Bencana Aceh 2025: 1,5 Juta Warga Terdampak, 249 Meninggal, Pemerintah Didesak Bertindak Cepat di Tengah Dugaan Kerusakan Hutan

Deretan sepeda motor yang terparkir didepan rumah ibadah terkubur lumpur tebal dan hanya tampak spion di Kabupaten Pidie Jaya pasca bencana banjir, Rabu (26/11/2025). (Foto: Dok.Warga).
THE ATJEHNESE – Gelombang bencana hidrometeorologi yang sejak akhir pekan melanda sebagian besar wilayah Aceh kini memasuki fase kritis. Posko Terpadu Pemerintah Aceh pada Selasa malam (2/12/2025) merilis pembaruan data resmi yang menunjukkan betapa luas dan kompleksnya dampak banjir serta longsor yang menyapu 18 kabupaten/kota di provinsi tersebut.
Laporan yang dihimpun hingga pukul 20.00 WIB mencatat 249 warga meninggal dunia, disusul 227 orang masih hilang. Angka korban terdampak juga melonjak tajam, menembus 1.452.185 jiwa atau setara 229.767 kepala keluarga, menjadikan bencana ini salah satu yang terbesar dalam sejarah Aceh pasca-tsunami.
Dampak Meluas ke 3.310 Gampong
Menurut Posko Terpadu, curah hujan ekstrem yang berhari-hari mengguyur telah memicu banjir, longsor, hingga kerusakan infrastruktur yang tersebar di 229 kecamatan dan 3.310 gampong. Banyak wilayah yang sebelumnya tergolong aman, kini justru menjadi daerah isolasi akibat akses jalan terputus.
Tak hanya kehilangan tempat tinggal, warga juga menghadapi keterbatasan listrik, air bersih, dan akses pangan. Pihak posko mendeskripsikan kondisi ini sebagai “situasi darurat yang membutuhkan percepatan aksi lintas sektor.”
Korban Luka dan Pengungsian yang Membengkak
Selain korban jiwa, data menunjukkan 1.435 warga mengalami luka ringan, sedangkan 403 lainnya mengalami luka berat. Banyak korban cedera akibat tertimpa reruntuhan, arus banjir yang deras, hingga tabrakan material kayu dan puing.
Sementara itu, 828 titik pengungsian kini menampung 660.642 jiwa. Pemerintah mengakui masih terdapat wilayah yang belum tersentuh bantuan secara memadai akibat kondisi geografis dan akses yang tertutup longsor.
“Sebaran titik pengungsian yang luas membuat distribusi logistik harus lebih cepat dan lebih terencana. Banyak lokasi yang benar-benar terisolasi,” ujar pihak Posko Terpadu.
Kerusakan Infrastruktur dan Aset Warga
Kerusakan fasilitas umum dalam laporan terbaru dinyatakan “meluas dan signifikan”. Data awal mencatat:
- 138 unit perkantoran rusak
- 51 tempat ibadah terdampak
- 201 sekolah mengalami dampak langsung
- 4 pondok pesantren rusak
Pada sektor infrastruktur transportasi, terdapat:
- 302 titik kerusakan jalan
- 152 jembatan yang terdampak
Kerugian material juga mencakup 77.049 unit rumah rusak, 182 ekor ternak mati, 139.444 hektare sawah terendam, serta 12.012 hektare perkebunan hancur.
Di beberapa wilayah pedalaman, warga mendapati potongan-potongan kayu gelondongan terseret sampai ke halaman rumah dan pusat-pusat pemukiman. Temuan ini memicu dugaan kuat bahwa aktivitas penebangan liar turut memperparah dampak banjir dan longsor.
Musibah ini adalah murni akibat kesalahan manusia yang serakah dalam menebang pohon secara sembarangan, sehingga hutan kehilangan daya tahannya untuk menahan erosi dan limpahan air. Banyak warga menyaksikan sendiri bagaimana potongan kayu berukuran besar hanyut ke permukiman, menjadi bukti nyata kerusakan ekologis yang selama ini diabaikan.
Distribusi Logistik Masih Tertahan di Gudang
Pada sektor bantuan, Posko Terpadu melaporkan bahwa hingga hari kelima, cadangan logistik yang diterima sudah mencapai 8.703 unit (51.216 ton). Namun yang berhasil disalurkan baru 6.656 unit atau sekitar 28.605 ton, menyisakan 22.711 ton logistik yang masih tertahan di pusat penyimpanan.
Keterlambatan ini disebabkan medan yang sulit, beberapa wilayah terputus total, serta keterbatasan armada darat. Opsi distribusi udara tengah dipertimbangkan untuk mempercepat penyaluran ke daerah yang sulit dijangkau.
“Diperlukan identifikasi cepat terhadap hambatan di lapangan. Jika distribusi darat tak memungkinkan, jalur udara akan kita maksimalkan. Lanud sudah siap mendukung,” tegas pihak pemerintah.
Respons Pemerintah dan Tantangan Beberapa Hari ke Depan
Pemerintah memastikan bahwa fokus utama saat ini ialah:
- percepatan evakuasi korban hilang,
- pemulihan akses jalan dan jembatan,
- distribusi logistik secara merata,
- dan penyediaan hunian sementara yang layak.
Dengan kondisi cuaca yang masih tidak menentu, pihak Posko Terpadu mengimbau masyarakat tetap waspada karena potensi banjir susulan masih tinggi.
