Pasca Banjir, Warga Nisam Antara Masih Terisolasi Akibat Longsor Besar yang Memutus Akses Utama

Jalan yang terputus di Kecamatan Nisam Antara, Kabupaten Aceh Utara. (Foto: Kiriman warga Nisam Antara)
THE ATJEHNESE – Enam hari pascalongsor dahsyat yang melanda kawasan Nisam Antara, akses utama menuju sejumlah desa masih lumpuh total. Material tanah, batu besar, potongan pohon, hingga badan jalan yang ambruk membuat warga di wilayah terdampak tidak dapat keluar maupun menerima bantuan optimal dari luar.
Foto-foto dari lokasi memperlihatkan jurang longsor menganga selebar puluhan meter, tepat di tengah jalur penghubung antarkampung. Bagian aspal yang sebelumnya menjadi rute transportasi utama kini patah dan menggantung di tepi jurang, sementara di bawahnya terlihat aliran air bercampur lumpur yang terus menggerus sisa-sisa tanah.
Puluhan warga tampak berkumpul di sisi jalan, sebagian turun ke area longsoran dengan sangat hati-hati untuk mengecek kondisi tanah dan melihat kemungkinan jalur alternatif. Namun struktur tanah yang labil dan licin membuat upaya tersebut tidak mudah.
Menurut warga yang ditemui di lokasi, longsor terjadi setelah hujan deras mengguyur kawasan pegunungan selama beberapa hari berturut-turut. Material tanah yang jenuh air runtuh sekaligus, menyeret pepohonan dan memutus total badan jalan. Hingga hari keenam, belum terlihat alat berat masuk untuk membuka jalur atau membersihkan timbunan, sehingga mobilisasi bantuan logistik menjadi sangat terbatas.
Beberapa warga menyebutkan bahwa mereka harus menempuh perjalanan kaki melalui jalur kebun dan lereng curam untuk mendapatkan sembako, solar, obat-obatan, dan kebutuhan mendesak lainnya. Perjalanan tersebut tidak hanya jauh, tetapi juga sangat berisiko karena medan licin dan tidak stabil.
Warga berharap pemerintah segera menurunkan alat berat ke lokasi karena kondisi di lapangan semakin mendesak. Pasokan kebutuhan pokok mulai menipis, sementara cuaca di wilayah pegunungan Nisam Antara masih sering berubah mendadak. Selain itu, kabel listrik yang tampak putus di area longsoran menyebabkan beberapa kawasan mengalami gangguan listrik dan komunikasi.
Pada hari keenam ini, warga terus berjaga di sekitar lokasi longsoran sambil menantikan proses pembukaan akses. Mereka turut membantu mengarahkan pengguna jalan agar tidak mendekat, mengingat struktur tanah masih bergerak dan dikhawatirkan longsor susulan dapat terjadi kapan saja.
Longsor besar ini menjadi peringatan keras bagi seluruh pemangku kepentingan mengenai pentingnya mitigasi bencana di wilayah rawan lereng. Curah hujan tinggi, kondisi tanah gembur, dan minimnya drainase alami di kawasan perbukitan membuat risiko longsor semakin besar setiap musim penghujan.
