Hujan Lebat Picu Luapan DAS Krueng Woyla dan Meureubo, Dua Kecamatan di Aceh Barat Terendam Banjir

Banjir di wilayah Aceh Barat. Foto: (Dokuken BPBD Aceh Barat).
THE ATJEHNESE – Hujan deras yang mengguyur Kabupaten Aceh Barat sejak Rabu (26/11/2025) pagi membawa dampak nyata bagi sejumlah wilayah. Debit air di Daerah Aliran Sungai (DAS) Krueng Woyla dan Krueng Meureubo meningkat drastis, memicu luapan yang akhirnya merendam permukiman dan akses jalan di dua kecamatan.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Barat mencatat, banjir mulai masuk ke kawasan penduduk beberapa jam setelah hujan mencapai puncak intensitasnya. Kepala Pelaksana BPBD, Teuku Ronald Nehdiansyah, menjelaskan bahwa tim Pusdalops sejak awal telah mengantisipasi potensi banjir karena curah hujan yang tak kunjung mereda.
“Dari hasil pemantauan lapangan, hujan berintensitas tinggi yang disertai angin kuat membuat debit air di Krueng Woyla dan Krueng Meureubo naik cukup signifikan. Kondisi ini menimbulkan luapan di beberapa titik yang tidak mampu lagi ditahan tebing sungai,” ujar Ronald.
Menurutnya, wilayah yang pertama kali terdampak adalah Kecamatan Woyla, disusul Kecamatan Sungai Mas. Di Sungai Mas, dua desa—Kajeung dan Geudong—mengalami luapan paling besar. Air memasuki rumah-rumah penduduk dan merendam jalan utama, membuat warga harus berhati-hati saat bergerak.
“Rumah-rumah di Desa Kajeung mulai tergenang sejak siang. Air naik perlahan tapi pasti, mengikuti derasnya aliran dari DAS yang meluap,” kata Ronald.
Sementara itu, di Desa Geudong, banjir menyeret dampak yang lebih luas. Sebanyak 33 kepala keluarga tercatat terdampak langsung oleh tingginya genangan. Warga sebagian masih bertahan di rumah masing-masing, namun tim BPBD telah bersiaga apabila evakuasi diperlukan.
Ronald menambahkan bahwa debit air sungai hingga sore hari masih menunjukkan tren peningkatan. Kondisi ini membuat potensi banjir susulan tetap terbuka, terutama jika hujan kembali turun di hulu sungai.
“Kami mengimbau seluruh masyarakat di sepanjang bantaran Krueng Woyla dan Meureubo untuk waspada. Bencana seperti ini bisa berubah cepat, dan keselamatan warga adalah prioritas utama,” tegasnya.
Hingga laporan ini disusun, BPBD bersama perangkat desa terus melakukan monitoring serta pendataan di lapangan. Aparat juga menyiapkan perlengkapan darurat sambil menunggu perkembangan cuaca yang masih sulit diprediksi.
