BPJN Aceh Ngebut Buka Akses Lintas Tengah, Jembatan Darurat Dikirim ke Gayo Lues – Kutacane

0

Foto udara Jembatan Beutong Ateuh Banggalang yang putus diterjang banjir bandang di jalan lintas tengah Nagan Raya-Aceh Tengah di Desa Kuta Teugong, Beutong Ateuh Banggalang, Nagan Raya, Aceh, Minggu (30/11/2025). (Foto: ANTARA FOTO/SYIFA YULINNAS)

THE ATJEHNESE – Upaya pemulihan akses pada jalur Lintas Tengah Aceh masih berpacu dengan waktu setelah banjir dan longsor besar merusak badan jalan di puluhan titik. Hingga Jumat (5/12/2025), sejumlah ruas penting antara Gayo Lues – Kutacane – Takengon masih belum bisa dilalui akibat kondisi jalan yang hilang terseret arus dan ambles diterjang banjir.

Kepala Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Aceh, Heri Yugiantoro, mengungkapkan bahwa kerusakan terparah berada di titik setelah Kota Cane, di mana sebagian badan jalan hanyut total sehingga jalur utama terputus.

“Sejumlah titik masih tidak bisa dilalui karena badan jalan hilang terseret arus,” ujar Heri dalam wawancara bersama RRI Banda Aceh.

Badan Jalan Hanyut, BPJN Bangun Jalur Sementara

BPJN Aceh bergerak cepat dengan melakukan penutupan aliran air yang memotong badan jalan, sebelum membangun jalur sementara (emergency lane) menggunakan timbunan batu dan tanah.

“Kita tutup dulu saluran airnya, kemudian membuat jalur sementara. Jika timbunan sudah stabil, baru kita rangkai jembatan darurat di lokasi tersebut,” kata Heri.

Dua unit jembatan darurat telah diberangkatkan menuju kawasan Gayo Lues, yang menjadi prioritas utama mengingat jalur ini merupakan akses vital distribusi bantuan ke wilayah-wilayah yang masih terisolir.

Akses Utama Belum Tersambung, Distribusi Bergantung Jalur Alternatif

Meski progres sudah berjalan, Heri menegaskan bahwa jalur Kutacane – Gayo Lues – Takengon belum tersambung sepenuhnya. Kerusakan terjadi di beberapa titik strategis setelah Kota Cane, sehingga kendaraan tidak dapat melintas sama sekali.

Untuk memastikan bantuan tetap menjangkau warga terdampak, BPJN mengarahkan distribusi logistik melalui jalur alternatif Blangkejeren – Babarot – lintas pegunungan. Jalur provinsi tersebut saat ini menjadi rute penyelamat bagi kendaraan pengangkut bantuan, meski medan yang dilalui berat dan rentan longsor susulan.

“Dari Kutacane belum bisa langsung tembus ke Blangkejeren. Tapi dari Blangkejeren masih bisa pakai jalan provinsi lewat lintas barat,” jelas Heri.

Logistik, Relawan, dan Peralatan Berat Terus Bergerak

BPJN menurunkan puluhan alat berat, teknisi, dan operator jalan di sepanjang titik kerusakan untuk mempercepat pembukaan akses. Aktivitas perbaikan ini berjalan siang dan malam mengingat jalur Lintas Tengah menjadi urat nadi bagi kebutuhan:

  • pergerakan logistik bantuan,
  • akses tim medis,
  • mobilisasi relawan,
  • serta jalur penghubung antar kabupaten di wilayah tengah Aceh.

Heri memastikan bahwa pemasangan jembatan darurat (bailey bridge) menjadi target utama dalam beberapa hari ke depan. Jembatan tersebut diharapkan mampu memulihkan konektivitas dasar meski belum permanen.

Tantangan Medan Berat Masih Menghambat Pembukaan Akses

Hujan yang masih turun di beberapa kawasan memperlambat proses perbaikan. Aliran sungai yang belum stabil, lumpur tebal, serta material kayu yang terus turun dari hulu menjadi tantangan besar bagi tim di lapangan.

Meski demikian, BPJN Aceh menegaskan komitmennya untuk terus bekerja hingga jalur vital yang menghubungkan Aceh Selatan, Gayo Lues, Aceh Tenggara, dan Aceh Tengah dapat kembali normal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *