Krisis Pascabanjir Aceh Tamiang Memburuk: Pengungsi Diserang Penyakit, Akses Medis Terputus

Aceh Tamiang porak-poranda akibat terjangan banjir bandang yang membawa bongkahan dan kayu gelondongan menghantam dan menimbun permukiman hingga tak berbekas. Foto: (Dok PWI Aceh Tamiang)
THE ATJEHNESE – Kondisi pascabencana banjir bandang yang melanda Kabupaten Aceh Tamiang kian mengkhawatirkan. Alih-alih membaik setelah air mulai surut, situasi kesehatan para pengungsi justru mengalami penurunan tajam. Laporan terbaru dari Ketua PWI Langsa, Putra Zulfirman, kepada Posko PWI Aceh Peduli Korban Banjir dan Longsor mengungkap bahwa penyakit mulai menyebar cepat di lokasi-lokasi pengungsian akibat lingkungan yang kotor, kurangnya fasilitas sanitasi, dan minimnya layanan medis.
Banjir besar yang melanda sejak 26 November 2025 ini telah memaksa ratusan ribu warga mengungsi. Ribuan rumah terendam, lahan pertanian rusak, dan beberapa warga dilaporkan meninggal. Meskipun sebagian wilayah mulai mengering, kondisi pengungsian justru berubah menjadi titik darurat kesehatan.
Pengungsi Mulai Terjangkit Penyakit Menular
Dari sejumlah titik pengungsian, warga melaporkan meningkatnya kasus ISPA, batuk, demam tinggi, penyakit kulit, gatal-gatal, hingga luka-luka terbuka akibat terbawa arus banjir. Anak-anak dan lansia menjadi kelompok paling rentan. Banyak dari mereka mulai mengalami keluhan pencernaan setelah terpaksa mengonsumsi air yang tidak layak minum serta makanan yang tercemar lumpur.
“Situasinya sangat berat. Anak-anak mulai batuk, ibu-ibu demam, sementara pasokan obat hampir tidak ada. Air bersih sangat sulit ditemukan,” tulis Putra Zulfirman dalam laporan resmi yang diterima Posko PWI Aceh Peduli.
Ia menegaskan bahwa risiko penyakit menular akan meningkat drastis jika suplai air bersih tidak segera dipenuhi. Kondisi pengungsian yang padat juga mempercepat penyebaran infeksi saluran pernapasan dan penyakit kulit.
Kebutuhan Mendesak di Lapangan: Bukan Lagi Sekadar Bantuan Pangan
Menurut asesmen PWI Aceh Peduli, kebutuhan utama korban banjir kini meluas jauh di luar bantuan makanan. Pengungsi membutuhkan dukungan dasar untuk menjaga keselamatan dan kesehatan:
- Air minum siap konsumsi
- Air bersih untuk keperluan harian
- Obat-obatan dasar, antiseptik, dan peralatan medis
- Tenda dan tempat tinggal sementara
- WC portable dan fasilitas sanitasi darurat
- Selimut, alas tidur, serta pakaian layak pakai
- Susu bayi, popok, pembalut, dan kebutuhan khusus perempuan
Sebagian besar wilayah terdampak menjadi sulit dijangkau karena jalan utama terputus. Jalur distribusi terhambat lumpur, longsor, dan sisa-sisa banjir. Bahkan beberapa desa terkepung air, sehingga mobilisasi bantuan hanya bisa dilakukan dengan perahu karet atau kendaraan tinggi.
“Banyak titik pengungsian berada di lokasi terpencil. Kalau tidak segera dikirimkan perahu karet atau akses alternatif, bantuan tidak akan sampai. Sementara penyakit terus menyebar,” tegas Putra Zulfirman.
Berjuang Dari Banda Aceh: Posko PWI Aceh Peduli Kerahkan Bantuan
Dari Banda Aceh, Posko PWI Aceh Peduli mengoordinasikan pengiriman obat-obatan, logistik, dan kebutuhan mendesak lainnya. Mereka bekerja sama dengan relawan daerah, lembaga kemanusiaan, serta pemerintah untuk memastikan suplai bantuan tidak terhenti meski beberapa jalur masih tertutup.
Koordinator Posko Bantuan Kemanusiaan PWI Aceh, Muhammad Saman, menyerukan agar semua elemen masyarakat ikut terlibat membantu pemulihan Aceh Tamiang.
“Kami sangat khawatir dengan kondisi kesehatan para pengungsi. Air bersih, obat-obatan, dan kebutuhan dasar harus tiba secepat mungkin. Jika tidak, ancaman penyakit bisa lebih mematikan daripada banjir itu sendiri,” ujarnya.
Banjir Besar 2025: Bencana yang Meninggalkan Ancaman Baru
Curah hujan ekstrem yang mengguyur Aceh selama beberapa hari, ditambah meluapnya sejumlah sungai besar, menyebabkan sedikitnya 18 kabupaten/kota di Aceh terendam banjir. Ribuan hektare sawah hancur, jembatan putus, dan puluhan ribu warga harus meninggalkan rumah.
Meski air sudah surut di beberapa titik, bahaya sesungguhnya justru semakin terlihat. Sampah banjir yang berserakan, air tergenang, dan minimnya sanitasi menjadi sarang penyakit. Para pengungsi yang sudah kelelahan secara fisik dan mental—menghadapi ancaman kesehatan serius tanpa suplai medis memadai.
Putra Zulfirman menambahkan bahwa banyak warga kini mulai mengalami trauma, terutama anak-anak yang kehilangan rumah dan harus tinggal di tenda darurat dalam kondisi minim fasilitas.
“Mereka lelah, dingin, lapar, dan sakit. Ini saatnya pemerintah pusat dan provinsi bergerak cepat mengirim tenaga medis tambahan dan memperkuat penanganan kesehatan di lapangan,” katanya.
Harapan Pengungsi: Bantuan Nyata dan Cepat
Warga Aceh Tamiang kini menaruh harapan besar kepada pemerintah dan berbagai lembaga kemanusiaan. Mereka membutuhkan lebih dari sekadar bantuan pangan; mereka membutuhkan jaminan keselamatan, kesehatan, dan pemulihan jangka panjang.
Sementara banjir telah surut, masalah pascabencana baru saja dimulai. Penyakit bisa menjadi ancaman kedua yang tak kalah mematikan. Tanpa intervensi cepat, krisis kesehatan dikhawatirkan memakan korban lebih banyak.
Aceh Tamiang membutuhkan perhatian segera dan waktu mereka semakin sedikit.
