12 Tower Listrik Tumbang di Aceh, Pemulihan Terhambat Banjir dan Longsor, PLN Terapkan Pemadaman Bergilir

0

Jaringan sambungan listrik PLN Lhokseumawe. (Foto: Dok.PLN).

THE ATJEHNESE – Pemulihan layanan listrik di Aceh masih menghadapi kendala besar setelah bencana banjir dan longsor merusak jaringan utama di sejumlah kabupaten. Kepala PLN UP3 Lhokseumawe, Husni, mengonfirmasi bahwa sebanyak 12 tower transmisi ambruk akibat bencana hidrometeorologi yang melanda berbagai wilayah Provinsi Aceh sejak akhir November.

Tower yang tumbang tersebar di Kabupaten Bireuen, Aceh Tamiang, dan Bener Meriah. Selain itu, lebih dari 1.000 batang tiang listrik yang menghubungkan desa dan kecamatan ikut roboh, sementara ratusan gardu distribusi terendam air. Situasi ini menyebabkan aliran listrik di sebagian besar kawasan lumpuh total selama beberapa hari.

Meski demikian, upaya pemulihan bertahap mulai menunjukkan hasil. Hingga Sabtu (29/11/2025), PLN berhasil menyalakan kembali suplai listrik secara sementara untuk beberapa wilayah di Kota Lhokseumawe dan Kabupaten Aceh Utara, termasuk Kecamatan Dewantara (sebagian), Muara Satu, Muara Dua, Banda Sakti, Blang Mangat, dan Syamtalira Bayu.

“Seiring listrik mulai menyala, sambungan telekomunikasi lewat sinyal handphone juga ikut pulih, meskipun masih dalam durasi terbatas,” ujar Husni kepada RRI.

Komunikasi Masih Tersendat, Warga Mengandalkan WiFi Darurat

Di sejumlah lokasi, terutama Kecamatan Gandapura, Bireuen, konektivitas komunikasi masih jauh dari normal. Husni menjelaskan bahwa sinyal telepon GSM dan jaringan 4G kerap hilang–muncul, sehingga warga mengandalkan sambungan internet WiFi yang disediakan kantor PLN setempat.

“Ketika saya berada di Kantor PLN Gandapura, komunikasi masih bisa tersambung karena ada WiFi. Tapi begitu keluar dari kantor, sinyal langsung hilang seluruhnya,” ungkapnya.

Warga hanya bisa menggunakan layanan berbasis internet seperti WhatsApp untuk melakukan panggilan suara. Sementara panggilan telepon biasa hampir tidak bisa dilakukan karena jaringan belum stabil.

Pemulihan Jaringan Diperkirakan Perlu 1–2 Bulan

Mengingat skala kerusakan yang sangat besar, PLN memperkirakan dibutuhkan waktu satu hingga dua bulan untuk menormalkan kembali seluruh pasokan listrik, terutama pada jalur transmisi yang terdampak. Prioritas saat ini adalah memastikan lokasi yang sudah aman dapat segera dialiri listrik, sementara daerah dengan kerusakan parah akan ditangani bertahap menunggu akses memungkinkan.

Situasi pemulihan diperberat oleh fakta bahwa sejumlah personel PLN sendiri menjadi korban banjir dan longsor. Sebagian rumah pegawai rusak, sehingga proses penyebaran tenaga teknis tidak dapat berjalan maksimal.

Karena kapasitas operasi terbatas dan sebagian jaringan masih dalam perbaikan, PLN mengimbau masyarakat untuk siap menghadapi jadwal pemadaman bergilir demi pemerataan suplai listrik dan mencegah beban berlebih pada jaringan yang baru pulih.

Harapan Warga dan Tantangan Lapangan

Warga di wilayah terdampak berharap pemulihan dapat dipercepat mengingat listrik menjadi kebutuhan krusial, terutama untuk mengoperasikan alat komunikasi, penyimpanan makanan, penerangan, hingga keperluan medis. Namun medan berat, sisa banjir, serta longsor yang menutup ruas jalan membuat proses distribusi material listrik berjalan lambat.

PLN menegaskan bahwa seluruh tim lapangan bekerja maksimal, baik untuk memperbaiki tower transmisi, mengganti tiang yang tumbang, maupun merelokasi gardu yang masih tergenang.

“Kami berharap masyarakat bersabar. Kerusakan ini berskala besar dan membutuhkan pekerjaan teknis yang kompleks,” tutup Husni.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *