Aceh Mulai Benahi Sampah Pascabanjir, Warga dan Pemerintah Lakukan Pembersihan Massal

Pembersihan sampah pasca banjir yg dilakukan Dinas Kebersihan.
THE ATJEHNESE- Setelah banjir merendam sejumlah wilayah di Aceh selama beberapa hari terakhir, sisa-sisa material lumpur dan tumpukan sampah rumah tangga mulai diangkat dari kawasan permukiman. Suasana pagi di beberapa gampong tampak kembali hidup; petugas kebersihan bersama relawan terlihat bergerak dari satu sudut jalan ke sudut lainnya, mengumpulkan sampah yang menggunung di depan rumah warga.
Dari laporan Dinas Lingkungan Hidup, volume sampah pascabanjir tahun ini melonjak lebih tinggi dibanding kejadian sebelumnya. Posisi teratas didominasi oleh sampah rumah tangga, plastik, pakaian basah, hingga pecahan material kayu yang terbawa arus deras. Lonjakan ini disebut sebagai konsekuensi dari proses pembersihan rumah-rumah warga setelah air surut dan akses jalan kembali terbuka.
Di Gampong Banda Masen, Kota Lhokseumawe, suasana pemulihan juga tampak jelas. Ahyar, salah satu warga yang kediamannya ikut terendam, mengaku masih berjibaku menyingkirkan sampah yang berserakan di sekitar rumahnya. “Saya masih membersihkan sisa-sisa benda yang terbawa banjir. Ada juga dahan pohon yang patah dan terhanyut sampai ke halaman,” ujarnya saat ditemui pada Senin (01/12/2025).
Pemerintah daerah menilai bahwa penataan kembali lingkungan menjadi langkah mendesak untuk mencegah penyebaran penyakit serta memastikan drainase tidak tersumbat oleh sampah. Hingga hari ini, aktivitas pembersihan masih berlangsung di sejumlah titik yang menjadi kawasan terdampak paling parah. Otoritas lokal menargetkan seluruh proses penanganan sampah pascabanjir selesai dalam beberapa hari ke depan, meski beberapa titik diperkirakan memerlukan penanganan tambahan.
Di balik hiruk pikuk pembersihan dan pemulihan ini, muncul pula dorongan untuk melakukan introspeksi bersama. Bencana banjir—dan penumpukan sampah yang menyertai—menjadi pengingat penting bahwa masih ada pekerjaan rumah besar, baik bagi pemerintah maupun masyarakat. Perlu ditinjau kembali di mana letak kelemahan pengelolaan lingkungan, bagaimana sistem mitigasi dapat diperkuat, serta langkah apa yang harus dibangun agar situasi serupa tidak terus berulang. Musibah ini menjadi ruang evaluasi bersama: bagaimana kita menjaga lingkungan, memperbaiki infrastruktur, dan menyiapkan solusi jangka panjang demi masa depan Aceh yang lebih tangguh.
