Banjir Berulang Menghantui Kota-Kota Indonesia, Pakar Soroti Lemahnya Ketahanan Perkotaan

0

Banjir yang datang berulang menguji ketahanan kota, bukan hanya pada infrastruktur, tetapi juga pada kesiapan warganya untuk beradaptasi dan bangkit. (dok/RRI Lhokseumawe)

THE ATJEHNESE – Banjir yang terus berulang kini menjadi ancaman serius bagi banyak kota di Indonesia. Fenomena ini tidak lagi dipandang sebagai bencana musiman semata, melainkan persoalan struktural yang mencerminkan lemahnya ketahanan perkotaan dalam menghadapi perubahan iklim dan tekanan pembangunan. Wilayah dengan pertumbuhan penduduk pesat dan tata ruang yang belum adaptif tercatat sebagai kawasan paling rentan terdampak.

Dalam beberapa tahun terakhir, pola banjir di berbagai kota menunjukkan kecenderungan yang semakin sulit diprediksi. Curah hujan ekstrem yang kian sering terjadi, ditambah alih fungsi lahan yang masif serta sistem drainase yang tidak memadai, membuat banjir hadir hampir setiap tahun dengan dampak yang semakin luas. Aktivitas ekonomi terganggu, layanan publik lumpuh, dan kehidupan sosial masyarakat ikut terdampak setiap kali genangan meluas.

Berdasarkan data kebencanaan nasional, banjir menempati posisi teratas sebagai bencana yang paling sering terjadi di Indonesia dalam satu dekade terakhir. Laporan dari berbagai lembaga menunjukkan peningkatan signifikan frekuensi banjir perkotaan, khususnya di kota-kota besar dan kawasan penyangga. Selain menimbulkan kerugian materi, banjir berulang juga berdampak langsung pada kesehatan masyarakat, terganggunya akses pendidikan, serta penurunan kualitas lingkungan hidup.

“Banyak kota terjebak dalam siklus kerusakan yang sama dari tahun ke tahun. Banjir datang, kerusakan terjadi, perbaikan dilakukan seadanya, lalu banjir kembali terulang,” ujar seorang pengamat tata kota. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa penanganan banjir masih bersifat jangka pendek dan belum menyentuh akar persoalan.

Para ahli menilai, ketahanan kota tidak cukup hanya diukur dari keberadaan infrastruktur fisik seperti tanggul, kanal, atau saluran air. Lebih dari itu, ketahanan ditentukan oleh kualitas perencanaan, tata kelola pemerintahan, serta tingkat partisipasi masyarakat dalam mitigasi bencana. Konsep urban resilience atau ketahanan perkotaan menekankan perlunya pendekatan terpadu antara kebijakan tata ruang, sistem peringatan dini, dan kesiapsiagaan warga.

Kota yang tangguh, menurut para pakar, adalah kota yang mampu belajar dari setiap peristiwa banjir. Evaluasi menyeluruh terhadap penyebab banjir, perbaikan kelemahan sistem drainase, serta penyesuaian strategi pembangunan menjadi kunci agar risiko serupa tidak terus berulang. Tanpa perubahan pendekatan, banjir akan terus menjadi penghambat utama pembangunan perkotaan.

Sejumlah kalangan juga menyoroti perlunya pergeseran paradigma dalam penanganan banjir. Selama ini, respons pemerintah cenderung bersifat reaktif, fokus pada penanganan darurat dan pemulihan pascabencana. Padahal, tantangan banjir berulang menuntut strategi preventif yang lebih kuat dan berkelanjutan.

Investasi pada infrastruktur hijau, seperti ruang terbuka hijau yang berfungsi sebagai daerah resapan air, perbaikan drainase berbasis ekosistem, serta penguatan peran komunitas lokal dalam pengelolaan lingkungan dinilai sebagai langkah penting jangka panjang. Upaya ini tidak hanya bertujuan mengurangi dampak banjir, tetapi juga meningkatkan kualitas hidup warga kota.

“Ketahanan kota bukan sekadar kemampuan untuk pulih setelah banjir, tetapi kemampuan untuk mengurangi risiko sebelum bencana terjadi,” ujar seorang akademisi di bidang perencanaan wilayah. Dengan pendekatan yang terencana, kolaboratif, dan berbasis data, kota-kota di Indonesia diharapkan tidak hanya mampu bertahan menghadapi banjir, tetapi juga berkembang secara lebih aman dan berkelanjutan di tengah ancaman krisis iklim.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *