Genangan Air di Blang Pulo Picu Kemacetan dan Kritik Pedas terhadap Kepemimpinan Pemkot Lhokseumawe

0

Kondisi Jalan Blang Pulo Lhokseumawe. (foto:dok/Furqan)

THE ATJEHNESE – Hujan deras yang mengguyur kawasan Muara Satu kembali memunculkan genangan besar di sekitar Masjid Blang Pulo pada Kamis malam (26/11/2025). Air yang meluap dari saluran drainase membuat jalan utama di kawasan itu praktis lumpuh, menyebabkan antrean kendaraan mengular sepanjang ratusan meter. Sejumlah pengendara bahkan nyaris terjatuh akibat permukaan jalan licin dan arus air yang mengalir deras.

Insiden ini bukan hanya menganggu arus lalu lintas, tetapi juga kembali menyoroti lemahnya manajemen infrastruktur dasar di Kota Lhokseumawe. Banyak warga menilai kondisi tersebut telah menjadi cerminan nyata kegagalan Pemkot dalam menangani persoalan drainase yang sejak lama keluhkan masyarakat.

Muhammad Furqan, Ketua Umum Lembaga Pers Mahasiswa Hukum Universitas Malikussaleh, mengemukakan bahwa banjir serupa tak pernah benar-benar diatasi. Menurutnya, Blang Pulo adalah contoh paling jelas bagaimana persoalan klasik berulang tanpa solusi konkret dari pemerintah.

“Setiap musim hujan, situasinya selalu sama. Begitu hujan turun sedikit lebih deras, kawasan ini langsung tergenang. Macet, aktivitas lumpuh, risiko kecelakaan melonjak. Namun pemerintah seolah menganggap ini hal biasa,” kata Furqan. Ia menegaskan bahwa tidak adanya rencana matang dan tindakan cepat dari Pemkot hanya menunjukkan kelalaian serta ketidakprofesionalan dalam mengelola kebutuhan dasar kota.

Furqan juga mengkritik pola penanganan pemerintah yang dianggap terlalu reaktif dan menunggu keadaan memburuk sebelum bergerak. “Setiap genangan yang merusak itu sebenarnya peringatan. Tapi pemerintah menunggu sampai masalah membesar. Ini keterlambatan yang tidak bisa lagi ditoleransi,” tambahnya tegas.

Ia meminta Pemkot melakukan evaluasi menyeluruh terhadap jaringan drainase kota, terutama pada titik-titik rawan genangan yang sudah diketahui sejak lama. Menurutnya, perbaikan tidak cukup hanya bersifat tambal sulam, melainkan harus melalui penataan ulang saluran air agar fungsinya pulih dan mampu menampung debit hujan pada musim penghujan.

Bukan hanya soal kemacetan dan risiko kecelakaan, Furqan mengingatkan bahwa genangan yang terus berulang dapat memicu masalah kesehatan akibat air kotor yang mengendap. Aktivitas ekonomi masyarakat di sekitar kawasan tersebut pun turut terdampak karena arus kendaraan melambat dan akses transportasi terganggu.

Warga berharap pemerintah bertindak cepat dan tidak hanya menunggu laporan dari lapangan. Di tengah kondisi cuaca ekstrem yang semakin sering terjadi, mereka menuntut kehadiran pemerintah yang responsif, sigap, dan benar-benar memahami urgensi perbaikan infrastruktur dasar demi keselamatan dan kenyamanan masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *