Perahu Getek Terbalik Saat Subuh di Bireuen: Warga Panik, Upaya Penyelamatan Berlangsung di Tengah Arus Deras

0

Jembatan Kutablang yang terputus akibat banjir. Foto: (Munandar)

THE ATJEHNESE – Suasana masih pekat ketika sebuah perahu getek yang biasa menjadi tumpuan warga untuk menyeberangi Krueng Tingkeum di jalur Nasional Banda Aceh–Medan dilaporkan terbalik pada Kamis dini hari (4/12/2025). Insiden itu terjadi tepat di bawah Jembatan Kutablang, sekitar pukul 06.00 WIB, saat sebagian besar warga baru memulai aktivitas subuh.

Perahu yang datang dari arah timur, Gampong Kulu, sedianya membawa penumpang menuju Gampong Tingkeum di seberang barat sungai. Namun perjalanan rutin tersebut berubah menjadi kepanikan setelah perahu tak mampu melawan derasnya arus Krueng Tingkeum.

Seorang saksi mata yang ditemui Bithe.co menggambarkan suasana mencekam detik-detik perahu kehilangan keseimbangan.

“Masih gelap waktu itu. Arusnya kuat sekali. Perahu seperti tidak sanggup menahan tekanan air, lalu tiba-tiba terbalik,” ungkapnya.

Menurut saksi tersebut, para penumpang langsung terhempas ke sungai. Beruntung, sebuah perahu lain yang berada tidak jauh dari lokasi sigap bergerak melakukan pertolongan.

“Warga yang jatuh ke sungai segera diangkat satu per satu. Dari yang saya lihat, semuanya berhasil dibawa ke darat,” ujarnya menjelaskan.

Pihak Gampong Mengesahkan Peristiwa

Keuchik Gampong Kulu, Saiman, ketika dikonfirmasi, membenarkan bahwa insiden perahu getek terbalik memang terjadi di wilayahnya. Ia menyampaikan bahwa kecelakaan itu kemungkinan besar dipicu oleh muatan berlebih saat perahu melawan arus yang tengah kuat.

Meski demikian, Saiman mengaku belum dapat memastikan apakah terdapat korban jiwa dalam kejadian tersebut.

“Benar tadi subuh terjadi. Namun untuk informasi apakah ada korban, saya belum menerima laporan yang pasti,” jelasnya.

Hingga berita ini diturunkan, aparat gampong bersama warga masih melakukan pengecekan lanjutan untuk memastikan kondisi seluruh penumpang, termasuk kemungkinan adanya warga yang belum terdata.

Insiden ini kembali menyoroti ketergantungan masyarakat terhadap perahu getek sebagai sarana penyeberangan di sejumlah titik sungai di Aceh, terutama di kawasan yang belum memiliki jalur alternatif yang aman ketika debit air meningkat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *