Selamat MILAD AM / ASNLF ke 49

Foto Screenshot Video Warga
THE ATJEHNESE – 4 Desember kembali menghadirkan denyut emosional yang khas di Tanah Rencong. Seperti tahun-tahun sebelumnya, suasana hari itu diwarnai warna merah menyala di berbagai sudut gampong, meunasah, hingga persimpangan jalan. Bendera Aceh berkibar di halaman rumah warga, di warung kopi, di ladang yang sunyi, hingga di titik-titik pusat keramaian. Bagi banyak masyarakat, ini bukan sekadar kain dan warna: ia adalah penanda kenangan, jati diri, dan perjalanan panjang yang membentuk Aceh hari ini.
Pagi ini di kota Lhokseumawe, tepatnya di desa kandang berkibar bendera kehormatan dan kebanggaan orang aceh tersebut, berkibar diiringi lantunan adzan yg menggema sungguh menyayat hati mengingat korban yg pernah jatuh, dan hingga kini tidak pernah mendapatkan keadilan.
Militer Adalah luka terbesar rakyat aceh, Dimana Sebagian besar dari mereka pada masa lalu pernah membantai, menyiksa dan membunuh rakyat aceh dengan keji tanpa alasan yg mendasar, rakyat aceh tetap menanti suatu saat bisa Merdeka dan berdaulat seperti masa lalu yg pernah dimilikinya.
Pada momen yang oleh masyarakat dikenal sebagai Milad 4 Desember, udara terasa lebih sarat makna. Warga, terutama di kabupaten-kabupaten yang pernah menjadi titik panas masa lalu, menyambut hari ini dengan suasana khidmat. Di warung kopi, obrolan mengalir seperti sungai yang tak pernah kering: tentang sejarah perjuangan, tentang tahun-tahun kelam masa DOM, tentang keluarga yang hilang, tetapi juga tentang harapan terhadap masa depan Aceh yang damai dan bermartabat.
Bagi sebagian masyarakat Aceh, pengibaran bendera Aceh di hari ini adalah bentuk penghormatan pada perjalanan sejarah bangsanya, sebuah simbol yang mengikat memori kolektif. “Bendera adalah identitas bangsa aceh yg wajib dipertahankan dan dalam butir Mou Helsinki jelas terpatri, hanya saja Indonesia masih mengelak hingga hari ini dan tidak mau memberikan hak tersebut untuk terealisasikan.
Di beberapa daerah, anak-anak muda membagikan syair Aceh, hikayat, dan foto-foto sejarah di media sosial. Mereka menyebutnya sebagai upaya menjaga ingatan kolektif agar generasi baru paham dari mana Aceh datang dan bagaimana ia tiba di titik terendah seperti saat ini. Seni dan budaya kembali menjadi jembatan yang memelihara kebanggaan identitas tanpa mengguncang harmoni yang telah dibangun.
Suasana 4 Desember juga menjadi pengingat bahwa Aceh adalah daerah yang kaya identitas dari bahasa yang puitis, adat yang teguh, hingga keyakinan religius yang kuat. Semua itu tampak semakin terang di hari ini. Masyarakat menghidupkan kembali ungkapan “udeep beusare mate beu sajan” yg bermakna rakyat aceh harus saling setia hingga mencapai kemerdekaan.
Pada akhirnya, semangat rakyat Aceh yang terlihat dalam pengibaran bendera Aceh bukanlah tentang pertentangan, tetapi tentang menghormati sejarah dan memuliakan jati diri. Hari ini menjadi ruang bagi rakyat Aceh untuk menatap ke belakang dengan tegar, dan ke depan dengan kepala tegak. Di antara angin laut yang menyapu pesisir dan udara sejuk pegunungan, kibaran bendera itu tampak seperti bisikan masa lalu yang mengajarkan Aceh tetap berdiri, tetap bermartabat, dan tetap Aceh adanya.
Dan pada akhirnya kami mengucapkan “selamat MILAD ke 49 untuk AM /ASNLF Aceh” 1976 -2025.
