Gelombang Tinggi Hantam Pesisir Lhokseumawe, Tanggul Simpang Pertamina Diterjang Ombak Pasang

0

Gelombang pasang yang melewati batas tanggul coran semen di tepi pantai kawasan Gampong Hagu Selatan, Kecamatan Banda Sakti, Kota Lhokseumawe. (foto:dok:warga).

THE ATJEHNESE – Sejumlah kawasan pesisir di Kota Lhokseumawe diterjang ombak pasang dalam tiga hari terakhir. Fenomena ini membuat warga dan pelaku usaha di sepanjang garis pantai Selat Malaka waspada, terutama pada malam hari ketika gelombang laut semakin menguat.

Salah satu titik yang paling terdampak adalah kawasan Pondok Bahari, lokasi favorit masyarakat untuk menikmati kuliner laut dan pemandangan pantai. Area ini berada di Gampong Hagu Selatan, Kecamatan Banda Sakti. Para pemilik kafe dan pedagang di kawasan tersebut mengaku cemas karena ombak tinggi beberapa kali mencapai daratan bahkan melewati tanggul pemecah ombak berbahan cor semen yang selama ini menjadi pelindung utama.

Kecemasan itu terekam jelas dalam beberapa video yang direkam warga pada Kamis malam, 21 November 2025, sekitar pukul 21.20 WIB. Dalam rekaman yang beredar di media sosial, gelombang besar terlihat menyapu area tanggul, membuat air laut melimpas hingga ke jalan dekat deretan tempat usaha setempat.

Fenomena tersebut dibenarkan oleh Prakirawan BMKG Bandara Malikussaleh, Aceh Utara, Khairendra Muiz. Dalam keterangannya kepada RRI pada Senin (24/11/2025), ia menjelaskan bahwa kondisi gelombang di Selat Malaka saat ini berada pada kategori berbahaya bagi aktivitas pelayaran dan penangkapan ikan.

Menurut Muiz, gelombang laut di kawasan itu kini dapat mencapai ketinggian lebih dari satu meter. Peningkatan ini dipicu oleh gangguan bibit siklon tropis yang tumbuh di perairan sekitar. “Gangguan bibit siklon menyebabkan gelombang lebih tinggi dari biasanya dan memicu pembentukan awan hujan,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa daerah yang berdekatan langsung dengan pesisir Selat Malaka akan merasakan dampak paling kuat. “Semakin ke arah Timur, intensitas ombak dan dampaknya akan semakin terasa,” jelasnya.

Kondisi ini membuat para nelayan memilih berhenti melaut sementara waktu demi menghindari risiko kecelakaan di laut. Sementara itu, para pemilik usaha di pantai berharap pemerintah dapat memperkuat struktur pelindung pantai agar kejadian serupa tidak mengancam usaha dan keselamatan masyarakat di kemudian hari.

Gelombang tinggi ini diperkirakan masih berpotensi terjadi beberapa hari ke depan. Warga pesisir diimbau tetap waspada, terutama pada malam hari ketika gelombang cenderung meninggi akibat dorongan angin dan pengaruh cuaca ekstrem.


Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *