Pra Karantina Agam/Inong Aceh 2025 Dimulai: Disbudpar Tekankan Pembinaan Karakter, Disiplin, dan Nilai Kebangsaan

Kabid Pemasaran Disbudpar Aceh, Akmal Fajar. Foto: (Disbudpar Aceh).
THE ATJEHNESE – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh resmi membuka rangkaian Pra Karantina Pemilihan Agam/Inong Aceh 2025 di Rindam Iskandar Muda, Mata Ie, Sabtu (22/11/2025). Kegiatan yang berlangsung dua hari ini bukan sekadar tahap pendahuluan, melainkan proses penting untuk membentuk karakter dan mental para finalis sebelum memasuki masa karantina penuh.
Dalam kesempatan tersebut, Kabid Pemasaran Disbudpar Aceh, Akmal Fajar, menegaskan bahwa Pra Karantina merupakan momentum awal bagi para finalis untuk menyiapkan diri sebagai representasi generasi muda Aceh di panggung pariwisata. Ia menuturkan bahwa pembinaan kali ini tidak hanya fokus pada aspek fisik, tetapi menekankan kedisiplinan, kekompakan, dan etika sebagai fondasi utama.
“Pra Karantina ini bukan formalitas. Tahapan ini menjadi penyaring awal untuk melihat kualitas peserta, bagaimana mereka bersikap, bekerja sama, dan memahami tanggung jawab sebagai calon duta wisata daerah,” ujar Akmal.
- Pelatihan Ketat untuk Bentuk Karakter
Selama dua hari, peserta mengikuti sejumlah agenda intensif mulai dari baris-berbaris, materi Bela Negara, penguatan mental, pembinaan karakter, hingga jurit malam dan kegiatan outbound. Seluruh rangkaian dirancang untuk menguji ketahanan fisik sekaligus kemampuan peserta dalam bekerja di bawah tekanan.
Akmal menjelaskan bahwa Agam dan Inong Aceh bukan hanya ikon promosi wisata, tetapi figur yang mencerminkan nilai-nilai masyarakat Aceh. Karena itu, pembinaan moral, kemampuan bersosialisasi, serta pemahaman terhadap nilai-nilai adat dan budaya menjadi unsur penting dalam rangkaian pelatihan.
“Menjadi duta wisata itu tidak berhenti pada gelar atau penampilan di panggung final. Yang lebih penting adalah bagaimana mereka membawa energi positif dalam kehidupan sehari-hari dan menjadi contoh yang baik bagi lingkungan sekitarnya,” kata Akmal.
Ia menambahkan bahwa kegiatan ini menjadi ruang pembentuk kedisiplinan dan mentalitas para finalis. Agenda malam hari yang menguji stamina dan kerja sama tim disebut sebagai salah satu tahap penting untuk melihat apakah peserta siap mengemban tugas sebagai wajah pariwisata Aceh.
- Tantangan Baru bagi Duta Wisata Generasi Kini
Dalam sambutan lanjutan, Akmal mengingatkan bahwa tantangan duta wisata di era sekarang semakin kompleks. Tidak cukup hanya memahami destinasi dan budaya, seorang Agam atau Inong dituntut menjadi figur yang komunikatif, responsif terhadap isu-isu budaya, dan mampu menyerap aspirasi masyarakat.
“Duta wisata hari ini harus bisa menjadi jembatan antara budaya Aceh dan publik luas. Mereka harus memahami dinamika sosial, perubahan generasi, serta mampu menampilkan sisi Aceh yang ramah, modern, namun tetap berpegang pada nilai adat,” ujarnya.
- Penguatan Identitas Budaya Aceh untuk Generasi Muda
Di tengah pembinaan yang menekankan kedisiplinan dan karakter, Disbudpar Aceh juga menegaskan bahwa kegiatan ini menjadi sarana untuk menumbuhkan kecintaan terhadap budaya lokal.
“Seharusnya melalui event ini menjadikan budaya dan ciri khas budaya Aceh semakin kuat dan kental dalam generasi muda,” demikian penegasan yang juga disampaikan dalam rangkaian kegiatan tersebut. Pemerintah berharap finalis tidak hanya tampil sebagai duta pariwisata, tetapi juga penjaga nilai budaya dan identitas Aceh.
- Menyiapkan Representasi Aceh Masa Depan
Dengan berbagai tahapan pelatihan, Pra Karantina Agam/Inong Aceh 2025 diharapkan mampu melahirkan finalis yang berintegritas, berkarakter kuat, dan memiliki wawasan luas mengenai nilai kebangsaan, sosial, dan budaya. Para finalis nantinya akan membawa nama Aceh ke berbagai forum publik, sehingga kesiapan mental dan kemampuan komunikasi menjadi modal utama untuk menghadapi tekanan dan tuntutan tugas.
Kegiatan ini menjadi awalan penting menuju pemilihan Agam/Inong Aceh 2025 yang akan digelar beberapa pekan mendatang. Disbudpar optimistis bahwa proses pembinaan yang lebih ketat tahun ini dapat melahirkan duta wisata yang tidak hanya siap tampil, tetapi juga mampu menjadi inspirasi bagi generasi muda Aceh.
