23 Hari Terisolasi, Warga Umah Besi Bertahan dengan Jembatan Kayu Darurat di Tengah Lambannya Respons Negara

0

Satgas bangun jembatan darurat dengan mengunakan kayu balok untuk menyambungkan akses jalan dari Umah Besi menuju Tenge Besi, Kamis (18/12/2025). Foto@ Pendim Bener Meriah.

THE ATJEHNESE – Hingga lebih dari tiga pekan pascabencana alam, kondisi Jembatan Umah Besi yang menghubungkan wilayah Umah Besi dengan Tenge Besi, Kampung Ronga Roga, Kecamatan Pintu Rime Gayo, masih belum pulih. Kerusakan parah pada jembatan tersebut menyebabkan akses transportasi lumpuh total dan memaksa warga hidup dalam keterisolasian yang berkepanjangan.

Baru pada hari ke-23 setelah bencana, Satuan Tugas (Satgas) penanggulangan bencana di lapangan mulai membangun jembatan darurat berbahan kayu balok untuk menyambungkan kembali akses jalan dari Umah Besi menuju Tenge Besi. Pembangunan jembatan sementara itu dilakukan pada Kamis (18/12/2025), di tengah medan berat dan kondisi cuaca yang tidak bersahabat.

Langkah ini disebut sebagai upaya penanganan darurat untuk memulihkan konektivitas antarwilayah yang selama ini terputus. Namun, keterlambatan penanganan memunculkan kritik tajam dari warga yang menilai negara kembali hadir dalam format paling minimal: darurat, sementara, dan terlambat.

“Selama lebih dari tiga minggu warga harus bertahan tanpa akses layak. Distribusi logistik terhambat, aktivitas ekonomi terhenti, dan layanan darurat nyaris tidak bisa menjangkau wilayah ini,” ungkap seorang warga setempat.

Pihak Satgas menyatakan bahwa pembangunan jembatan darurat bertujuan mempercepat mobilitas masyarakat, memperlancar distribusi bantuan logistik, serta membuka kembali jalur layanan darurat. Pengerjaan melibatkan personel gabungan dari berbagai unsur yang tergabung dalam Satgas penanggulangan bencana.

“Jembatan ini memang bersifat sementara, tapi diharapkan bisa segera digunakan agar aktivitas warga kembali berjalan, khususnya untuk kebutuhan ekonomi dan distribusi logistik,” ujar salah satu perwakilan Satgas.

Meski demikian, fakta bahwa jembatan darurat baru dibangun hampir satu bulan setelah bencana memunculkan pertanyaan serius terkait kesiapsiagaan pemerintah daerah maupun pusat dalam merespons kerusakan infrastruktur vital. Wilayah Pintu Rime Gayo bukan kawasan terpencil yang baru pertama kali terdampak bencana, namun pola penanganan yang kembali bergantung pada solusi darurat menunjukkan minimnya perencanaan jangka panjang.

Pengamat kebencanaan menilai, pembangunan jembatan kayu darurat seharusnya menjadi respons awal dalam hitungan hari, bukan pekan. Keterlambatan ini tidak hanya memperpanjang penderitaan warga, tetapi juga berpotensi menimbulkan risiko lanjutan, termasuk keterlambatan evakuasi medis dan terhambatnya pemulihan ekonomi masyarakat.

Di lapangan, Satgas mengakui menghadapi tantangan berat berupa cuaca ekstrem dan medan yang sulit dijangkau. Namun kondisi tersebut justru mempertegas perlunya kesiapan infrastruktur yang lebih adaptif terhadap risiko bencana, bukan sekadar respons tambal sulam setelah kerusakan terjadi.

Pembangunan jembatan darurat di Umah Besi memang menjadi angin segar bagi warga yang telah lama terisolasi. Namun bagi masyarakat, solusi sementara tidak boleh menjadi jawaban akhir. Mereka menuntut komitmen nyata pemerintah untuk membangun jembatan permanen yang aman, kuat, dan tahan bencana, agar keterisolasian serupa tidak terus berulang setiap kali alam menguji.

Bagi warga Umah Besi, jembatan bukan sekadar bentang kayu di atas sungai. Ia adalah urat nadi kehidupan. Dan ketika urat nadi itu putus terlalu lama, pertanyaannya menjadi jelas: sejauh mana negara benar-benar hadir melindungi warganya?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *