Aceh Tamiang wilayah Paling Parah Terdampak Banjir, Bagaikan Tsunami

0

Situasi pasca banjir di Kota Lintang, Kecamatan Kota Kuala Simpang, Kabupaten Aceh Tamiang. Foto : Kiriman Warga.

THE ATJEHNESE – Derita panjang kembali menyelimuti Bumi Serambi Mekkah. Banjir bandang dahsyat yang menerjang Kabupaten Aceh Tamiang telah menyapu apa pun yang berdiri di hadapannya. Rumah warga, jembatan, fasilitas umum, ternak, hingga nyawa manusia hilang dalam sekejap. Ketika air surut, yang tersisa hanyalah hamparan lumpur pekat dan puing-puing kehidupan. Dalam kondisi mencekam itu, suara warga menggema meminta pertolongan bukan sekadar bantuan logistik, tetapi juga kepedulian yang nyata dari siapa pun yang masih memiliki hati nurani.

Sejumlah warga yang berhasil dihubungi menggambarkan situasi yang nyaris tak dapat dipercaya. “Semua habis,  bang… kami tidak tahu lagi harus makan apa. Sembako disapu banjir, toko-toko dijarah orang yang juga kelaparan. Kalau ada bantuan, tolong kirim segera ke Aceh Tamiang,” ujar Nahriah, warga yang selamat, dengan suara bergetar saat berbicara melalui sambungan telepon. Kondisi yang ia ceritakan bukan sekadar keterpurukan; ini adalah alarm kemanusiaan.

Di lapangan, relawan menyaksikan sendiri kenyataan getir tersebut. Banyak warga kini bertahan di lokasi seadanya, tanpa sedikit pun akses listrik, komunikasi, dan air bersih. Internet putus total. Mereka berjalan berjam-jam menuju Kota Langsa hanya untuk membeli sedikit bahan makanan atau mencari koneksi telepon demi memberi kabar kepada keluarga. Sementara itu, dapur umum yang mulai didirikan pemerintah disebut belum menjangkau wilayah terdampak secara merata.

Kota Lintang Hilang dari Peta, Rumah Rata dengan Lumpur

Dari berbagai unggahan di media sosial, terlihat jelas bagaimana kawasan Kota Lintang, Kecamatan Kota Kuala Simpang, tenggelam dalam kekacauan. Rumah-rumah yang dulu berdiri di tepian sungai kini lenyap, seolah digulung oleh raksasa tak kasatmata. Direktur Eksekutif Lembaga Advokasi Hutan Lestari (LembAHtari), Sayed Zainal, menyampaikan bahwa Kota Lintang kini tak ubahnya hamparan lumpur luas yang mematikan.

“Dari jembatan terlihat jelas Kota Lintang Bawah hilang. Rumah penduduk hilang total, rata dengan tanah,” ungkapnya dengan nada sendu. Ia menambahkan bahwa jumlah pasti bangunan yang hilang belum dapat dipastikan, namun secara kasat mata, kehancurannya sudah lebih dari cukup menggambarkan betapa hebatnya bencana ini.

Kondisi tersebut diperparah oleh tidak adanya jaringan listrik dan komunikasi. Aceh Tamiang seperti terputus dari dunia luar. Data resmi pemerintah daerah menyebut jumlah warga terdampak telah mencapai 310.480 orang di 12 kecamatan, sementara 53.835 kepala keluarga kini terpaksa mengungsi. Lebih memilukan lagi, jumlah korban jiwa telah bertambah menjadi 42 orang, dan angka ini dikhawatirkan bertambah seiring proses pencarian korban yang masih berlangsung.

Tragedi yang Menguji Ketahanan Aceh

Banjir bandang kali ini bukan sekadar peristiwa alam, melainkan tragedi kemanusiaan yang menelanjangi betapa rapuhnya kesiapsiagaan kita terhadap bencana. Banyak pihak menilai kerusakan parah ini terkait erat dengan maraknya pembalakan liar di hulu sungai selama bertahun-tahun. Kayu-kayu gelondongan yang kini berserakan di pemukiman warga seakan menjadi saksi bisu atas bagaimana hutan Aceh dibabat tanpa ampun hingga akhirnya menjerumuskan rakyat kecil ke dalam musibah yang tak berkesudahan.

Rakyat Aceh kembali harus membayar harga dari keserakahan segelintir pihak yang menggadaikan masa depan lingkungan demi keuntungan sesaat. Kini, ketika alam menagih balasan, masyarakatlah yang menanggung penderitaan paling besar.

Doa untuk Aceh: Dari Musibah Menuju Kedaulatan

Tangis dan duka warga Aceh Tamiang hari ini seharusnya menjadi renungan bagi seluruh pemangku kekuasaan. Di saat rakyat bertarung mempertahankan hidup mereka dari lumpur dan puing-puing, muncul satu harapan yang tidak pernah padam: semoga Allah segera mengangkat musibah ini dan menggantinya dengan masa kejayaan serta kedaulatan Aceh seperti dahulu kala, ketika tanah ini dihormati karena keteguhan, persatuan, dan marwahnya yang dijunjung tinggi.

Aceh telah berkali-kali diuji tsunami, perang, bencana alam, dan berbagai tragedi lainnya namun rakyatnya selalu berdiri kembali dengan tegap. Semoga kali ini pun demikian. Dari reruntuhan ini, Aceh akan bangkit, lebih kuat, lebih berdaulat, dan lebih dihormati.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *