Banjir Rob Rendam Pesisir Aceh Utara, Aktivitas Nelayan Lumpuh dan Harga Ikan Melonjak

0

Rumah Warga yang terkena Abrasi di Seunudon Aceh Utara. (foto: RRI/Mrz)

THE ATJEHNESE – Gelombang banjir rob kembali menghantam kawasan pesisir Aceh Utara dan menyebabkan sejumlah desa berada dalam genangan air sejak beberapa hari terakhir. Air pasang yang terus meningkat membuat rumah warga dan sejumlah ruas jalan utama tergenang, sehingga aktivitas harian masyarakat pesisir lumpuh total.

Warga mengaku kesulitan beraktivitas karena air laut yang naik secara mendadak telah memasuki permukiman. Kondisi ini bukan hanya menghambat pergerakan masyarakat, tetapi juga memberikan dampak besar terhadap sektor ekonomi di wilayah pesisir yang sangat bergantung pada hasil tangkapan laut dan budidaya tambak.

Muhammad Fazil, alumni UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe, saat dikonfirmasi pada Jumat (7/11/2025), menjelaskan bahwa banjir rob kali ini disertai gelombang tinggi sehingga nelayan sama sekali tidak bisa melaut. “Saat ombak meninggi seperti ini, perahu tidak dapat bergerak. Nelayan memilih berhenti melaut karena risikonya terlalu besar,” ujarnya.

Akibat tidak adanya pasokan ikan yang masuk ke pasar, harga ikan mengalami kenaikan tajam. Beberapa pedagang di wilayah pesisir bahkan mengaku kesulitan mendapatkan suplai karena sebagian besar tambak juga terendam banjir. Fazil menilai pemerintah daerah harus segera turun tangan, bukan hanya untuk penanganan jangka pendek, tetapi juga mencari solusi permanen agar ekonomi masyarakat pesisir tidak terus terpukul setiap kali banjir rob terjadi.

Selain persoalan aktivitas nelayan, warga turut mengkhawatirkan ancaman abrasi yang semakin parah. Gelombang besar yang datang bersamaan dengan banjir rob telah mengikis sebagian struktur pantai, memicu kerusakan pada rumah, kebun, dan tambak di garis pesisir.

Sekretaris Komunitas Pecinta Alam Kawe Pos, yang juga alumni UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe, menegaskan bahwa kondisi ini tidak bisa terus dibiarkan tanpa intervensi serius dari pemerintah. Ia meminta pemerintah daerah dan pemerintah provinsi segera membangun tanggul pemecah ombak sebagai langkah mitigasi jangka panjang.

“Jika tidak segera dibuat perlindungan pantai, abrasi akan terus berlanjut dan setiap musim pasang masyarakat akan kembali menjadi korban. Rumah, jalan, hingga tambak ikan akan terus mengalami kerusakan yang sama dari tahun ke tahun,” tegasnya.

Warga berharap pemerintah dapat merespons lebih cepat, mengingat banjir rob kini telah menjadi siklus rutin yang semakin sulit diprediksi. Mereka mendesak agar upaya penanganan tidak hanya berbentuk bantuan darurat, tetapi juga pembangunan infrastruktur pelindung pantai yang mampu menjamin keselamatan dan keberlangsungan hidup masyarakat pesisir Aceh Utara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *