BPBD Aceh Tengah: 234.710 Jiwa Terdampak, 2.218 Rumah Rusak, dan 52 Jembatan Putus Akibat Bencana Hidrometeorologi

Salah satu kampung di Aceh Tengah yang tertimbun longsor.(Foto: kiriman warga)
THE ATJEHNESE – Gelombang bencana hidrometeorologi yang melanda Aceh Tengah sejak 25 November hingga 4 Desember 2025 meninggalkan kerusakan besar yang mengguncang hampir seluruh wilayah kabupaten. BPBD Aceh Tengah merilis data terbaru yang menggambarkan betapa masifnya dampak banjir bandang, tanah longsor, serta luapan air sungai yang terjadi selama hampir dua pekan terakhir.
Dalam laporan resmi tersebut, tercatat 14 kecamatan terdampak, dengan total 234.710 jiwa mengalami gangguan akses, kerusakan rumah, kehilangan sumber air bersih, hingga terisolir akibat putusnya jaringan jalan dan jembatan.
Korban Jiwa dan Warga Terisolir
BPBD mencatat 23 warga meninggal dunia, sementara 24 orang lainnya masih dinyatakan hilang. Selain itu, ada 62.867 jiwa yang terisolir di 100 kampung, terutama di kawasan yang terdampak longsor berat dan kawasan aliran sungai yang tertutup material banjir.
Jumlah warga yang mengungsi juga meningkat signifikan. Sebanyak 35.706 jiwa kini bertahan di 99 titik pengungsian dengan kondisi fasilitas yang bervariasi, sebagian di antaranya masih membutuhkan suplai air bersih, makanan siap saji, obat-obatan, serta sanitasi yang memadai.
Kerusakan Infrastruktur: Jalan dan Jembatan Lumpuh
Laporan BPBD menunjukkan kerusakan infrastruktur yang sangat luas, di antaranya:
- 2.218 rumah rusak (ringan, sedang, dan berat)
- 83 ruas jalan kabupaten terputus
- 6 ruas jalan provinsi rusak berat
- 4 ruas jalan nasional terdampak
- 52 jembatan kabupaten ambruk atau tidak dapat dilalui
Kerusakan infrastruktur ini membuat banyak wilayah sepenuhnya terputus dari akses darat. Bantuan harus dikirim melalui jalur alternatif atau menggunakan perahu dan kendaraan off-road, sementara tim penyelamat terus berupaya membuka jalur-jalur vital untuk mobilisasi logistik.
Fasilitas Umum Lumpuh: Listrik, Air Bersih, dan Telekomunikasi Terputus
Seluruh 14 kecamatan terdampak mengalami kerusakan pada jaringan listrik, sistem distribusi air bersih, dan layanan telekomunikasi. Kondisi ini memperlambat proses evakuasi, pengiriman data, dan koordinasi antarinstansi.
Pada beberapa titik, warga harus mengandalkan lentera dan genset terbatas, sementara jaringan komunikasi baru mulai pulih di sebagian wilayah.
BPBD: Fokus pada Pembukaan Akses dan Pemulihan Cepat
Kepala Pelaksana BPBD Aceh Tengah, Andalika, ST, menegaskan bahwa skala kerusakan yang terjadi harus dipahami sebagai bencana besar yang membutuhkan kerja terkoordinasi dan berkelanjutan.
“Angka-angka ini menunjukkan betapa luasnya kerusakan yang terjadi. Fokus kami tetap pada pembukaan akses, penanganan pengungsi, dan percepatan pemulihan,” jelas Andalika.
Ia menambahkan bahwa pendataan terus diperbarui setiap hari, seiring dengan aktivitas pencarian korban, perbaikan akses darurat, serta distribusi bantuan yang masih berlangsung.
Pemulihan Jangka Panjang Masih Membutuhkan Waktu
Dengan banyaknya kampung yang masih terisolir dan kerusakan infrastruktur yang mencapai ribuan unit, proses rehabilitasi diperkirakan membutuhkan waktu panjang. Pemerintah daerah, BPBD, TNI, Polri, dan relawan masih bekerja di lapangan sepanjang hari, sementara masyarakat setempat bahu-membahu membersihkan rumah dan fasilitas umum.
Bencana kali ini menjadi salah satu yang terparah dalam dua dekade terakhir bagi Aceh Tengah, meninggalkan pekerjaan besar untuk memulihkan kehidupan warga ke kondisi normal.
