkan. Perjalanan dari Lhokseumawe menuju Bener Meriah memakan waktu hingga 12 jam, sementara perjalanan kembali bahkan mencapai 14 jam. Kondisi ini mencerminkan buruknya kesiapan infrastruktur darurat serta lemahnya respons pemerintah dalam memastikan jalur logistik tetap aman dan fungsional pascabencana.

“Kami bahkan harus menginap semalam di Bener Meriah karena kondisi perjalanan tidak memungkinkan untuk langsung kembali,” ungkap Zulkarnaen.

Situasi ini memunculkan kritik keras terhadap pemerintah daerah maupun pusat yang dinilai gagal memastikan akses kemanusiaan tetap terbuka. Ketika organisasi non-pemerintah dan asosiasi profesi harus berjibaku sendirian menembus medan ekstrem, pertanyaan mendasar pun mengemuka: di mana peran negara dalam menjamin distribusi bantuan bencana?

Seharusnya, dalam situasi darurat, negara hadir paling depan menjamin keamanan jalur, menyediakan armada logistik, dan memastikan bantuan menjangkau korban tanpa harus mengorbankan keselamatan relawan. Fakta bahwa perjalanan logistik kemanusiaan bisa memakan waktu hingga lima kali lipat dari kondisi normal menunjukkan kegagalan serius dalam manajemen pascabencana.

Aksi ARSSI ini menjadi bukti kuat bahwa solidaritas masyarakat sipil masih bekerja ketika sistem negara tersendat. Namun ketergantungan pada inisiatif non-negara tidak bisa dijadikan solusi permanen. Tanpa evaluasi menyeluruh dan perbaikan cepat oleh pemerintah, risiko keterlambatan bantuan akan terus mengancam keselamatan korban pada bencana-bencana berikutnya.

Di tengah pujian terhadap keberanian ARSSI, kritik terhadap pemerintah justru semakin menguat. Sebab dalam urusan nyawa dan kemanusiaan, ketidakhadiran negara bukan sekadar kelalaian melainkan kegagalan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *