Bencana Hidrometeorologi Aceh Melumpuhkan 1,5 Juta Warga

0

Infografis Update Data Bencana Aceh per Rabu (3/12/2025). Dok/Rizkigen

THE ATJEHNESE – Gelombang bencana hidrometeorologi yang melanda Aceh sejak awal pekan ini terus menunjukkan dampak yang kian meluas. Pos Komando Tanggap Darurat Bencana Hidrometeorologi Aceh dalam rilis resminya pada Rabu (3/11/2025) pukul 19.37 WIB melaporkan bahwa jumlah warga terdampak kini mencapai 1.599.740 jiwa, mencakup lebih dari setengah wilayah Aceh dan menjadikannya salah satu bencana terbesar dalam dua dekade terakhir.

Data terbaru tersebut menunjukkan kondisi yang sangat mengkhawatirkan: 305 warga dilaporkan meninggal dunia, sementara 191 lainnya masih hilang. Selain itu, 403 orang mengalami luka berat, dan 1.435 warga menderita luka ringan akibat serangkaian banjir, tanah longsor, dan luapan sungai yang terjadi secara beruntun di banyak kabupaten/kota.

Ratusan Ribu Warga Mengungsi

Derasnya hujan dan kerusakan yang meluas memaksa ratusan ribu warga meninggalkan rumah mereka. Posko mencatat 688.775 jiwa atau 174.476 Kepala Keluarga (KK) kini bertahan di 898 titik pengungsian yang tersebar dari Aceh Tamiang hingga Aceh Barat Daya.

Para pengungsi banyak yang hanya membawa pakaian seadanya. Sebagian besar lokasi hunian sementara masih kekurangan selimut, makanan siap saji, perlengkapan bayi, serta air bersih yang memadai. Tim relawan menyebut sejumlah titik pengungsian bahkan mulai mengalami tekanan psikologis karena kapasitas yang berlebihan.

Sebaran Dampak: 229 Kecamatan dan 3.310 Gampong

Skala bencana yang luar biasa terlihat dari cakupan wilayah terdampak. Sedikitnya 229 kecamatan dan 3.310 gampong (desa) kini mengalami kerusakan dan gangguan aktivitas harian. Beberapa daerah yang mengalami dampak paling signifikan meliputi Aceh Tamiang, Aceh Utara, Aceh Timur, dan Aceh Besar, empat wilayah yang kerap menjadi pusat aktivitas ekonomi dan distribusi barang di Aceh.

Kerusakan Infrastruktur: Jalan Terputus, Jembatan Ambruk

Di sisi infrastruktur, kerusakan yang ditimbulkan bencana kali ini sangat masif:

  • 78.076 unit rumah warga rusak sedang hingga berat
  • 201 sekolah, 4 pondok pesantren, dan 204 fasilitas kesehatan terdampak
  • 138 kantor pemerintahan serta 51 tempat ibadah mengalami kerusakan
  • 302 titik jalan dan 152 jembatan putus, melumpuhkan akses logistik di berbagai daerah

Tidak hanya itu, sektor pertanian yang menjadi tulang punggung ekonomi Aceh juga terpukul keras. Sedikitnya 55.404 hektare sawah dan 12.700 hektare perkebunan dilaporkan rusak. Para petani di Aceh Timur, Aceh Tamiang, dan Pidie menyebut musim panen dipastikan gagal.

Sementara itu, ternak warga yang menjadi sumber penghidupan juga turut terdampak, dengan 182 ekor ternak dilaporkan mati terseret arus.

Bantuan Mulai Mengalir, Namun Akses Masih Terhambat

Pemerintah pusat, pemerintah Aceh, TNI–Polri, dan sejumlah lembaga kemanusiaan kini terus berupaya menjangkau titik-titik yang terisolasi. Bantuan logistik dikirim lewat jalur darat, laut, hingga udara.

Helikopter Caracal milik TNI AU dikerahkan untuk menjangkau daerah berbukit dan lokasi yang terputus total, seperti Bener Meriah dan sebagian kawasan Takengon.

Sementara Kementerian Pertahanan telah mengirimkan:

  • 31 unit Starlink untuk komunikasi darurat
  • 20 unit perahu karet (LCR)
  • 32 unit genset

Peralatan tersebut disebarkan ke berbagai kabupaten untuk memastikan proses evakuasi dan penyaluran bantuan dapat berlangsung lebih cepat.

Upaya Penanggulangan Tambahan

Sejumlah langkah strategis juga tengah berjalan:

  • Operasi Modifikasi Cuaca (TMC) oleh BNPB–BMKG
  • Pembukaan jalur darurat di Simpang KKA–Bener Meriah
  • Pembuatan akses alternatif dari Bireuen ke Aceh Utara
  • Pendirian 19 dapur lapangan dan 8 dapur umum di Aceh Tenggara, Langsa, dan Pidie

Meski demikian, medan berat, cuaca ekstrem, dan minimnya akses membuat tim SAR masih menghadapi hambatan serius dalam mengevakuasi korban dan menyalurkan logistik ke daerah-daerah terisolasi.

Kondisi Masih Kritis

Hingga berita ini diturunkan, tim gabungan masih terus melakukan pencarian terhadap 191 warga yang dinyatakan hilang. Banyak keluarga masih menunggu kabar tentang orang-orang terkasih yang belum ditemukan, sementara sejumlah daerah dikabarkan masih dalam kondisi tergenang.

Badan Penanggulangan Bencana Aceh menyatakan bahwa situasi ini dapat memburuk jika curah hujan tinggi kembali terjadi dalam beberapa hari ke depan. Pemerintah mengimbau seluruh masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dan mematuhi instruksi evakuasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *