Tiga Santri Terseret Arus Sungai Alas, Satu Meninggal Dunia dan Satu Masih Dicari

0

Banjir masih genangi jalan dan rumah warga di Aceh Tenggara. Foto: (Dokumen warga).

THE ATJEHNESE – Hujan yang mengguyur kawasan Aceh Tenggara selama tiga hari berturut-turut membuat debit air Dasar Aliran Sungai (DAS) Lawe Alas meningkat tajam. Air yang semula mengalir tenang berubah menjadi arus cokelat pekat yang ganas, menyeret apa pun yang berada di jalurnya. Pada Rabu sore, tiga santri Pesantren Badrul Ulum Seldok, Kecamatan Ketambe, terseret arus Sungai Alas saat berada di tepi sungai.

Koordinator Basarnas Kutacane, Muhammad Amri, membenarkan kejadian tersebut dan mengungkapkan kondisi terkini upaya pencarian. “Satu korban ditemukan selamat, satu meninggal dunia, dan satu lagi masih dalam proses pencarian oleh tim gabungan,” ujarnya, Kamis (27/11/2025).

Korban selamat diketahui bernama Tio (15), santri asal Cempa Blangkejeren. Ia ditemukan dalam kondisi lemah di kawasan Kuta Pasir, Kecamatan Badar, setelah berhasil bertahan di antara derasnya arus. Saat ini ia menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Umum Sahudin.

Menurut keterangan awal yang disampaikan Tio kepada petugas, ia dan dua rekannya sedang berada di dekat bantaran sungai ketika arus mendadak meningkat. Mereka terseret bersama-sama, namun hanya Tio yang berhasil meraih batang kayu sebelum akhirnya diselamatkan warga yang melihatnya hanyut terbawa arus.

Tim SAR gabungan sejak pagi telah menyisir aliran Sungai Alas menggunakan perahu karet, tali keselamatan, dan pelampung tambahan. Medan yang sulit, air yang terus naik, serta cuaca yang belum stabil membuat pencarian berlangsung dengan penuh kehati-hatian.

“Kami dari SAR Kutacane terus melakukan pencarian menyusuri sepanjang aliran sungai. Setiap perkembangan akan kami sampaikan segera,” kata Amri.

Warga sekitar menilai bahwa bencana seperti ini semakin sering terjadi karena minimnya pengawasan di titik-titik rawan, termasuk area yang kerap dijadikan lokasi aktivitas warga maupun santri. Hal ini dikarenakan kurang cepatnya pemerintah menangani masalah ini secara serius, terutama dalam hal mitigasi di sepanjang daerah aliran sungai yang sudah lama diketahui memiliki potensi bahaya saat musim hujan.

Hingga malam hari, pencarian masih berlanjut, sementara keluarga korban dan masyarakat sekitar berharap kabar terbaik dari tim penyelamat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *