BPBD Aceh Utara Ingatkan Pentingnya Mitigasi Dini di Tengah Meningkatnya Ancaman Bencana Hidrometeorologi

0

Ns. Mulyadi S.Kep, M.Kes, (Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Aceh Utara) (dok/Program Bincang Pagi)

THE ATJEHNESE – Ancaman bencana hidrometeorologi seperti banjir, angin kencang, tanah longsor, abrasi, dan banjir rob kembali mendapat perhatian serius dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Utara. Dalam dialog utama program Lhokseumawe Pagi, Jumat (21/11/2025), Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Aceh Utara, Ns. Mulyadi S.Kep, M.Kes, menyampaikan pesan tegas mengenai urgensi mitigasi dini demi meminimalisir dampak bencana di wilayah Aceh Utara.

Mulyadi menegaskan bahwa Aceh Utara merupakan salah satu kabupaten yang paling rentan terdampak bencana musiman. Ia menyebut bahwa fenomena yang terjadi belakangan ini bukan hanya banjir berkala, tetapi juga angin kencang, abrasi pantai, serta banjir rob yang semakin sering melanda kawasan pesisir.

“Kita harus waspada, tidak boleh lengah. Bencana-bencana ini saling berkaitan dan dapat terjadi kapan saja. Kesiapsiagaan adalah kunci menghadapi ancaman tersebut,” ujar Mulyadi.

  • Kebersihan Lingkungan Jadi Pilar Utama Pencegahan

Dalam pemaparannya, Mulyadi menyoroti pentingnya peran aktif masyarakat dalam menjaga lingkungan sebagai langkah awal mitigasi. Ia mengajak warga untuk menjaga saluran drainase, membersihkan parit, dan tidak membuang sampah sembarangan karena hal-hal kecil ini dapat memicu penyumbatan air yang berujung pada banjir saat curah hujan meningkat.

Menurut Mulyadi, keberhasilan mitigasi tidak hanya bergantung pada sistem penanggulangan pemerintah, tetapi juga pada kesadaran kolektif masyarakat untuk merawat ekosistem sekitar.

“Pencegahan tidak akan efektif jika masyarakat tidak ikut ambil bagian. Lingkungan yang kotor akan memperparah dampak bencana,” tegasnya.

  • BPBD Tingkatkan Kesiapsiagaan: Dari Pemetaan Rawan Hingga TRC 24 Jam

Sebagai bentuk kesiapsiagaan, BPBD Aceh Utara telah melakukan pemetaan ulang daerah-daerah rawan banjir dan longsor di seluruh kecamatan. Koordinasi logistik juga diperkuat, termasuk penyiapan perahu karet, penentuan titik evakuasi sementara, dan penyediaan perlengkapan darurat.

Mulyadi memastikan bahwa Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Aceh Utara siaga 24 jam setiap hari untuk merespons laporan warga ataupun keadaan darurat yang muncul mendadak.

“Kita tidak menunggu bencana dulu baru bergerak. Semua persiapan harus matang agar saat terjadi bencana, respons lapangan dapat dilakukan tanpa hambatan,” jelasnya.

  • Peran Kepala Desa dan Jalur Informasi Darurat Sangat Vital

Di akhir dialog, Mulyadi memberikan penekanan khusus terhadap pentingnya jalur komunikasi darurat. Ia meminta warga agar tidak ragu menghubungi BPBD jika melihat tanda-tanda bencana. Ia juga menekankan peran kepala desa serta perangkat gampong sebagai garda terdepan dalam penyampaian informasi.

BPBD Aceh Utara, kata Mulyadi, berkomitmen memperluas sosialisasi, pelatihan, dan simulasi penanggulangan bencana dengan melibatkan masyarakat secara langsung. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan daya tahan (resiliensi) masyarakat terhadap berbagai risiko bencana di masa mendatang.

“Semakin cepat informasi diterima, semakin cepat kita bisa bertindak. Mitigasi bukan hanya tentang peralatan, tetapi tentang kesiapan bersama,” tutup Mulyadi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *