Harga Cabai Merah di Takengon Anjlok Drastis Pascabanjir, Petani Terpuruk Akibat Penurunan Harga Hingga 80 Persen

0

Pedagang cabai saat menjajakan dagangannya di depan Masjid Kemili. Foto@RRI.

THE ATJEHNESE – Gelombang banjir yang melanda sejumlah wilayah Aceh Tengah dalam beberapa pekan terakhir tidak hanya merusak infrastruktur dan merendam lahan pertanian, tetapi juga memukul keras harga komoditas pertanian di tingkat petani. Salah satu komoditas paling terdampak adalah cabai merah, yang harganya anjlok tajam hingga mencapai titik terendah dalam beberapa tahun terakhir.

Di tingkat petani, harga cabai merah kini hanya Rp10.000 per kilogram, jauh dari harga normal sebelum banjir yang berada di kisaran Rp75.000 hingga Rp80.000 per kilogram. Harga itu langsung diterima pedagang dari petani tanpa proses tawar-menawar panjang—menandakan lemahnya daya beli pasar dan melimpahnya pasokan yang tidak terserap.

Sementara itu, di tingkat pedagang eceran, harga cabai dijual antara Rp15.000 hingga Rp20.000 per kilogram, tetap jauh di bawah harga sebelum bencana.

Pedagang Akui Penurunan Harga Sudah Terjadi Sejak Sepekan

Zuhri M. Ali, salah satu pedagang di Pasar Paya Ilang, mengungkapkan bahwa penurunan harga sudah berlangsung selama satu minggu terakhir. Banjir menghambat distribusi, memperpendek rantai pasok, dan membuat banyak wilayah tak mampu menyerap produksi petani.

“Sejak banjir ini, harga memang jatuh. Sudah sekitar seminggu,” jelas Zuhri kepada RRI pada Jumat (5/12/2025).

Cabai yang dijual para pedagang sebagian besar berasal dari petani lokal di wilayah Ketol serta beberapa sentra pertanian lain di Aceh Tengah. Normalnya, cabai dari daerah ini dipasarkan lebih luas ke kabupaten/kota lain, namun banjir membuat jalur perdagangan terganggu sehingga banyak hasil panen menumpuk di pasar lokal.

Tidak Hanya Cabai Merah, Harga Komoditas Lain Juga Anjlok

Penurunan harga tidak hanya terjadi pada cabai merah. Cabai nano, yang sebelumnya dijual Rp50.000 per kilogram, kini hanya dihargai Rp20.000, atau turun lebih dari 50 persen.

Komoditas lain seperti cabai hijau juga mengalami penurunan cukup signifikan. Harga yang biasanya berada di kisaran Rp45.000 per kilogram kini merosot menjadi Rp15.000 hingga Rp20.000 per kilogram.

Situasi ini membuat banyak petani di Aceh Tengah mengalami kerugian berlapis:

  • Panen tersendat karena lahan terendam banjir,
  • Kualitas cabai menurun sehingga tidak laku di harga normal,
  • Jalur distribusi terganggu sehingga komoditas menumpuk,
  • Harga jual anjlok hingga 70–80 persen.

Petani Harapkan Intervensi Pemerintah

Dengan jatuhnya harga secara drastis, petani di Aceh Tengah berharap adanya langkah cepat dari pemerintah daerah, mulai dari penyerapan stok oleh dinas terkait, stabilisasi pasar, hingga membuka kembali jalur distribusi dari daerah penghasil ke pasar regional.

Ketergantungan petani pada hasil panen cabai sebagai sumber penghasilan utama membuat tren harga saat ini menjadi pukulan ekonomi yang berat bagi keluarga petani.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *