Akses Jalan di Aceh Masih Lumpuh di Banyak Titik, Longsor, Banjir, dan Putusnya Jembatan Picu Krisis Mobilitas Antarwilayah

Masyarakat memanfaatkan perahu untuk mobilitas, akibat terputusnya jembatan di Kecamatan Kuta Blang, Kabupaten Bireuen, pada Senin (1/12/2025). (Foto: Aldi)
THE ATJEHNESE – Sejumlah ruas jalan nasional dan lintas kabupaten di Provinsi Aceh hingga Rabu (3/12/2025) masih menghadapi kerusakan parah akibat banjir dan tanah longsor yang melanda sejak beberapa hari terakhir. Laporan lapangan yang dihimpun RRI memperlihatkan bahwa kondisi jalan di Aceh kini sangat bervariasi, mulai dari lancar hingga terputus total, terutama di wilayah tengah, barat, dan timur provinsi.
Ruas Banda Aceh–Pidie Stabil, Namun Akses ke Pidie Jaya–Bireuen Masih Kritis
Untuk jalur utama Banda Aceh–Pidie, arus kendaraan melalui Seulawah dilaporkan normal. Meski begitu, jalur alternatif melalui Laweung masih menunggu laporan lanjutan dari petugas. Akses dari Pidie menuju Pidie Jaya juga relatif lancar, tetapi kondisi berubah drastis saat memasuki ruas Pidie Jaya–Bireuen, di mana sebagian jalan masih terputus di Meureudu.
Warga yang hendak melintas terpaksa memutar melalui jalur belakang Meureudu. Namun, pengguna jalan diminta ekstra waspada karena kondisi Jembatan Batee Iliek kini tergolong rawan akibat tergerus arus banjir.
Bireuen–Aceh Utara Putus Total, Jembatan Darurat Mulai Dibangun
Situasi paling kritis tercatat di ruas Bireuen–Aceh Utara, yang terputus total di kawasan Kutablang. Jalur alternatif yang biasa digunakan masyarakat pun mengalami nasib serupa. Untuk mengatasi isolasi wilayah, tim teknis kini sedang membangun jembatan darurat demi memulihkan konektivitas dasar antara kedua kabupaten tersebut.
Sementara itu, jalur dari Aceh Utara menuju Lhokseumawe dan dari Lhokseumawe ke Lhoksukon–Panton Labu berada dalam kondisi normal dan dapat dilalui berbagai jenis kendaraan.
Timur Aceh Tetap Tergenang, Akses ke Sumatra Utara Masih Lumpuh
Di wilayah timur, banjir di Peureulak masih menutup sebagian ruas Aceh Utara–Aceh Timur. Meski demikian, kendaraan berchasis tinggi masih bisa melintas. Akses dari Aceh Timur–Langsa dan Langsa–Aceh Tamiang berada dalam kondisi aman.
Namun jalur vital Tamiang–Langkat (Sumatra Utara) masih lumpuh total. Kawasan Seumadam masih tergenang banjir dengan ketinggian mencapai 1,5 meter, menutup seluruh akses kendaraan.
Wilayah Pegunungan Aceh Masih Sulit Dijangkau
Kondisi terparah justru terjadi di dataran tinggi Aceh. Ruas Bireuen–Bener Meriah terputus penuh akibat longsor besar. Jalan Aceh Utara–Bener Meriah melalui jalur KKA hanya bisa dilewati kendaraan khusus seperti motor trail.
Di sisi lain, ruas Geumpang Pameu–Takengon masih tidak bisa digunakan, sementara jalur Sigli–Tangse–Geumpang mengalami amblas. Meski telah disiapkan jalur alternatif, akses tersebut tetap hanya bisa digunakan oleh pengendara bermotor trail. Untuk kawasan barat–selatan, jalur Abdya–Gayo Lues juga masih terbatas untuk pengguna jenis kendaraan yang sama.
PUPR Aceh: Empat Titik Longsor Diselesaikan, Jalur Gunung Salak Telah Tersambung
Dalam wawancara dengan RRI Banda Aceh, Sekretaris Dinas PUPR Aceh, Ahmad Ricky Soehady, menyampaikan bahwa tim lapangan masih terus bekerja tanpa henti di tengah cuaca ekstrem. Hingga Rabu sore, pihaknya telah menyelesaikan penanganan di empat titik longsor di sejumlah wilayah.
Ricky juga melaporkan bahwa perbaikan di jalur Gunung Salak, penghubung Aceh Utara dengan Bener Meriah, telah rampung, termasuk penyambungan badan jalan di sekitar kilometer 31. “Untuk jalur lainnya, kami terus mempercepat pekerjaan agar konektivitas antarwilayah dapat kembali normal sesegera mungkin,” ujarnya.
Pemulihan Mobilitas Jadi Kunci Distribusi Logistik
PUPR Aceh menekankan bahwa pemulihan akses jalan bukan hanya untuk kelancaran kendaraan pribadi, tetapi juga penting bagi distribusi logistik, penyaluran bantuan, serta mobilisasi petugas di wilayah-wilayah terdampak. Kondisi medan yang sulit, cuaca buruk, dan banjir yang belum sepenuhnya surut membuat proses pemulihan membutuhkan waktu dan kehati-hatian ekstra.
